Membangun Kepercayaan Global: Sertifikasi Halal di Thailand
Andika Priyandana | 31 Maret 2026
Sebagai salah satu negara Asia Tenggara pengekspor produk pangan terbesar dunia, Thailand mengembangkan sistem sertifikasi halal yang unik untuk memperluas pasar dan memperkuat kepercayaan konsumen global.
HalalReview.co.id – Dalam dua dekade terakhir, ekonomi halal global telah berkembang pesat, mencakup sektor makanan dan minuman, kosmetik, farmasi, hingga pariwisata. Menurut laporan State of the Global Islamic Economy 2023/24, nilai belanja konsumen muslim untuk produk halal diperkirakan mencapai US$ 2,29 triliun di 2022 dan terus tumbuh setiap tahun, didorong oleh peningkatan populasi muslim dunia dan preferensi terhadap produk-produk yang memenuhi prinsip kehalalan dan kebersihan (DinarStandard, 2023).
Thailand, sebagai salah satu pemangku kepentingan ekonomi halal, adalah kasus menarik. Meskipun Thailand merupakan negara dengan mayoritas nonmuslim, Thailand telah lama menempatkan dirinya secara strategis sebagai salah satu pemain utama dalam rantai pasok global produk halal. Negara ini dikenal sebagai “Kitchen of the World” karena kapasitas ekspor produk makanan olahannya yang besar dan terdiversifikasi (World Economic Forum, 2012).
Pada 2023, nilai ekspor produk halal Thailand diperkirakan mencapai lebih dari US$ 6 miliar, dengan target ekspansi yang agresif ke negara-negara berpenduduk mayoritas muslim seperti Indonesia, Malaysia, dan negara-negara di Timur Tengah. Thailand menetapkan strategi ekspansi ke pasar negara-negara muslim melalui promosi jenama halal nasional, seperti “Thailand Diamond Halal,” dan partisipasi aktif dalam pameran internasional seperti Gulfood Dubai dan Malaysia International Halal Showcase (MIHAS) di Malaysia. Produk pangan Thailand memiliki pasar yang besar di Indonesia, Persatuan Emirat Arab, dan Arab Saudi, dengan fokus utama pada makanan laut beku, produk unggas, dan bumbu instan (Thailand Board of Investment, 2023).
Thailand, jika kita menilik strategi ekspor produk pangan mereka, jelas memahami kebutuhan konsumen sesuai segmen yang dituju. Thailand memahami ada peningkatan permintaan produk halal tersertifikasi, sehingga kebutuhan akan sistem sertifikasi halal yang kredibel di Thailand menjadi mendesak. Sertifikasi ini tidak hanya berfungsi sebagai jaminan kehalalan bagi konsumen muslim, tetapi juga menjadi faktor penting dalam membuka akses ke pasar internasional yang ketat dalam regulasi halal. Oleh karena itu, pemerintah Thailand, bersama lembaga-lembaga seperti The Central Islamic Council of Thailand (CICOT) dan Halal Science Center (HSC), terus memperkuat infrastruktur sertifikasi halal untuk membangun kepercayaan pasar global dan meningkatkan daya saing ekspor nasional.
Struktur dan Mekanisme Sertifikasi Halal di Thailand
Sertifikasi halal di Thailand dikelola melalui kerja sama erat antara pemerintah, akademisi, dan lembaga keagamaan.. The Central Islamic Council of Thailand (CICOT) adalah lembaga utama yang berwenang menyusun peraturan dan mengeluarkan sertifikasi halal di seantero Thailand. CICOT bekerja sama dengan HSC di Chulalongkorn University, yang berperan melakukan verifikasi ilmiah terhadap kehalalan produk melalui pendekatan laboratorium modern (Halal Science Center, 2024).
Proses sertifikasi halal di Thailand diawali dengan pengajuan permohonan dari perusahaan produsen atau eksportir. Setelah itu, dilakukan audit terhadap seluruh rantai produksi, mulai dari bahan baku, proses pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi. Salah satu kekuatan sertifikasi halal Thailand adalah penggunaan teknologi analisis laboratorium oleh HSC Chulalongkorn University untuk mendeteksi keberadaan zat nonhalal atau kontaminasi silang. HSC mengembangkan sistem Halal Assurance System (HAS), yang memberikan jaminan bahwa produk memenuhi standar halal secara konsisten (Halal Standard Institute of Thailand, 2023).
Selain pemeriksaan produk, sertifikasi halal di Thailand juga melibatkan pelatihan untuk pegawai perusahaan tentang prinsip dasar halal, guna memastikan kepatuhan berkelanjutan dalam operasional sehari-hari. Setelah audit lapangan dan hasil laboratorium memenuhi syarat, CICOT akan menerbitkan sertifikat halal yang berlaku selama satu hingga tiga tahun, tergantung jenis produk dan skala perusahaan.
Dalam konteks ekspor produk pangan halal, CICOT sangat menyadari dan memahami bahwa negara-negara konsumen produk halal dapat memiliki standar dan definisi halal yang berbeda-beda. Pada situs CICOT, selain kita dapat membaca peraturan terkait sertifikasi halal dalam negeri, kita juga dapat menemukan informasi kriteria, kondisi, dan peraturan produk pangan halal untuk negara-negara seperti Türkiye, Persatuan Emirat Arab, dan Indonesia.
Pemerintah Thailand turut mendukung inisiatif ekspor melalui berbagai kebijakan yang mempercepat sertifikasi halal, termasuk pemberian insentif ekspor dan promosi produk halal internasional Thailand. Lembaga seperti Thailand Halal Assembly dan kegiatan semacam ASEAN Halal Expo (AHEX) di ASEAN Mall, Thailand, menjadi ajang penting untuk memperkenalkan kapabilitas halal Thailand ke pasar global.
Tantangan dan Peluang Sertifikasi Halal Thailand di Panggung Internasional
Meskipun Thailand telah membangun sistem sertifikasi halal yang terstruktur, negara ini masih menghadapi sejumlah tantangan dalam memperkuat kehadirannya di pasar halal global. Salah satu tantangan utama adalah harmonisasi standar halal internasional. Negara-negara seperti Malaysia melalui JAKIM, Indonesia dengan BPJPH, serta negara-negara di Timur Tengah memiliki standar sertifikasi yang relatif berbeda satu sama lain, sehingga sertifikasi dari Thailand tidak selalu langsung diakui di semua negara tujuan ekspor. Namun, isu harmonisasi standar halal internasional sebenarnya adalah isu yang dialami semua negara pengekspor produk tersertifikasi halal.
Tantangan lainnya adalah membangun kepercayaan di kalangan konsumen muslim, khususnya di negara-negara yang sangat memperhatikan asal-usul produk halal. Meskipun Thailand telah mengembangkan HSC untuk mendukung integritas sertifikasinya, persepsi konsumen terhadap kehalalan produk dari negara mayoritas nonmuslim tetap menjadi hambatan psikologis yang perlu diatasi melalui edukasi dan diplomasi halal.
Namun demikian, peluang yang terbuka juga sangat besar, mengingat Thailand bukan satu-satunya negara mayoritas nonmuslim yang mampu mengekspor produk tersertifikasi halal ke berbagai penjuru dunia. Banyak contoh sukses lainnya seperti Australia, Brasil, dan China Daratan. Thailand memiliki kesempatan untuk memperluas pasar halal ke Timur Tengah, Asia Selatan, termasuk kawasan ASEAN, mengingat reputasinya dalam kualitas produk makanan olahan dan inovasi teknologi halal. Selain itu, Thailand juga berupaya untuk mengembangkan sektor halal nonmakanan, seperti kosmetik halal, farmasi, serta wisata halal, sehingga memperluas kontribusi ekonomi halal secara keseluruhan (Aulia & Surwandono, 2024).
Dengan strategi diplomasi halal yang aktif dan inovasi berkelanjutan dalam teknologi sertifikasi, Thailand berpotensi semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pusat produksi halal global dalam dekade mendatang.
Artikel ini dipublikasikan dalam Majalah Halal Review Edisi 4/Mei – Juni/2025 yang dapat diakses melalui tautan berikut:https://ihatecpublisher.com/majalah/edisi04-meijuni-2025/