Halal: The Rising Hidden Value for Future Markets
HalalReview.co.id – Kondisi ekonomi global saat ini tengah bergejolak. Ketidakpastian ekonomi akibat kebijakan tarif agresif dari Presiden AS, Donald Trump (dikenal dengan sebutan Trump Tantrum) turut mengguncang pasar internasional. Di tingkat domestik situasinya tidak kalah menantang, seperti gelombang PHK, daya beli masyarakat melemah, pasar yang lesu, hingga penjualan menurun. Dalam kondisi ini juga pelaku bisnis dihadapkan tantangan berat untuk tetap bertumbuh atau paling tidak mempertahankan bisnisnya.
Tekanan ekonomi memaksa banyak perusahaan melakukan efisiensi. Banyak perusahaan yang terpaksa memangkas belanja iklan, mengurangi biaya promosi, hingga menyederhanakan kegiatan R&D. Bahkan, kegiatan riset pasar pun kerap dikorbankan. Padahal di tengah kondisi yang cepat berubah ini, pemahaman yang mendalam terhadap konsumen menjadi semakin krusial.
Pola konsumsi konsumen tidak lagi sama. Strategi pemasaran yang dulunya efektif, kini bisa jadi meleset. Di sinilah pentingnya membaca ulang peta persaingan dan memahami motivasi konsumen secara lebih mendalam. Salah satu potensi besar yang sering luput dari perhatian brand adalah nilai halal. Dengan populasi muslim global mencapai lebih dari 2 miliar jiwa (2024) dan lebih dari 245 juta jiwa di antaranya berada di Indonesia, halal bukan sekadar label, tapi sudah menjadi faktor yang dapat memengaruhi belanja konsumen. Halal telah bertransformasi menjadi simbol trust, kesehatan, kenyamanan, hingga nilai emosional, dan status. Ini adalah peluang strategis yang sangat relevan di tengah tantangan pasar saat ini.
Data dari IHATEC Marketing Research pada tahun 2023-2024 menunjukkan bahwa konsumen semakin sadar dan selektif dalam memilih produk. Label halal kini menjadi faktor penentu pembelian, bukan lagi sekadar preferensi. Gap kenaikan tertinggi terjadi pada kategori produk makanan dan minuman dengan selisih 13%. Artinya, semakin banyak konsumen yang menjadikan halal sebagai faktor utama dalam membeli produk.
Label halal juga memiliki dua nilai yang penting:
- Fungsional: menjamin kebersihan, keamanan, dan kualitas produk
- Emosional: memberikan rasa tenang, yakin, dan trust saat mengonsumsi produk

Sebagaimana kita tahu, pemerintah telah mengatur kewajiban pelabelan halal dan bahkan mewajibkan pencantuman keterangan Tidak Halal bagi produk yang mengandung bahan nonhalal. Lalu, bagaimana respons konsumen jika menemukan produk yang belum memiliki label halal?
Survei IHATEC Marketing Research (2023-2024) mencatat, persentase konsumen yang memilih mengganti ke produk halal lain meningkat dari tahun ke tahun. Konsumen yang menanyakan ke SPG untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai status kehalalan produk juga meningkat. Kemudian, mereka yang tetap membeli produk tanpa label halal justru menurun. Ini menunjukkan bahwa konsumen semakin kritis dan peduli terhadap kehalalan produk.
Sikap Konsumen Terhadap Produk Makanan & Minuman Belum Berlabel Halal

Survei 2024 juga mencatat peningkatan persepsi positif terhadap produk. Sebanyak 92% responden menilai produk halal sebagai produk yang diminati, 93% menyebutnya produk yang berkualitas dan sehat, 94% menyebutnya higienis, dan 95% merasa produk halal “mengandung kebaikan”. Bandingkan dengan tahun sebelumnya yang masih berada di kisaran 82–87%. Ini membuktikan bahwa label halal bukan hanya kewajiban regulasi, tetapi juga added value yang memperkuat citra positif brand.

Fakta menarik lainnya, sebanyak 64% konsumen bersedia membayar lebih untuk produk yang label halal. Dalam situasi ekonomi yang tak pasti ini, konsumen rela berinvestasi untuk mendapatkan rasa aman dan kepercayaan dari produk yang mereka konsumsi. Ini memperkuat positioning produk halal sebagai produk yang premium dan terpercaya.
Kategori produk yang dianggap paling penting untuk mencantumkan label halal dipimpin oleh kategori makanan dan minuman dengan persentase 94,4%. Di posisi berikutnya, restoran dan kafe dengan persentase mencapai 93,7%. Kehalalan produk personal care dan home care juga menunjukkan perhatian besar dari konsumen, dengan tingkat kepentingan sebesar 91,9%. Sementara itu, produk kosmetik menempati posisi terakhir dalam daftar ini, meskipun tetap mencatat angka yang cukup tinggi di 87,2%.


Saat motivasi membeli semakin kompleks, mulai dari emotional desires, social pressure, hingga personal value, halal mampu menjangkau berbagai aspek tersebut. Brand yang cerdas akan melihat halal bukan sekadar beban regulasi, tapi sebagai strategi diferensiasi yang strategis dan powerful, terutama untuk:
- Segmen premium yang semakin menghargai nilai etis dan kualitas.
- Produk kosmetik dan lifestyle halal yang terus tumbuh.
- Ekspansi ke pasar muslim global yang terus berkembang.
Label halal bukan hanya membuka akses pasar domestik, tetapi juga memperkuat daya saing di pasar muslim global. Brand yang mampu menjadikan halal sebagai bagian dari bisnisnya bukan hanya akan relevan di pasar lokal, tetapi juga siap tumbuh secara global dengan nilai yang otentik, kuat, dan berkelanjutan.
Artikel ini dipublikasikan dalam Majalah Halal Review Edisi 4/Mei – Juni/2025 yang dapat diakses melalui tautan berikut:https://ihatecpublisher.com/majalah/edisi04-meijuni-2025/