Mengasah Bilah Inovasi Pemasaran Produk Halal
Wahyu T. Setyobudi | 2 Maret 2026
Entah kenapa, buat saya, jalan-jalan mencari barang elektronik di toko tidak semenarik dulu. Mungkin karena shopping online di rumah memang lebih nyaman, tenang, dan tidak diburu-buru, atau karena serabut otot yang dibiasakan mager membuatnya enggan diajak berburu barang baru. Tapi nampaknya tidak buat istri saya. Belanja bukan sekedar mencari barang, namun lebih merupakan waktu me-time atau we-time yang ditunggu-tunggu. Beberapa waktu yang lalu, kita membutuhkan membeli rice cooker yang sudah masanya diganti. Petualangan di rimba elektronik pun dimulai. Sambil safari berbelanja, saya agak terkejut melihat kulkas yang berlabel halal. Baru tahu saya, ternyata barang seperti kulkas juga bisa mengadaptasi label halal. Dan dari bincang singkat dengan SPG, ternyata minat beli kulkas ini sangat besar salah satunya didorong oleh adanya label itu.
Mengadopsi label halal dalam produk elektronik merupakan salah satu inovasi halal yang cerdas. Ia ibarat pedang bermata dua, yang bilah pertamanya mengangkat preferensi konsumen Indonesia yang sebagian besar relijius, sementara bilah keduanya meletakkan standar baru bagi industri. Langkah yang baik, membirukan arena persaingan yang semakin hari makin merah. Disinilah inovasi label halal bisa menjadi game changer, atau order winner. Inovasi memang menjadi salah satu kunci sukses dalam persaingan di era baru, dimana disrupsi di mana-mana, mendorong dinamika bisnis menjadi sangat cepat dan terkadang membingungkan. Turbulensi, demikian kita menyebutnya.
Untuk menggambarkan inovasi seperti apa yang bisa kita lakukan, berikut saya menuangkannya dalam sebuah kerangka pikir sederhana. Menggunakan kerangka ini, kita bisa memahami cakupan inovasi yang mungkin bisa kita aplikasikan, atau mungkin sekedar mencari inspirasi, mengeksplorasi berbagai alternatif pengembangan yang mungkin disemaikan. Pada prinsipnya, terdapat 4 jenis inovasi yaitu inovasi produk, inovasi proses, inovasi pemasaran, dan inovasi berbasis keberlanjutan.

Kerangka Roda Inovasi Produk Halal (Setyobudi, 2024)
Bagian pertama yang paling dekat dan dengan mudah diperhatikan oleh konsumen adalah inovasi produk. Produk merupakan apa yang dibutuhkan atau diinginkan oleh konsumen, sehingga dampak inovasi biasanya langsung terasa pada peningkatan penjualan. Inovasi produk mencakup penambahan feature baru, atau sering disebut kebisaan produk. Feature seperti antibacteria pada AC, GPS tracker pada smartwatch, antiaging pada kosmetik, dan peningkatan imunitas pada obat herbal, itu semua mengarah pada penambahan kebisaan yang signifikan bagi konsumen. Selain itu, packaging juga bisa menjadi sumber inovasi. Mulai dari tingkat safety-nya, estetika, bahan pembuat packaging, serta penambahan label atau karakter tertentu untuk meningkatkan minat. Untuk melengkapi inovasi produk, pemasar halal juga bisa menambahkan varian rasa atau jenis, misalkan menambah varian rasa kurma sebagai pelengkap rasa coklat, strawberry, atau vanila yang sudah ada.
Berikutnya tak kalah penting adalah inovasi proses, atau inovasi yang berkaitan dengan produksi produk yang kita hasilkan. Inovasi proses dapat meliputi inovasi pada material yang digunakan untuk produksi, rekayasa proses produksi sehingga mencapai efisiensi yang tinggi, serta inovasi pada kualitas, mendorong hingga level terbaik di industri. Inovasi material perlu dilakukan untuk mendapatkan material terbaik dengan harga yang paling kompetitif. Inovasi bisa juga diarahkan untuk mencari sourcing baru, atau dengan pola kontrak baru dengan provider saat ini. Selain itu, inovasi di sisi proses bisa juga diperkuat pada aspek-aspek detil dari produksi seperti misalkan, penataan gudang sehingga memudahkan akses ambil dan taruh, penggunaan ban berjalan agar flow produksi lebih mengalir, serta sistem kontrol kualitas bertahap untuk mengurangi produk gagal. Intinya penerapan perbaikan berkelanjutan dengan tujuan kualitas dan efisiensi proses produksi.
Selain produk dan proses, ada juga inovasi marketing. Jika ibarat kado, tentu bungkus kado menjadi salah satu komponen penting. Demikian juga proses pemasaran yang meliputi channeling atau distribusi, komunikasi melalui berbagai media untuk menjangkau audien, inovasi layanan, serta inovasi di bidang penetapan harga. Sebagai contoh, dalam bidang komunikasi, saat ini channel live streaming media sosial sedang hangat-hangatnya. Kesempatan ini jangan disia-siakan. Pemasar dapat membuat berbagai challenge live streaming seusai kreativitas konsumen. Gaya komunikasi semacam ini akan menarik karena bersifat conversational, terbuka, dan mengakomodasi pendapat konsumen secara masif.
Terakhir namun tidak kalah pentingnya, inovasi juga bisa dilakukan pada aspek keberlanjutan, aspek jangka panjang yang menjamin keawetan perusahaan dalam menjalankan bisnis. Kita sadar benar bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin, yang artinya keberadaanya memberikan manfaat bagi seluas-luasnya makhluk. Oleh karenanya, dalam menjalankan bisnis, kita perlu berorientasi pada ESG (environment, social, dan governance). Memelihara lingkungan adalah wajib, dan dalam produksi tidak boleh mencemari lingkungan. Limbah berbahaya jangan dibuang sembarangan ke sungai, asap jangan dibiarkan dihembuskan ke udara tanpa proses pemurnian. Kemudian dalam merancang produk, perlu digunakan konsep D4E (design for environment) dimana sudah dipikirkan dampak produk pada lingkungan.
Demikianlah beberapa tipologi dan cakupan inovasi yang dapat dilakukan untuk mengasah bilah inovasi produk halal. Diharapkan, dengan mendorong inovasi produk, proses, marketing dan sustainability, pemasar produk halal mampu membedakan diri dalam persaingan, dan membangun keunggulan bersaing yang unik dan sulit ditiru pesaing. Salam sukses, berkah, dan pembaharu.
***
Artikel ini dimuat dalam majalah Halal Review 07/Juli/2024