Perspektif Label Halal – Antara Order Winner dan Order Qualifier
Dr. Wahyu T. Setyobudi, MM, ATP, CPM | Januari 2026
Generasi muda yang terdiri dari Gen Z dan milenial dapat dikatakan sebagai sleeping giant bagi pasar produk halal. Betapa tidak, jika dilihat dari komposisi jumlah penduduk, segmen ini telah berkontribusi lebih dari 53,81% dari seluruh jumlah penduduk Indonesia, dan terus bertumbuh. Sementara itu, preferensi generasi muda terhadap produk berlabel halal juga sangat menggembirakan. Merujuk pada hasil riset dari IHATEC Marketing Research, generasi muda menempatkan label halal menjadi faktor terpenting dalam membeli produk makanan dan minuman (27,7%), dibanding faktor lain seperti harga (21,6%), rasa (21,4%), dan faktor lainnya. Selain itu mereka juga rela membayar lebih mahal untuk mendapatkan produk tersebut. Dari dua sisi ini, jumlah dan daya beli, maka perhatian para pebisnis digital perlu diarahkan kepada pasar milenial, potensi yang belum dimaksimalkan.
Dalam hal inilah, peran label halal menjadi penting. Untuk mampu menembus segmen milenial dan pasar yang luas, diperlukan suatu kerja yang sistematis. Usaha ini pada prinsipnya ingin mengubah perspektif peran label halal yang semula hanya sebagai order qualifier menjadi order winner. Kita mengetahui order qualifier merupakan persyaratan suatu produk dapat ikut bersaing di pasar. Ia dapat diibaratkan misalnya sebagai tiket pendaftaran untuk ikut dalam perlombaan maraton. Namun ikut dalam lomba saja tidaklah cukup. Kita ingin bisa mendapatkan posisi yang baik, bahkan mampu unggul dibandingkan pemain lainnya. Untuk itu, label halal harus dimaksimalkan sehingga bisa menjadi suatu titik diferensiasi, yang mampu menambahkan nilai produk di mata pelanggan.
Dunia brand di Indonesia dipenuhi berbagai kisah sukses brand–brand yang berhasil luar biasa mengusung halal sebagai titik diferensiasi. Kurang afdhol kiranya, jika tidak menyebut Wardah, brand kosmetik yang sangat percaya diri mengibarkan kehalalan sebagai titik keunggulan, yang kemudian mampu mendisrupsi lansekap persaingan industri kosmetik. Atau beberapa restoran yang dengan percaya diri memasang banner halalan thoyyiban, besar-besar untuk menggambarkan keseriusannya membangun kehalalan produk. Nah jika belajar dari berbagai kisah sukses tersebut, maka saya menggambarkan sebuah framework yang kiranya bisa membantu apa saja yang diperlukan untuk menjadikan label halal sebagai titik keunggulan kita.
Kita patutnya membaca framework ini mulai dari tengah, titik intinya. Authenticity, atau secara mudah kita terjemahkan sebagai keaslian, tulus tidak bertopeng. Para pelaku bisnis yang hendak menjadikan kehalalan sebagai titik keunggulan perlu memiliki ketulusan, dan memang tidak boleh hanya membentuk image di depan publik, sementara di belakang berbeda wajah. Sebagai contoh, jika memang hendak memiliki citra halal, usahakan sepanjang model bisnis, konsep halal ini menjadi pertimbangan.
Bagaimana memilih partner yang sefrekuensi, cara menangani pelanggan, menyediakan fasilitas musala terbaik, pemilihan tutur dan aktivitas komunikasi yang juga mencerminkan nilai-nilai kehalalan. Ambil contoh teman-teman di Waroeng Steak & Shake yang kebetulan mendapatkan Top Halal Award 2023, secara berani mencanangkan religious culture dalam perusahaannya. Ini dikongkretkan dengan pengaturan waktu sholat, dzikir sebelum kegiatan, perjalanan umroh bagi karyawan, dan berbagai aktivitas lain sehingga budaya halal menjadi otentik dalam brand itu.
Kemudian level kedua adalah Best quality, yaitu tuntutan untuk menghadirkan produk dengan kualitas terbaik. Nilai halal sendiri mendorong kita, sebagai pelaku usaha untuk terus mencari perbaikan seperti yang sampaikan oleh Baginda Rasulullah, bahwa yang beruntung adalah siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin. Ini menunjukkan bahwa yang kita inginkan adalah halal sebagai konvensional plus, bukan malah konvensional minus, dimana pelanggan diminta memaklumi kekurangan produk yang penting halal. Halal harus berkualitas.
Berikutnya yang tak kalah penting adalah Immerse, yaitu kemampuan perusahaan untuk terjun memahami dinamika suasana batin pelanggan sehingga tahu persis apa yang diinginkan pasar, terutama Milenial dan Gen Z saat ini digempur habis-habisan dengan informasi melalui media sosial yang hampir tak bersaring. Usaha ini bisa dilakukan melalui market research yang kontinyu, monitoring media serta analisis tren yang terstruktur. Terakhir dimensi pengembangan adalah konversational, yaitu pendekatan dua arah yang memandang konsumen sebagai agen aktif yang perlu didengarkan. Konsep ini merupakan jaminan akan manifestasi nilai halal seperti keterbukaan dan kemanfaatan. Keterbukaan akan menjamin kemanfaatan. Oleh karenanya, percakapan dua arah menjadi kritikal dalam menciptakan label halal yang kuat.
Pada akhirnya, untuk menjalankan seluruh aktivitas itu, produk dengan label halal juga tercelup sempurna dalam dinamika lingkungan yang mengarah pada hiperkompetisi dan disrupsi digital. Kedua pressure factor ini membutuhkan faktor kunci sukses baru, yaitu kolaborasi, inovasi, dan agility. Konsep kolaborasi yang pertama adalah kolaborasi antar produk halal lintas sektor yang pada akhirnya jika digalang secara serius akan mengembangkan ekosistem halal yang harmonis dan sinergis. Brand restoran halal misalnya, cenderung mengarahkan untuk menggunakan transaksi pembayaran menggunakan bank syariah, ketika beriklan kolaborasi dengan agen yang memahami prinsip iklan yang halal, menunjuk brand ambasador yang memiliki gaya hidup islami, dan seterusnya.
Kemudian dari kolaborasi yang sevisi ini, kita bisa mengharapkan muncul inovasi. Hal-hal baru yang diciptakan baik dalam produk maupun proses, yang memberikan nilai tambah. Inovasi merupakan darah bagi pertumbuhan bisnis. Dan terakhir untuk menghadapi dinamika lingkungan yang berubah cepat, dituntut perusahaan untuk bisa gesit, tangkas, fleksibel dalam merumuskan dan menjalankan model bisnisnya. Inilah yang kita sebut sebagai agility.
Demikianlah framework yang bisa digunakan untuk mengangkat status label halal, bukan lagi sekedar kewajiban, namun menjadi inti strategi dan titik diferensiasi bagi brand-brand yang unggul di Indonesia. Halalan Thoyyiban, produk halal selalu terdepan. Salam pembaharu.
***
Artikel ini dimuat dalam majalah Halal Review 01/Januari/2024