Menata Jalan untuk Ekosistem Wisata Halal Berkelanjutan
Dr. Wahyu T. Setyobudi Binus Business School | 18 Februari 2026
Matahari jam sepuluh Bandara Zainuddin Abdul Majid menyapa hangat, terasa seperti sahabat lama yang baru bertemu kembali. Kedatangan saya ke Pulau Lombok bulan lalu memang bukan yang pertama. Mungkin dalam lima tahun terakhir ini, 3 kali saya memenuhi undangan ke Lombok. Saya tidak pernah memaknainya sebagai kebetulan semata, melainkan suatu resonansi alam yang sesuai dengan aspirasi yang kita bisikkan kepadanya. Memang bepergian ke Lombok bagi saya selalu mendatangkan pengalaman yang nyaman. Selain karena makanannya yang sebagian besar halal, juga budaya masyarakat yang dibangun menyatu dengan syariah Islam, sehingga terasa seperti rumah sendiri. Masjid-masjid di tengah sawah, nampak asri menghiasi perjalanan sepanjang bandara menuju kota Mataram. Sungguh menyejukkan pandang, pikir, hingga menembus ke hati.
Dalam kaitan dengan wisata halal, Lombok dapat dikatakan contoh terbaik. Hal ini ditunjukkan oleh nilai tertinggi yang diberikan oleh lembaga pemeringkat Crescent Rating Mastercard dalam Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) tahun 2019 yang menempatkan Lombok dalam jajaran teratas pengembangan wisata muslim Indonesia. Tak heran, dalam empat kriteria yang ditetapkan yaitu aksesibilitas, komunikasi, lingkungan dan tingkat layanan, memang secara umum Lombok mumpuni. Dalam tulisan ini saya tak hendak mengulas bagaimana pariwisata lombok secara mendetail, karena akan menjadi spoiler buat sahabat yang belum pernah ke sana, namun yang lebih penting adalah bagaimana caranya sebuah daerah dapat membangun landasan yang kokoh bagi pariwisata halal tersebut.
Berikut saya ramu suatu kerangka yang dapat meletakkan dasar bagi pembangunan ekosistem pariwisata halal yang berkelanjutan. Terdapat tiga building blocks utama yaitu foundation, process, dan enabler. Ketiganya saling terkait dan bersinergi untuk membentuk suatu ekosistem yang harmonis.

Framework Membangun Ekosistem Wisata Halal Berkelanjutan (Setyobudi, 2024)
Building block pertama adalahfoundation, suatu faktor yang merupakan keharusan atau syarat perlu. Ia adalah batu pijakan bagi rumah yang dibangun, menentukan seberapa kokoh sistem mampu bertahan melawan waktu dan gangguan. Fondasi yang pertama adalah service mindset, pola pikir melayani yang mewujud dalam tata perilaku dan budaya. Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa budaya masyarakat Indonesia adalah salah satu budaya yang sangat dermawan dan memperhatikan orang lain. Dahulu semasa saya kecil, dalam perjalanan melewati desa-desa tak pernah kita khawatir kehabisan air dan makanan, sebab masyarakat desa gemar meletakkan kendi di depan rumah, bahkan tak enggan mengajak makan para pelancong.
Namun demikian, untuk menjadi sepenuhnya terbuka bagi pariwisata, masyarakat seringkali masih enggan dan takut. Mempersiapkan mental suatu masyarakat untuk menjadi tuan rumah yang membuka tangan kepada wisatawan adalah pekerjaan rumah pertama yang harus dituntaskan sebelum meningkat ke tahap yang lain. Kemudian faktor kedua dalam tahap foundation adalah ketersediaan dan kualitas infrastruktur. Kualitas transportasi dan akomodasi merupakan titik krusial yang perlu diperbaiki untuk suatu daerah mampu hidup dari pariwisata.
Jika landasan sifatnya kontinyu dan menyeluruh, maka di tahap process adalah kebalikannya, perlu dilakukan langkah demi langkah, sistematis dan bertahap. Pada awalnya perlu dilakukan pemetaan potensi pariwisata yang komprehensif. Disinilah tahap eksplorasi variabel budaya setempat, bentang alam, hasil kerajinan, atau event unik dan menarik yang dimiliki oleh suatu daerah tertentu. Untuk menilai prioritas wisata yang akan dikembangkan, layaknya kita menggunakan dua ukuran utama yaitu daya tarik, dan potensi pengembangan. Dikarenakan sumber daya yang terbatas, usaha untuk pengembangan diarahkan dahulu kepada suatu destinasi yang memiliki daya tarik, dan memiliki potensi pengembangan yang tinggi.
Berikutnya, mulai merancang pengalaman seperti apa yang akan dirasakan oleh pengunjung. Dalam hal ini perlu kita menggunakan visitor based view, atau melihat dari kacamata pengunjung. Dalam dunia pemasaran, kita mengenal adanya moment of truth, yaitu titik-titik yang akan dievaluasi oleh pelanggan. Nah titik inilah yang kita perlu desain secara cermat. Sejak pengunjung datang, parkir di mana, fasilitas apa dan siapa yang akan melayani, hingga pengalaman memorable apa yang akan dibawa pulang oleh pengunjung. Semuanya harus well designed.
Tahapan berikutnya yang juga penting dan tidak bisa diabaikan adalah branding dan communication. Disini perlu diperhatikan untuk melakukan promosi yang seimbang dengan kapasitas destinasi yang kita punya, atau dengan kata lain komunikasi yang moderat. Banyak kasus yang terjadi, ketika komunikasi tidak terkendali, suatu objek yang viral di media massa, kamudian hancur dalam semalam karena jumlah pengunjung yang membludak tidak tertahan.

Blok terakhir yang perlu diperhatikan dalam membangun ekosistem wisata halal adalah enabler atau pemungkin. Halal certification merupakan pemungkin bagi munculnya wisata halal yang baik. Sertifikasi halal yang umum meliputi sertifikasi penginapan, makanan dan minuman. Selain itu juga dibutuhkan sertifikasi terkait pengalaman wisata seperti spa, beragam event sesuai syariah dan kegiatan lain. Kemudian tak kalah pentingnya adalah sertifikasi keberlanjutan yang menjamin kegiatan wisata tidak merusak alam dan lingkungan sosial yang ada. Di sinilah jantung dari pariwisata halal, agar wisata bersanding dengan syariah. Dan terakhir tentunya kompetensi pelaku wisata adalah pemungkin yang merangkum seluruh aspek ini menjadi mozaik yang indah, mendukung satu sama lain. Karena pada hakekatnya, dibalik sistem ada manusia yang menjadi subyek sentral.
Demikianlah beberapa panduan singkat untuk menata jalan bagi ekosistem pariwisata halal yang berkelanjutan, sekedar sumbangan singkat bagi para pelaku wisata halal Indonesia. Semangat terus gencarkan halal di semua sektor, agar rupiah bersanding dengan berkah.
***Artikel ini dimuat dalam majalah Halal Review 05/Mei/2024