Idul Fitri: Momen Merajut Jejaring Dan Resolusi Konflik
Dr. Wahyu T. Setyobudi | 29 Januari 2026
Di keluarga besar kami yang Jawa asli, acara sungkeman menjadi ritual semi-wajib yang dilakukan selepas sholat Idul Fitri. Kakak tertua akan berbaris hingga yang termuda, bergiliran merunduk, mengucapkan selamat dan meminta maaf, sebagai manifestasi pengakuan bahwa ketidaksempurnaan adalah bagian dari fitrah kemanusiaan. Tak jarang air mata tertumpah, mengingat kata-kata yang terselip khilaf, atau tingkah polah yang menggoreskan perih, campur aduk dengan kegembiraan dan rasa syukur di hari kemenangan yang indah itu. Idul fitri bukan hanya membasuh dosa yang menempel di kalbu, namun juga merekatkan hubungan yang renggang. Suatu momen reset terhadap berbagai deviasi antara harapan dan kenyataan, antara ego yang melambung dengan norma yang membumi.
Seperti halnya hubungan antar saudara, rekan kerja, atau tetangga yang dapat merapat dan merenggang, hubungan antar perusahaan pun memiliki dinamika yang tak kalah serunya. Jangankan hubungan bisnis yang baru dibangun beberapa tahun, relasi bisnis yang telah terjalin beberapa dekade, bahkan melewati satu atau dua generasi pun masih bisa tertimpa masalah. Konflik bisa terjadi ketika permasalahan kecil yang mungkin mulanya salah paham, kemudian tereskalasi menjadi besar dan merembet ke hal-hal lain yang menyentuh berbagai pihak, sehingga kompleksitasnya meningkat. Inilah yang disebut oleh Stephen P. Robbins (1996) sebagai disfunctional conflict, yaitu konflik yang salah sasaran, mengarah pada personal dan malah menjauh dari objektivitas. Konflik semacam ini akan mendorong kinerja buruk bagi kedua pihak. Oleh karenanya, perusahaan perlu secepatnya mencari cara untuk menyelesaikan konflik yang terjadi. Momen lebaran merupakan saat yang pas untuk menyambungkan anyaman hubungan yang terkoyak, demi sinergi di masa datang.
Dari titik ini, saya ingin memperluas perspektif kita, dari mulanya fokus pada konflik menjadi lebih positif, yaitu fokus pada membangun jejaring perusahaan jangka panjang. Tidak dapat dielakkan, networking merupakan jantung bagi perusahaan yang ingin unggul di arena kompetisi. Seperti yang seringkali ditekankan oleh Nabi SAW, bahwa sesungguhnya mukmin satu dengan lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan. Tumbuh bersama dalam kolaborasi. Untuk itu, dalam pandangan saya kapabilitas membangun jejaring dapat dirangkum dalam model berikut ini.

Pertama-tama, fondasi untuk hubungan antar perusahaan yang kuat adalah trust atau saling percaya. Hal ini merupakan syarat mutlak sekaligus paling sulit didapatkan. Pada hakikatnya, trust merupakan buah dari kehandalan yang diuji oleh waktu. Oleh karenanya, sebelum mengharapkan kepercayaan pihak lain, lakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja kehandalan saat ini, kemudian mantapkan ikhtiar untuk terus menerus melakukan improvement dan inovasi yang bermuara pada peningkatan kualitas produk dan layanan. Selain itu, membangun trust juga perlu bahan bakarnya, yaitu transparansi. Semakin nyaman dan terbuka dalam menyampaikan komplain, permasalahan yang dihadapi dengan cara yang baik akan mempercepat tumbuhnya trust diantara dua pihak.
Lapisan berikutnya yang tak kalah penting adalah shared vision, visi bersama yang saling koheren. Visi merupakan perwujudan gambaran masa depan yang menginspirasi gerak di masa kini. Oleh karenanya, di mana perusahaan meletakkan visinya, akan menentukan perilaku perusahaan tersebut dalam menangani berbagai masalah bisnis. Semisal perusahaan yang berorientasi kuat hanya pada profit dan ambisi menjadi yang terbaik, seringkali tidak akan cocok dengan perusahaan yang visinya membangun keberlanjutan yang berwawasan lingkungan dan sosial. Inilah yang disebut dengan cultural discrepancy, ketidakcocokan atau ketidakselarasan budaya. Dengan demikian perusahaan memiliki dua pilihan, yaitu menyeleksi partner yang sevisi sebelum membangun hubungan, atau bersama-sama membangun visi yang sesuai.
Jika trust dan kesamaan visi sudah terbangun, berarti kita memiliki media yang kondusif untuk membangun hubungan bisnis yang baik. Berikutnya adalah konsep empat sisi yang sama panjang, artinya faktor-faktor yang perlu didorong secara seimbang. Nomor satu adalah champion atau aktor dalam perusahaan yang punya passion untuk memegang kendali, menjadi narahubung utama. Banyak penelitian mengungkap bahwa hubungan personal antar karyawan melanggengkan kemitraan antara dua perusahaan. Di sisi lain, kita sering mengamati ketika seseorang resign dari perusahaan, maka selesai pulalah relasi bisnis yang tadinya dimiliki antar perusahaan. Oleh karena itu, tugas perusahaan paling tidak ada dua yaitu memastikan adanya champion yang akan menjadi penanggung jawab kerjasama, dan kedua memastikan seluruh kerjasama itu menjadi milik perusahaan dan mengurangi ketergantungan pada satu orang.
Konsep mengubah relasi yang semula aset individu menjadi aset perusahaan hanya dimungkinkan jika membangun faktor kedua yaitu Database. Kita perlu memiliki catatan yang terperinci atas mitra-mitra perusahaan, baik itu peran, profil, sejarah kemitraan, serta karakter kunci dari mitra. Database memiliki banyak fungsi yang diantaranya bisa menjadi alat analisis prediktif, mengetahui pola-pola yang tidak terlihat secara kasat mata. Melalui database yang lengkap, efek negatif dari hilangnya champion bisa diminimalisir karena bisa dengan cepat digantikan.
Berikutnya yang tak kalah pentingnya adalah Communication, yang memiliki makna kedekatan komunikasi dengan mitra. Komunikasi perlu dijalin beyond task, melampaui sekedar tugas-tugas yang diperlukan. Perlu komunikasi personal yang positif sehingga meningkatkan enggagement. Sekedar ucapan selamat ulang tahun, atau kiriman hadiah kecil mampu mendekatkan hati dan pada akhirnya akan membangun hubungan yang lebih erat, lebih dari sekedar rekan bisnis. Terakhir, perusahaan dapat mendorong lebih aktif channel untuk menjangkau mitra, baik mitra saat ini, maupun mitra potensial. Acara-acara gathering, exhibition, forum dan berbagai acara lain dapat diadakan untuk mempererat hubungan antara mitra tersebut.
Demikianlah, baiknya momen idul fitri ini kita manfaatkan untuk meletakkan dasar jejaring yang luas dan kuat, serta menjadi titik awal resolusi konflik, jika ada. Suasana lebaran akan menyemaikan harapan yang pupus, menyirami hubungan yang kering, dan menganyam kembali rajutan silaturahmi yang koyak merenggang. Selamat Idul Fitri, semoga Allah SWT menerima seluruh amal kita.
***
Artikel ini dimuat dalam majalah Halal Review 04/April/2024