Aisjah Girindra: Sang Pelopor Sertifikasi Halal Indonesia
Andika Priyandana | Januari 2026
Mengenang perjalanan inspiratif Prof. Dr. drh. Hj. Aisjah Girindra, seorang ilmuwan biokimia yang mengubah wajah industri makanan halal di Indonesia dan dunia.
Industri halal di Indonesia dan dunia telah mengalami perkembangan yang signifikan, dan salah satu tokoh yang berperan penting adalah Aisjah Girindra, atau jika kita menulis namanya lengkap dengan gelar, adalah Prof. Dr. drh. Hj. Aisjah Girindra. Aisjah adalah seorang guru besar biokimia dan pakar makanan halal asal Indonesia. Dia dikenal luas atas dedikasinya dalam mempromosikan dan mengembangkan industri halal, baik di tingkat nasional maupun global.
Aisjah pernah menjabat sebagai Direktur LPPOM Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Presiden Dewan Halal Dunia (World Halal Council). Melalui peran dan kontribusinya, Aisjah telah berperan dalam membentuk dan mempengaruhi industri halal seperti yang kita kenal hari ini. Karya dan dedikasinya dalam bidang ini tidak hanya memberikan dampak positif terhadap industri makanan halal, tetapi juga memberikan inspirasi bagi banyak orang di berbagai negara (LPPOM MUI, 2023).
Kehidupan Awal dan Pendidikan
Aisjah Girindra lahir pada tanggal 7 Oktober 1935 di Bukittinggi, Hindia Belanda (sebutan untuk Indonesia kala itu). Dia adalah anak dari pasangan Oemar Ali Sidi Maharaja dan Siti Marhamah yang berasal dari Minangkabau. Pada tahun 1952, Aisjah merantau ke Jakarta dan melanjutkan pendidikannya di SMA Budi Utomo. Tak lama kemudian, dia mengikuti kakaknya ke Bogor dan menyelesaikan SMA di sana.
Setelah menyelesaikan SMA, Aisjah melanjutkan pendidikannya di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia, Bogor dan menyelesaikannya pada tahun 1962. Pada tahun 1973, dia berhasil memperoleh gelar Doktor Biokimia Pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan disertasi berjudul “Faktor anti-Triptik Kedelai”. Gelar ini sekaligus menjadikannya sebagai doktor wanita pertama di Program Pasca-Sarjana IPB.
Di IPB, Aisjah menjabat sebagai Ketua Jurusan Kimia FMIPA IPB, serta merintis terbentuknya Program Studi Biokimia Jurusan Kimia FMIPA IPB dan Program Studi Bioteknologi Program Pasca Sarjana IPB. Di dua program studi tersebut, ia ditunjuk sebagai pemimpinnya. Pendidikan dan pengalaman belajarnya telah membentuk minat dan dedikasinya pada biokimia dan makanan halal, yang kemudian menjadi dasar bagi kontribusinya yang signifikan dalam industri halal.
Karir, Prestasi, dan Pengaruh, Di MUI dan Dewan Halal Dunia
Aisjah memulai karirnya yang signifikan di MUI sebagai tenaga ahli. Pada tanggal 1 Desember 1993, dia diangkat menjadi Direktur LPPOM MUI, menggantikan Dr. Amin Azis. LPPOM MUI yang didirikan pada tahun 1989, adalah lembaga yang bertujuan untuk memastikan kehalalan produk makanan, obat-obatan, dan kosmetika untuk konsumsi umat muslim. Lembaga ini memulai perjalanannya sebagai Lembaga Sertifikasi Halal pertama di Indonesia dan menerbitkan sertifikat halal pertamanya pada tahun 1991.
Selama menjabat sebagai Direktur LPPOM MUI, Aisjah sering menjadi pembicara di seminar yang membahas sertifikasi halal. Dia juga dikenal karena melibatkan banyak tenaga ahli dari berbagai bidang seperti biokimia, dokter hewan, teknologi pangan, teknologi industri, dan ahli pertanian dalam proses penentuan kehalalan suatu produk.
Pada tahun 1999, Aisjah turut mendirikan Dewan Halal Dunia (World Halal Council, WHC) dan menjadi Presiden pertama lembaga tersebut. Dewan ini bertujuan untuk menjalin komunikasi yang lebih mendalam serta menghasilkan suatu standar baku dalam proses audit kehalalan sebuah produk. WHC adalah sebuah organisasi global yang merupakan federasi dari lembaga-lembaga sertifikasi halal di seluruh dunia. Organisasi ini awalnya diinisiasi oleh sertifikator dari beberapa negara, termasuk Indonesia, Amerika Serikat, Australia, dan Belanda. Sebagai Presiden pertama WHC, Aisjah Girindra memainkan peran penting dalam pembentukan dan pengembangan organisasi ini. Tujuan utama WHC adalah untuk menstandarisasi proses sertifikasi dan akreditasi halal di antara organisasi anggota yang mewakili berbagai negara dan kebangsaan di seluruh dunia (World Halal Council, n.d.).
Selama masa jabatannya, Aisjah berusaha untuk menjalin komunikasi yang lebih mendalam antara lembaga-lembaga sertifikasi halal di seluruh dunia dan menghasilkan standar baku dalam proses audit kehalalan sebuah produk. Upaya ini bertujuan untuk memastikan bahwa produk yang diproduksi di negara-negara nonmuslim dapat diterima oleh dunia muslim.
WHC juga berfungsi sebagai sumber informasi yang dapat diandalkan untuk standar halal dunia yang otentik. Anggota WHC diharapkan tidak hanya mengamati standar dunia yang disetujui oleh Majelis Umum WHC, tetapi juga menegakkan standar tersebut dalam yurisdiksi mereka. WHC pertama kali didaftarkan di Jakarta, Indonesia, dan kemudian didaftarkan lagi sebagai Badan Dunia di Kuala Lumpur, Malaysia.
Prestasi dan dedikasi Aisjah dalam mempromosikan dan mengembangkan industri halal telah memberikan dampak positif yang signifikan, baik di tingkat nasional maupun global. Melalui peran dan kontribusinya, Aisjah telah membantu dalam membentuk dan mempengaruhi industri halal seperti yang kita kenal hari ini. Karya dan dedikasinya dalam bidang ini tidak hanya memberikan dampak positif terhadap industri makanan halal, tetapi juga memberikan inspirasi bagi banyak orang di berbagai negara.
Warisan dan Pengaruh
Prof. Dr. drh. Hj. Aisjah Girindra meninggal dunia pada Jumat, 7 September 2018, sekitar pukul 04.30 WIB di Jakarta dalam usia 83 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Bogor, Jawa Barat. Meski beliau telah berpulang, warisan dan pengaruhnya terhadap industri makanan halal di Indonesia dan dunia tetap abadi.
Pekerjaan Aisjah Girindra tidak berakhir dengan kepulangannya. Sebaliknya, warisan dan prinsip-prinsip yang dia perkenalkan terus hidup dan berkembang dalam kerja LPPOM MUI, sebuah lembaga yang pernah dipimpinnya. Salah satu prinsip utama yang diperkenalkan dan ditegaskan oleh Aisjah Girindra adalah melibatkan tenaga ahli dari berbagai bidang dalam proses penentuan kehalalan suatu produk. Ini mencakup ahli dari bidang biokimia, dokter hewan, teknologi pangan, teknologi industri, dan ahli pertanian.
Selain itu, Aisjah juga menulis buku berjudul “LPPOM MUI Pengukir Sejarah Sertifikasi Halal” yang memberikan gambaran mendalam tentang sejarah dan perkembangan sertifikasi halal di Indonesia. Buku ini telah menjadi referensi penting bagi banyak peneliti dan praktisi industri halal.
Aisjah juga menekankan pentingnya audit internal dalam proses sertifikasi halal. Menurutnya, perusahaan yang memproduksi produk halal harus mencakup prosedur audit internal selain prosedur audit oleh lembaga eksternal. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa proses produksi benar-benar mematuhi standar halal (ifanca, 2003).
Pengaruh Aisjah Girindra terhadap generasi muda dan industri makanan halal sangat signifikan. Melalui pendirian Dewan Halal Dunia, Aisjah telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam mempromosikan dan mengembangkan industri halal di tingkat global. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa minat generasi muda, khususnya Generasi Z, terhadap produk makanan halal semakin meningkat (Febriandika dkk., 2022). Hal ini menunjukkan bahwa warisan Aisjah Girindra dalam mempromosikan dan mengembangkan industri halal terus berlanjut dan memberikan dampak positif bagi generasi muda.
***
Artikel ini dimuat dalam majalah Halal Review 04/April/2024