Camilan dari Kota Batu ke Pasar Halal Global
Andika Priyandana | 10 Maret 2026
Dari dapur sederhana di Kota Batu, PT. Arjuna Triple Nine menembus pasar halal dunia berkat ketekunan, jaringan pameran, dan strategi ekspor maklun yang cermat.
PT. Arjuna Triple Nine adalah usaha kecil yang berbasis di Kota Batu, Jawa Timur, yang bergerak di bidang produksi keripik buah dan sayuran dengan teknologi penggoreng hampa. Usaha ini dirintis sejak tahun 2011 oleh Hari Mastutik, yang akrab disapa Bu Tutik. Meski saat ini masuk kategori usaha kecil, perjalanan PT. Arjuna Triple Nine tidaklah mudah. Awalnya, usaha ini bermula dari skala sangat kecil hingga perlahan berkembang.
Sejak awal berdiri, Bu Tutik telah berkomitmen kuat terhadap jaminan kehalalan produknya. Sertifikat halal dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) menjadi prioritas utama sejak awal produksi, bersamaan dengan pengurusan izin edar Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT). Tidak berhenti di situ, perusahaan ini juga telah mengantongi sertifikasi lain seperti Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB/CCP), ISO, hingga status Pilihan Produk Olahan Pangan Lokal Unggulan (Pilpong) dari pemerintah daerah. Ke depannya, PT. Arjuna Triple Nine juga menargetkan sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk semakin memperkuat legalitas produknya.
Terkait ekspor, Bu Tutik sadar bahwa hal tersebut sama sekali bukan perkara mudah. Demi menembus pasar internasional, Bu Tutik tidak hanya mengandalkan sertifikasi halal, tetapi juga terus memperluas jejaring melalui berbagai pameran dalam dan luar negeri. “Saya tidak pernah menolak kalau diajak pameran atau seminar. Karena saya butuh ilmu, butuh masukan, butuh perkembangan. Siapa tahu ilmu saya bisa bermanfaat untuk teman-teman usaha kecil yang lain,” ujarnya.
Ekspor Perdana, Tantangan, dan Suka Duka Bisnis
Langkah awal Bu Tutik dalam menembus pasar internasional bermula dari pameran halal di Malaysia yang diikutinya. Dari pameran inilah, ia untuk pertama kalinya bertemu dengan calon pembeli sekaligus klien pasar ekspor pertama dari Malaysia. “Awalnya kami ikut pameran produk halal di Malaysia. Dari situ ada pembeli yang tertarik, lalu kami kirim ke sana. Beliau pakai jenama sendiri, jadi legalitasnya beliau yang urus sendiri di sana,” kenang Bu Tutik. Pola kerja sama ini dikenal sebagai sistem maklun, yang mana PT. Arjuna Triple Nine memasok bahan baku setengah jadi yang kemudian diolah dan dikemas oleh pembeli di negara tujuan.
Sejak ekspor perdana itu, jangkauan pasar PT. Arjuna Triple Nine terus meluas, mencakup Malaysia, Brunei, Singapura, dan Dubai. Bahkan saat ini, ada calon pembeli dari Turki yang sedang menjajaki kerja sama. Bu Tutik mengakui, kemudahan ekspor ini tidak lepas dari sertifikat halal BPJPH yang dimiliki perusahaannya. Ia menyebut, hingga saat ini belum pernah diminta untuk memiliki sertifikasi halal tambahan dari negara tujuan. “Selama ini, sertifikasi halal BPJPH masih dipercaya. Jadi, saya belum pernah diminta sertifikasi halal negara tujuan ekspor seperti dari JAKIM Malaysia atau Brunei,” ungkapnya.
Namun, perjalanan ekspor ini tidak selalu mulus. Salah satu tantangan terbesar datang dari pasar Malaysia yang cenderung menekan harga. Di sisi lain, PT. Arjuna Triple Nine juga menghadapi keterbatasan modal untuk memenuhi permintaan besar dari luar negeri. “Ada PO sampai 20 ton per bulan, tapi kami belum sanggup karena keterbatasan dana,” kata Bu Tutik. Ia juga mengeluhkan minimnya dukungan pendanaan dari pemerintah pasca pameran. Menurutnya, bantuan yang ada selama ini hanya sebatas pameran, tanpa ada fasilitas pendanaan lanjutan untuk ekspor.
Bu Tutik juga pernah mengalami pengalaman pahit ketika ditipu oleh pembeli. Ia sempat menerima DP 70% dari pembeli yang ternyata bermasalah dan menunggak pelunasan. Pengalaman ini membuatnya lebih hati-hati, dengan menerapkan pembayaran DP minimal 50% dan kontrak yang ketat. “Jika teringat kasus itu, saya masih merasa sakit hati. Saya jadi belajar jangan sampai euforia PO besar bikin kita lengah. Kini, meskipun ada pesanan besar, semua harus lewat kontrak yang jelas supaya nggak sakit hati di belakang. Kontrak minimal setahun, dengan perkiraan jelas. DP minimal 50% supaya aman,” tuturnya.
Dalam menjalankan ekspor, Bu Tutik menekankan pentingnya kerja sama dengan forwarder atau jasa logistik yang terpercaya. Menurutnya, peran forwarder sangat krusial dalam mengurus semua proses kepabeanan hingga barang sampai di gudang pembeli. Strategi utama PT. Arjuna Triple Nine untuk bertahan di pasar ekspor adalah fokus pada produksi, selektif memilih pembeli, serta memastikan semua perjanjian tertulis dalam kontrak yang jelas.
Saran untuk Pengusaha Kecil yang Ingin Ekspor
Bagi pelaku usaha kecil yang ingin menembus pasar ekspor, Bu Tutik menekankan satu hal penting: jangan takut memulai, meskipun dengan modal terbatas. Menurutnya, mental dan keberanian justru menjadi modal utama untuk memulai ekspor. “Kalau saya dulu bonek (red: akronim Bahasa Jawa bondo nekat-modal nekat) saja, nekat. Tapi nekat yang terencana. Ternyata saya bisa kirim beberapa kontainer ke Singapura,” ujar Bu Tutik.
Belajar dari pameran dan komunitas pengusaha juga menjadi kunci. Pameran bukan sekadar ajang promosi, tapi juga wadah untuk memperluas jejaring, berbagi pengalaman, dan membuka peluang bertemu pembeli serius. Meski demikian, Bu Tutik mengingatkan, jangan sampai pelaku usaha hanya bergantung pada pameran yang difasilitasi pemerintah. “Kadang pameran itu cuma euforia saja. Setelah dapat buyer, malah bingung cari modal produksi atau cetak kemasan. Pemerintah seharusnya tidak berhenti di pameran saja, tapi juga menyediakan akses pembiayaan yang realistis, misalnya berupa pinjaman tanpa jaminan, dan PO (purchase order) yang sudah fixed bisa digunakan untuk jaminan pinjaman ke bank,” kritiknya.
Pengusaha juga harus sangat waspada terhadap penipuan. Bu Tutik menegaskan pentingnya menggunakan kontrak tertulis yang jelas, lengkap dengan perkiraan penjualan dan skema pembayaran yang rinci. Sistem pembayaran bertahap wajib diterapkan, dengan DP minimal 50% untuk mengurangi risiko kerugian besar. “Jangan tergiur PO besar kalau tanpa kontrak. Sakitnya bisa bertahun-tahun,” pesannya.
Selain itu, kolaborasi dengan forwarder atau pihak ketiga yang paham dunia ekspor sangat membantu. Forwarder yang berpengalaman akan memudahkan proses pengiriman, kepabeanan, hingga pengurusan dokumen ekspor.
Pada akhirnya, Bu Tutik mengingatkan untuk tetap fokus pada kualitas produksi dan kehalalan produk. Pasar global, menurutnya, menghargai produk yang patuh aturan. “Pelan-pelan asal selamat,” ujarnya tegas. “Jangan mudah tergiur PO besar tanpa perhitungan matang.”
Artikel ini dipublikasikan dalam Majalah Halal Review Edisi 05/ Juli – Agustus 2025 yang dapat diakses melalui tautan berikut: https://ihatecpublisher.com/majalah/majalah-halal-review-edisi-05-juli-agustus-2025/