Meneropong Skema Produk Halal Mendunia
Dr. Wahyu T. Setyobudi | 4 Maret 2026
HalalReview.co.id – Musim durian yang ditunggu-tunggu sudah tiba. Buah manis dengan bau khas ini bertebaran di seluruh Jakarta. Mulai dari pedagang besar yang mengangkut langsung durian dari kebun dan menyulap kap belakang sebagai warung bergerak, hingga pedagang kecil yang menggelar tikar untuk sekedar menjual 10 butir, semuanya berlomba-lomba memikat konsumen yang lalu lalang. Durian Medan, durian petruk, bawor, kunyit dan selayar, semuanya ada, memanjakan lidah para pecintanya. Sayangnya, suasana ini tidak akan lama, paling hanya bertahan tiga bulan, buah yang dijuluki king of fruit ini, akan kembali langka dan mahal.
Di hari-hari biasa, kita baru bisa menikmati buah durian di toko buah premium seperti Total atau All Fresh. Bukan hanya durian, namun banyak buah lain yang tidak sedang musimnya ada di sana. Herannya, buah-buah yang bagus biasanya ada embel-embel Bangkoknya. Jambu bagus ya Jambu Bangkok. Lengkeng yang manis, montok, dan tebal buahnya, ya pasti Lengkeng Bangkok. Ironis memang, Indonesia yang memiliki luas wilayah hampir 4 kali lebih besar, serta keanekaragaman hayati yang lebih kaya, belum mampu menguasai pasar domestik, apalah lagi pasar dunia.
Potensi serapan produk halal di luar negeri sebenarnya sangat menggiurkan. Pada kisaran Januari hingga Oktober 2024 saja, neraca perdagangan surplus dan volume ekspor mencapai 673,9 triliun. Angka ini diprediksikan masih dapat digenjot lagi dengan usaha-usaha yang lebih sistematis di tahun 2025. Berbagai produk memiliki kesempatan untuk diangkat, mulai dari produk kuliner, fashion, make up dan perawatan tubuh, agroindustri, serta banyak produk lainnya.
Untuk bisa berkompetisi di level dunia, produk-produk halal dalam negeri tersebut perlu memiliki serangkaian karakter. Untuk memudahkan, saya merangkainya dalam skema rumah halal mendunia.

Pada bagian fondasi, kita diharuskan memiliki produk yang kualitasnya unggul. Hal ini dicapai dengan kontrol ketat atas bahan mentah, rancangan produksi yang modern, serta mengaplikasikan konsep TQM (total quality management). Para pebisnis halal perlu sangat sadar bahwa tuntutan kualitas di luar negeri lebih tinggi dari pasar lokal. Barang kiriman yang sudah dipersiapkan baik, bisa saja dikembalikan karena berbagai kekurangan seperti dokumen sertifikasi, atau kandungan bahan tertentu yang tidak diperkenankan masuk. Kita belajar dari kasus baru-baru ini, di bulan Desember ketika 4 varian produk Indomie ditarik dari peredaran di Australia, hanya karena tidak mencantumkan informasi alergen. Bagi perusahaan sebesar Indofood, hal seperti ini dapat segera diantisipasi. Namun bagi pengusaha yang tidak sebesar itu, permasalahan ijin pasti akan menjadi bencana besar.
Dalam hal produk, standarisasi juga penting. Misalkan kita mengirimkan Wingko Babat, ukurannya perlu sama, rasanya perlu sama untuk tiap batch, terstandar. Hal ini yang sering kali kurang diperhatikan oleh para pebisnis domestik. Terakhir, masalah kontinuitas. Sebelum memutuskan untuk mendunia, para pebisnis halal perlu mengamankan bahan mentah, dan sumber daya manusia yang diperlukan untuk jangka waktu yang sesuai. Jangan sampai produk laris kemudian menghilang karena ketidakmampuan menjamin suplai.
Kemudian dalam skema ini, pilar-pilar melambangkan hal-hal yang menopang keberhasilan produk halal mendunia. Pada bagian awal terdapat pilar pertama, yaitu pemahaman pasar luar negeri. Berbeda dengan pasar domestik, pasar luar negeri memiliki kekhasan dari sisi preferensi varian rasa, ukuran, respons komunikasi, distribusi, dan hal-hal lain yang sangat berbeda dengan di pasar domestik.
Sebagai contoh misalkan suatu negara lebih menyukai teh rasa chrysant dibanding melati yang umum di Indonesia, atau konsumen mi instan di Nigeria yang mengutamakan ukuran dibanding rasa, hal seperti ini perlu menjadi pertimbangan. Pilar kedua yang menegakkan daya saing produk di luar negeri adalah kemitraan distribusi. Kita tentu menyadari bahwa membangun jejaring distribusi di wilayah orang sangatlah menantang. Banyak sekali hal-hal detail yang perlu dikuasai dan bahkan hampir tidak mungkin diketahui pendatang. Oleh karenanya, memiliki partner lokal yang terpercaya menjadi kunci sukses menembus pasar luar negeri.
Pilar ketiga yang tak boleh dilupakan adalah dukungan keuangan. Dibutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk mendapatkan pasar, membangun sistem, distribusi, pergudangan, pengiriman, dan banyak hal lain yang memerlukan perhitungan keuangan yang matang. Oleh sebab itu, jangan segan menghubungi pebisnis berpengalaman, atau konsultan, agar dana yang telah disiapkan tidak hilang percuma.
Branding yang kuat menjadi pilar berikutnya yang perlu dibangun. Bagusnya kualitas produk mesti diikat dengan brand yang bagus sehingga membangun aset intangible jangka panjang. Perlu perancangan logo yang profesional, identitas yang konsisten, dan upaya komunikasi yang kreatif dan tepat sasaran.
Pilar terakhir adalah adaptasi produk. Pelaku bisnis perlu menyelaraskan antara tingkat adaptasi dengan kesulitan dalam produksinya. Adaptasi bisa dilakukan dalam bentuk feature baru, varian baru, packaging, label atau ketentuan lainnya yang relevan di negara tujuan.
Pada level tertinggi, kita memiliki atap yang memayungi seluruh pilar dan fondasi. Artinya atap ini menentukan bagaimana kita akan mengelola pilar-pilar yang ada. Terdapat 3 orientasi pasar luar negeri yaitu export expansion, internasionalisasi, dan globalisasi. Export expansion adalah orientasi yang menganggap pasar luar sebagai perpanjangan pasar domestik. Dengan demikian, produk tidak diubah sama sekali, justru target negaranya yang disesuaikan. Sementara itu, ada orientasi internasionalisasi yang menganggap penting perbedaan antar negara. Dalam kacamata internasionalisasi, setiap negara memiliki kekhasan sehingga produk perlu diadaptasi semaksimal mungkin. Kita mencari differences between countries yang menjadi titik tolak adaptasi. Sementara itu, orientasi globalisasi adalah kebalikannya. Ia menganggap seluruh dunia adalah pasar yang satu, sehingga tidak perlu adaptasi. Yang diperlukan adalah kekuatan komunikasi sehingga mampu membentuk perilaku konsumen yang sama. Dalam pandangan ini yang penting adalah mencari similarities between countries.
Demikianlah, tulisan yang singkat ini semoga memberikan pemahaman awal mengenai skema produk halal mendunia. Saya memimpikan saatnya kita jalan-jalan ke supermarket Thailand dan menemukan berbagai makanan asli Indonesia membanjiri pasar. Mochi Sukabumi, Jeruk Medan, Ronde Salatiga, Songket Palembang, dan produk-produk lainnya. Salam semangat, salam pembaharu.
Artikel ini dimuat dalam majalah Halal Review 2/Februari/2025 yang dapat diakses disini:
https://ihatecpublisher.com/majalah/halal-review-edisi-02-februari-2025/