Rawat Diri Dengan Personal Care Halal
Menjaga kebersihan adalah salah satu hal yang dianjurkan dalam Islam. Islam bahkan mewajibkan membersihkan anggota tubuh tertentu dengan ber-wudhu, sebelum melakukan ibadah seperti sholat dan thawaf. Bab bersuci juga menjadi bahasan pembuka di kitab-kitab fiqih. Hal ini karena kebersihan dan kesucian adalah pengantar menuju ibadah, karenanya wajib dipelajari setiap muslim. Bersuci dalam Islam termanifestasi dalam wudhu dan mandi junub, keduanya dilakukan dengan membersihkan anggota tubuh dengan air, disertai dengan rukun dan syarat sah yang melekat padanya. Personal Care Halal juga sangat relevan dalam konteks ini, mengingat pentingnya memastikan kebersihan dan kesucian melalui produk yang sesuai dengan syariat Islam.
Anidah | Januari 2026
Dalam kehidupan sehari-hari kita pun rutin membersihkan diri. Selain menggunakan air, produk-produk personal care juga lumrah terpakai untuk membantu membersihkan tubuh. Produk personal care berfungsi untuk merawat bagian luar tubuh, seperti kulit, rambut, gigi, dan area genital luar. Produk ini membantu membersihkan, melindungi dari kuman, mencegah bau, dan menjaga kesehatan. Sabun, sampo, pasta gigi, sabun wajah, krim cukur, dan deodoran adalah contohnya. Penggunaan produk personal care bertujuan untuk membantu membersihkan, melindungi dari kuman, mencegah bau tak sedap, dan merawat serta menjaga kondisinya tetap sehat.
Bukan tanpa alasan, penggunaan produk personal care sangat membantu dalam membersihkan tubuh karena kandungan bahan di dalamnya. Misalnya beberapa jenis kotoran dapat dengan mudah dibersihkan menggunakan sabun dibanding hanya air saja.
Produk Personal Care Wajib Halal
Produk personal care umumnya mengacu pada praktik higienis dan segera dibilas setelah digunakan, seperti sampo, sabun, dan pasta gigi. Namun, produk tanpa bilas seperti tabir surya dan deodoran tetap melekat pada kulit sepanjang hari. Meskipun produk seperti sabun dan sampo dibilas, jika mengandung bahan haram, residunya bisa meninggalkan najis. Sementara produk tanpa bilas meresap ke dalam lapisan epidermis kulit. Penggunaan produk personal care dengan cara bilas ataupun tidak, tetap memerlukan konfirmasi status kehalalannya.
Produk personal care termasuk dalam kategori kosmetik, dan wajib untuk disertifikasi halal. Kewajiban sertifikasi halal untuk produk ini masuk ke dalam penahapan kedua yaitu sejak 17 Oktober 2021 hingga 17 Oktober 2026. Tahap kedua kewajiban sertifikasi halal meliputi 5 kategori produk, dan produk kosmetika (termasuk personal care) merupakan salah satunya. Penahapan kewajiban sertifikasi halal secara rinci teratur dalam PP Nomor 39 tahun 2021.
Terdapat 22 klasifikasi produk kosmetik yang wajib bersertifikat halal, menurut Keputusan Menteri Agama (KMA) No 748 Tahun 2021. Di antaranya termasuk produk personal care, seperti perawatan kulit, sabun, deodoran, sampo, kondisioner, krim cukur, perawatan gigi, dan tabir surya.
Titik Kritis Halal Produk Personal Care
Titik kritis kehalalan produk personal care terletak pada bahan atau kandungannya. Produk-produk ini berfokus pada perawatan tubuh dengan mengandalkan kandungan bahan di dalamnya. Pada produk sabun misalnya, yang asalnya dari campuran senyawa alkali NaOH, KOH, atau NH4OH dan asam lemak (trigliserida). Titik kritis halal pada produk pembersih seperti ini dapat berasal dari asam lemaknya. Sumber asam lemak dapat berasal dari minyak nabati (minyak kelapa/kelapa sawit, atau minyak zaitun), sementara sumber hewani dapat berasal dari sapi, kambing, atau babi. Sumber minyak nabati halal kita gunakan sepanjang proses sesuai ketentuan syariat, begitu pun lemak hewani hanya boleh dari hewan halal yang penyembelihannya sesuai ketentuan syariat.
Titik kritis lainnya yaitu penggunaan arang aktif yang berperan mengabsorbsi kotoran di pori-pori kulit. Sumber arang aktif yang halal dapat berasal dari tempurung kelapa atau tulang hewan halal yang penyembelihannya sesuai syariat. Sumber hewani dari tulang hewan yang haram jelas tidak boleh kita gunakan untuk bahan personal care halal.
Pada produk personal care dengan bentuk gel, umumnya perlu emulsifier untuk menyatukan dua komponen yang memiliki sifat berbeda, misalnya bahan yang larut air dan asam lemak. Pada produk jenis demikian titik kritis juga ada pada penggunaan emulsifier, wajib terpastikan asal sumbernya apakah dari sumber nabati atau hewani. Ketentuan halal untuk kedua sumber tersebut sama seperti pada bahan baku yang lain, sama seperti pada sebelumnya.
Titik Kritis Pemanfaatan Enzim
Seiring dengan berkembangnya teknologi, banyak sumber-sumber alami yang manusia eksplorasi untuk keperluan bahan baku maupun bahan aktif dalam produk personal care. Saat ini penggunaan enzim sebagai bahan dalam produk personal care tengah marak pengembangannya. Penelitian di bidang mikroenkapsulasi menggunakan nanoteknologi juga berkembang untuk formulasi berbasis enzim pada produk personal care.
Semua proses biologis berdasarkan pada aktivitas enzim, karenanya enzim berperan penting sebagai biokatalis produk perawatan tubuh melalui efek topikal (teroles pada permukaan kulit). mengutip dari buku Agro-Industrial Wastes as Feedstock for Enzyme Production, mengungkapkan perkembangan aplikasi terkini pemanfaatan enzim dalam produk personel care.
Di kulit, enzim bertanggung jawab untuk melepaskan molekul kompleks yang tidak aktif dan mengubahnya menjadi molekul yang lebih sederhana dan seringkali lebih aktif. Protease misalnya, memisahkan atau menghidrolisis protein, glikosidase meningkatkan pengayaan epidermis dengan ceramide, dan tirosinase memfasilitasi sintesis melanin. Enzim lain, seperti lignin peroksidase terbukti memainkan peran penting dalam pemecahan eumelanin, yang mengarah pada pengembangan produk yang berkaitan dengan pencerah kulit. Di sisi lain, lipase karena kemampuannya yang luar biasa dalam metabolisme lipid telah ditemukan dalam formulasi produk pembersih sebum, masker kecantikan, dan perawatan rambut. Hyaluronidase, merupakan enzim yang berguna dalam bedah kosmetik sebagai komponen aktif dalam pengisi kulit.
Keunggulan Enzim Mikrobial dalam Industri
Enzim untuk keperluan industri kebanyakan merupakan produk mikrobial, yaitu berasal dari mikroba jenis bakteri, fungi, maupun virus. Sebagai contoh 2/3 enzim protease yang dunia industri gunakan berasal dari enzim mikrobial. Beberapa kelebihan enzim produk mikrobial adalah tingkat produksinya yang cepat, investasi yang lebih rendah untuk kebutuhan lahan, tidak terpengaruh iklim, hingga konsumsi energi dan jejak karbon yang rendah. Sehingga produk ini lebih ekonomis dan ramah lingkungan daripada ekstraksi langsung dari sumber hewan atau tumbuhan.
Produksi enzim secara bioteknologi ini, memanfaatkan mikroorganisme tertentu yang mampu menghasilkan enzim tertentu pula, dengan cara menumbuhkan pada subtrat atau media tumbuh khusus. Media tumbuh mikroba dalam skala laboratorium biasanya merupakan campuran beberapa bahan, salah satunya pepton sebagai sumber karbon. Media ini berguna pada tahap awal isolasi dan pemurnian mikroba. Sumber peptone perlu kita perhatikan karena bisa saja berasal dari babi dan turunannya. Sementara dalam skala produksi media tumbuh yang banyak industri gunakan untuk produksi enzim mikroba salah satunya adalah limbah agroindustri seperti limbah buah-buahan, yang sebagian besar terdiri dari biji, kulit, kulit buah, dan pomace (residu padatan setelah pemerasan buah) yang kaya akan bahan bioaktif.
Titik kritis produk mikrobial terletak pada penggunaan media tumbuh mikroba, bahan tambahan dan/atau bahan penolongnya. Semua bahan tersebut tidak boleh berasal dari babi atau turunannya. Penggunaan produk mikrobial dari mikroba yang tumbuh pada media yang suci hukumnya halal. Produk personal care tidak dapat sertifikasi halal, jika media tumbuh untuk mikroba saat produksi enzim menggunakan bahan yang haram. Titik kritis lainnya dapat berasal dari bahan yang berguna pada proses mikroenkapsulasi enzim.
Pentingnya Label Halal Pada Produk Personal Care
Informasi tentang bahan pada sebuah produk cukup sulit konsumen ketahui. Hal ini memerlukan pengetahuan spesifik tentang bahan, kemurnian, sumber, serta metode pembuatannya. Konsumen pun tak bisa sepenuhnya bergantung pada label vegan, karena berbeda persyaratannya dengan halal. Meskipun vegan tak melibatkan unsur hewani, namun penggunaan pelarut dalam proses ekstraksi bahan alam seringkali tak memenuhi kaidah halal. Sehingga vegan belum tentu comply dengan halal.
Keberadaan label halal pada produk personal care akan memudahkan konsumen muslim. Label halal merupakan bukti pemenuhan aspek persyaratan halal yang Islam tetapkan, mulai dari bahan, proses, penyimpanan dan distribusi, hingga produk sampai ke tangan konsumen.
***
Artikel ini termuat dalam majalah Halal Review 04/April/2024