Merengkuh Mimpi Menjadi Pemain Utama Pasar Halal Global
Andika Priyandana | Januari 2026
Jika Indonesia memang memiliki impian menjadi pemain utama pasar halal global, janganlah berhenti pada wacana. Bagaimana Indonesia mampu mewujudkan impian tersebut?
Pasaran global halal telah menjadi topik yang penting dan relevan dalam beberapa tahun terakhir. Dengan jumlah umat Islam hampir 2 miliar di seluruh dunia, pasar halal menawarkan peluang besar. Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim besar memiliki potensi kuat untuk berkembang di sektor ini.

Berdasarkan Indikator Ekonomi Islam Global (GIEI) dalam laporan SGIE 2023/24 yang mencakup 81 negara, Malaysia menempati peringkat pertama selama 10 tahun berturut-turut. Arab Saudi berada di posisi kedua, Indonesia di posisi ketiga, disusul UEA dan Bahrain di peringkat berikutnya. Masuknya Indonesia, dengan kekuatan konsumsi pasar domestik, pada posisi tiga besar menunjukkan kekuatan signifikan dalam ekonomi Islam global.
Namun, ada baiknya Indonesia melangkah lebih jauh menjadi pemain pasar halal global dan bukan sekedar lokal. Untuk mencapai posisi teratas, Indonesia perlu memahami karakter setiap pasar halal. Setiap negara memiliki standar dan pandangan berbeda terkait halal dan haram. Oleh karena itu, produsen harus menyesuaikan produk dan layanan dengan regulasi di negara tujuan. Perbedaan mana halal dan mana haram sudah tentu berbasis pada peraturan pemerintah negara yang bersangkutan. Peningkatan peringkat Indonesia dari posisi keempat pada SGIE 2022 menjadi ketiga saat ini menunjukkan kemajuan signifikan. Namun, peluang untuk berkembang masih terbuka lebar. Kita perlu terus berinvestasi pada sektor unggulan dan memanfaatkan potensi ekonomi Islam global.
Indonesia dan Ekonomi Islam global
Indonesia telah menunjukkan peningkatan signifikan dalam ekonomi Islam global. Menurut laporan SGIE 2023, Indonesia berhasil menduduki peringkat ketiga secara global. Peningkatan ini merupakan sebuah kemajuan yang signifikan berbanding dengan posisi Indonesia berdasarkan laporan SGIE 2022, yang mana Indonesia berada di peringkat keempat.
Menanggapi posisi Indonesia di peringkat tiga dalam SGIE 2023, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, yang juga Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), menyampaikan, “Alhamdulillah, kemarin ramai dibahas kita di posisi empat, sekarang sudah naik satu peringkat di posisi tiga menggeser Uni Emirat Arab (UEA). Ke depan, bismillah, tentu kita ingin jadi nomor satu dunia”. Erick mengaitkan masuknya Indonesia ke lima besar berkat perkembangan signifikan di sektor ekonomi syariah, seperti keuangan syariah, makanan dan minuman halal, kosmetik dan fesyen halal, serta media dan pariwisata syariah.
Namun, meski telah mencapai kemajuan yang signifikan, masih ada ruang untuk pertumbuhan dan pengembangan lebih lanjut jika Indonesia benar-benar ingin menjadi nomor satu dunia. Ruang pertumbuhan dan pengembangan tersebut teraih antara lain dengan terus berinvestasi dalam sektor-sektor yang menjadi tolok ukur SGIE dan memanfaatkan peluang yang ekonomi Islam global tawarkan. Dengan kata lain, Indonesia harus berani main tandang dan bukan sekedar jago kandang.
Kemitraan Global Indonesia
Ketika Indonesia berencana untuk memasuki pasar halal global, penting bagi para pelaku bisnis untuk memahami kebutuhan dan karakteristik pasar. Sebagai contoh, pasar halal di Arab Saudi dan Iran memiliki perbedaan signifikan dengan pasar halal di Indonesia, yang kebijakan halalnya tertentukan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.
Di Arab Saudi dan Iran, ada standar halal tertentu yang harus terpenuhi oleh produk dan layanan agar dapat terjual di pasar. Standar ini mencakup persyaratan tentang bahan baku, proses produksi, dan penyimpanan produk. Oleh karena itu, sangat penting bagi produsen dan konsumen untuk memahami peraturan ini saat berurusan dengan pasar halal di kedua negara tersebut.
Selain itu, perusahaan yang ingin memasuki pasar ini harus memahami dan mematuhi peraturan dan standar lokal, serta menjalin kemitraan dengan lembaga sertifikasi halal setempat, yang mungkin memiliki perbedaan signifikan dengan standar di Indonesia. Misalnya, bagi perusahaan Indonesia yang ingin menjual produknya ke Saudi, disarankan untuk bermitra dengan perusahaan lokal. Kemitraan ini dapat membantu dalam memantau peluang bisnis, menavigasi peraturan impor dan pengujian standar, serta mengidentifikasi peluang penjualan dan kontrak sektor publik.
Bagusnya, Indonesia telah membangun kemitraan global yang kuat untuk memastikan jaminan produk halal. Berdasarkan laporan BPJPH Kementerian Agama tahun 2023, Indonesia dan Republik Islam Iran telah menandatangani nota kesepahaman terkait jaminan produk halal. Iran menjadi negara keenam yang menjalin kerja sama tersebut, setelah Cile, Argentina, Hungaria, Belarusia, dan Turki.
Strategi Indonesia Menjadi Pemain Utama Pasar Halal Global
Kerja sama ini mencakup diskusi tentang Mutual Recognition Agreement atau MRA antara BPJPH dan lembaga halal di Iran. Tujuannya adalah untuk membentuk penerimaan bersama sertifikat halal BPJPH dan lembaga halal di Iran secara timbal balik. Kerja sama ini diharapkan mampu meningkatkan perdagangan produk halal. Selain itu, kolaborasi ini juga bertujuan memperkuat manfaat ekonomi dan kesejahteraan kedua negara.
Kepala BPJPH Kementerian Agama, Muhammad Aqil Irham, menekankan bahwa telah melakukan berbagai upaya demi mengglobalisasi halal Indonesia. Salah satu upaya tersebut adalah melalui kepemimpinan G20, termasuk inisiasi forum Halal 20 (H20) oleh BPJPH tahun lalu. Forum ini merupakan tonggak penting dalam pengembangan ekosistem dan industri halal global, serta menjadi wadah kemitraan halal global.
Di sisi lain, Kepala BPJPH, Muhammad Aqil Irham, menegaskan bahwa berbagai langkah terus dilakukan untuk mengglobalisasi halal Indonesia. Salah satunya melalui forum Halal 20 (H20). Kesepakatan ini tersepakati oleh 118 delegasi dari 41 negara. Sebagai hasil penting lainnya dari H20 2023, Aqil menyebutkan bahwa telah tertandatangani MRA antara BPJPH dengan 37 Lembaga Halal Luar Negeri (LHLN).
Melalui berbagai upaya seperti penguatan ekosistem halal, pengembangan UMKM, dan kemitraan global, Indonesia menunjukkan potensi besar di pasar halal dunia. Selain itu, pemahaman terhadap perbedaan standar halal di tiap negara juga membantu memastikan produk Indonesia sesuai dengan regulasi pasar internasional.
Masa depan Indonesia sebagai hub halal global tampak cerah. Dengan terus berinvestasi dalam sektor-sektor ini dan memanfaatkan peluang, Indonesia memiliki potensi untuk menjadi pemain utama dalam ekonomi Islam di masa depan.
***
Artikel ini temuat dalam majalah Halal Review 01/Januari/2024