Merentas Jalan Menuju Strategic Halal Champion
Dr. Wahyu T. Setyobudi | 3 Maret 2026
HalalReview.co.id – Sebagai alumni jurusan matematika, saya selalu menganggap diri saya sangat rasional. Dulu, saya skeptis dengan khasiat air doa yang katanya lebih baik dari analgesik, atau air wudhu yang merupakan kosmetik terbaik. Menurut saya itu hanyalah makna kiasan, tidak dapat ditafsirkan secara letterlijk atau harfiah. Namun sakit gigi mengubah pandangan itu. Anda tentu paham bagaimana rasanya gigi geraham mendorong taring, yang menyebabkan abses, dan bengkak hingga ke pipi. Waktu itu malam ahad, menjelang libur panjang, di mana banyak RS tutup dan dokter gigi tidak praktik. Beberapa butir Ponstan sudah tidak lagi mempan menghadapi nyeri berdenyut yang rasanya menusuk gusi. Berbagai teknik NLP dan jurus-jurus lain saya gunakan untuk meredam rasa sakitnya, namun tak ada yang efektif. Dalam pasrah, istri saya mengambilkan air zam-zam dan saya minum dalam doa. Tak berbilang waktu, ajaib memang, di antara sekian alternatif itu air zam-zamlah yang paling bisa meredakan nyeri.
Terkait bagaimana hubungan ilmiahnya, antara air zam-zam dengan meredakan nyeri, sejauh pengetahuan saya belum diketahui secara pasti. Bisa jadi karena kandungan mineral kalsium, magnesium, sodium, dan 34 mineral lainnya, mungkin juga karena kadar pH-nya yang alkali, atau juga karena aspek psikologis efek placebo. Namun akhirnya kita memang harus menerima kenyataan, bahwa jauh lebih banyak hal yang tidak dapat dijelaskan daripada yang bisa dijelaskan di dunia ini. Selain ilmu yang telah dipelajari, kita berpegang pada apa yang Allah SWT firmankan, dan apa yang dicontohkan Baginda rasul yang mulia. Dalam beberapa kesempatan, Baginda rasul memperbolehkan ruqyah dengan cara memberikan air yang didoakan Al-Fatihah oleh para sahabat. Jelaslah di sini, bahwa dimensi spiritual merupakan bagian tak terpisahkan dari ikhtiar.
Dalam hal mengelola perusahaan, aspek spiritual ini sering kali diabaikan. Business is business, perhitungan profit adalah sesederhana revenue minus cost. Padahal dalam era hyper competition yang makin chaotic seperti sekarang ini, justru banyak sekali ketidakpastian yang dihadapi oleh pelaku usaha. Predictive ability dari model-model manajemen lama makin lama makin tumpul, dan banyak lubang menganga dari teori manajemen ketika dihadapkan oleh turbulensi lingkungan. Oleh karenanya, fokus perhatian perusahaan perlu dialihkan untuk juga melihat aspek spiritual sebagai bagian penting. Beyond halal compliance, toward syariah manajemen, proses pengelolaan perusahaan berlandaskan prinsip-prinsip syariah.
Pada artikel sebelumnya, kita telah membahas mengenai integrasi nilai yaitu meletakkan spiritual value sebagai pengikat nilai-nilai lain yang terdiri dari nilai fungsional, emosional, sosial, dan ekonomikal. Kemudian ada empat tipe perusahaan dilihat dari kemampuan integrasi nilai dan tingkat compliance terhadap prinsip halal, yaitu strategic halal champion, non-halal champion, label centric, dan non-compliance. Dalam tulisan ini, akan kita jabarkan apa saja langkah-langkah yang penting untuk dilakukan agar mampu menjadi strategic halal champion, yaitu perusahaan yang bukan hanya menunjukkan kualitas unggul di mata pelanggan, namun juga mempraktikkan konsep halal secara platformik, menjadi basis bagi manajemen perusahaan baik dalam pemasaran, pengelolaan modal manusia, keuangan, dan pengelolaan operasi serta rantai pasok.
Kata “strategic” dalam strategic halal champion memiliki arti keunggulan jangka panjang. Oleh karenanya, usaha untuk membangun keunggulan jangka panjang ini mestilah fundamental. Mulai dari dasar-dasar pengembangan perusahaan. Dengan demikian dibutuhkan suatu peta jalan yang sistematis dan setahap demi setahap menuju pencapaian visi halal yang dicita-citakan. Paling tidak ada 5 tahap utama yang kita beri nama: Discovery – Mastery – Consistency – Synergy – Legacy. Kelima tahapan ini bukanlah suatu tahapan formal yang kaku, namun cenderung menjadi tema pengelolaan prinsip halal sepanjang jalan pengembangan jangka panjang.

Tahapan Menuju Strategic Halal Champion (Setyobudi, 2024)
Langkah pertama adalah Discovery, yaitu melakukan asesmen ke dalam perusahaan untuk menemukan kondisi saat ini, karakter dan sumber daya yang dimiliki perusahaan. Langkah ini lebih merupakan refleksi terhadap keadaan perusahaan dan menakar komitmen pengelola dalam meniti langkah menuju halal champion. Beberapa hal yang perlu dibangun di tahap ini adalah visi halal, yaitu seberapa paripurna konsep halal yang akan digunakan, mulai dari yang terendah yaitu memenuhi persyaratan label halal, hingga yang tertinggi adalah penerapan sebanyak mungkin prinsip halal dalam pengelolaan perusahaan. Visi inilah yang nanti akan menjadi mercu suar, mengarahkan perusahaan menuju ke dermaga yang diimpikan yaitu keberkahan dunia-akhirat.
Langkah kedua adalah Mastery, yaitu mengidentifikasi serta menguasai ilmu yang dibutuhkan untuk mampu mengaplikasikan prinsip halal. Penguasaan dan pendalaman ini meliputi seluruh aspek halal, mencakup standar, regulasi, dan praktik terbaik dalam produk maupun proses untuk mengantarkannya. Dalam tahap ini perusahaan perlu memiliki talenta-talenta yang mumpuni yang dididik menggunakan berbagai macam cara, di antaranya mengirim sekolah formal-informal, melakukan kerja sama magang dengan perusahaan lain yang dinilai tepat, dikirim untuk melihat praktik terbaik di tempat lain, atau bisa juga menjadi aprentice.
Kemudian berikutnya kita memiliki langkah ketiga yaitu Consistency, menjamin strategi dan implementasi peta jalan ini dilaksanakan secara terus-menerus dan konsisten. Istiqomah, demikian kita menyebutnya. Hal ini dilakukan dengan cara mengembangkan sistem monitor kehalalan yang terintegrasi, melakukan proses evaluasi secara periodik, dan berusaha untuk terus meningkatkan aktivitas pengembangan sistem pengelolaan berbasis prinsip halal sehingga naik level.
Langkah berikutnya adalah Synergy, mempromosikan konsep halal sepanjang rantai pasok, kepada seluruh partner yang terlibat dalam proses bisnis perusahaan. Kita menyadari benar bahwa usaha untuk mengembangkan praktik halal tidak dapat dilaksanakan sendiri. Perlu usaha bersama, kerja jamaah yang terkoordinir. Perusahaan yang telah memiliki peta jalan mampu melihat jauh ke depan, dan mengajak seluruh perusahaan yang terlibat untuk berkontribusi dalam sistem ini.
Langkah terakhir adalah Legacy, menginspirasi praktik beyond halal ini kepada industri lain, dan masyarakat secara luas. Praktik manajemen halal yang baik akan memberikan contoh yang menggugah kepada masyarakat dan pelaku industri sehingga ini bisa menjadi tinggalan kita. Usaha baik yang dilakukan janganlah hanya kita jadikan refleksi pribadi, namun perlu dipublikasikan menggunakan cara yang benar. Bukan untuk pamer atau menjadi sombong, namun demi pengembangan sistem halal yang lebih luas.
Demikianlah beberapa tahapan penting yang bisa mulai kita rintis di perusahaan kita. Seperti kata peribahasa, if you dream alone its just a dream. But if you can make everybody dream as you dream, it’s the dawn of reality. Dalam konsep beyond halal, tujuan perusahaan bukan hanya sustainability namun hingga eternity, dunia akhirat. Semoga kita dimudahkan untuk menggapainya. Salam berkah, salam pembaharu.
***
Artikel ini dimuat dalam majalah Halal Review 10/Oktober/2024
Artikel ini juga dapat dinikmati dalam format majalah. Akses edisi lengkapnya di sini:https://ihatecpublisher.com/majalah/halal-review-edisi-oktober-2024/