Mengusung Halal untuk Meraih Pangsa Pasar
Andika Priyandana | 30 Maret 2026
Keberanian mengambil langkah besar menuju 100% halal bukan hanya mengubah arah bisnis PT Kikkoman Akufood Indonesia, tetapi juga memperkuat posisinya di pasar lokal dan membuka peluang ekspansi global.
HalalReview.co.id – Ketika PT Kikkoman Akufood Indonesia mulai beroperasi, produk Kikkoman sebenarnya sudah hadir di Indonesia selama puluhan tahun. Namun pada awalnya, produk yang beredar merupakan produk impor antara lain dari Jepang, Amerika, dan Singapura—sebagian di antaranya masih berstatus nonhalal. Hal ini menjadi tantangan besar bagi perusahaan yang ingin berkembang di pasar Indonesia, yang mana mayoritas konsumennya adalah muslim dan memiliki preferensi kuat terhadap produk bersertifikat halal.
Kesadaran akan pentingnya sertifikasi halal mendorong Jureke Kusuma, Pendiri dan Direktur PT Kikkoman Akufood Indonesia, untuk mengambil langkah besar. Pada 2016, ia dan timnya memutuskan bahwa seluruh produk yang diproduksi dan dijual di Indonesia harus 100% halal. Namun transisi ini tidak mudah, terutama karena Kikkoman nonhalal sudah memiliki pasar yang mapan. “Kalau setengah-setengah itu bingung. Jadi akhirnya kami putuskan harus halal 100%,” ungkap Jureke.
Untuk mewujudkan komitmen tersebut, PT Kikkoman Akufood Indonesia menjalin kolaborasi erat dengan tim Kikkoman di Jepang. Pabrik Akufood di bangun di Jakarta pada tahun 2005, dan pada tahun 2016 Akufood mendirikan perusahaan patungan dengan Kikkoman. Usaha patungan tersebut menggunakan pabrik yang Akufood miliki serta telah beroperasi sejak 2013 di Kawasan Industri Jababeka, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, sebagai fasilitas produksi. Dengan memastikan bahwa seluruh bahan baku, proses produksi, hingga distribusi mematuhi standar halal, PT Kikkoman Akufood Indonesia berupaya membangun kepercayaan pasar. Langkah ini awalnya dihadapkan pada skeptisisme pasar dan tantangan penjualan yang rendah, tetapi seiring waktu, produk halal Kikkoman justru semakin diterima dan mengalami pertumbuhan pesat.
Keputusan untuk beralih sepenuhnya ke halal tidak hanya meningkatkan kepercayaan konsumen, tetapi juga memperkuat citra merek Kikkoman di Indonesia. Kini, produk-produk Kikkoman buatan Indonesia mulai diminati oleh pasar luar negeri, termasuk Malaysia dan Timur Tengah, membuktikan bahwa keputusan strategis ini telah membuka peluang lebih luas bagi perusahaan.
UMKM Sebagai Motor Pertumbuhan: Strategi Tumbuh Bersama
Dalam perjalanannya, PT Kikkoman Akufood Indonesia tidak hanya berfokus pada ekspansi produk halal, tetapi juga pada pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Bagi Kikkoman, UMKM bukan sekadar konsumen, tetapi mitra strategis yang berperan penting dalam pertumbuhan bisnis. Kesadaran ini mendorong perusahaan untuk menciptakan berbagai inisiatif yang membantu UMKM meningkatkan daya saing mereka, baik dalam kualitas produk maupun efisiensi operasional.
Salah satu program unggulan yang dikembangkan adalah Kikkoman 123, sebuah konsep memasak sederhana yang memungkinkan UMKM menciptakan menu yang praktis, konsisten, dan tetap bercita rasa tinggi. Program ini memperkenalkan formula sederhana: satu saus Kikkoman, satu sumber protein, dan satu jenis sayuran. Dengan pendekatan ini, para pelaku UMKM, terutama yang bergerak di sektor kuliner, dapat menghemat waktu persiapan tanpa mengorbankan kualitas rasa. “Kami ingin membantu UMKM berkembang, bukan hanya dengan menjual produk, tetapi dengan memberikan solusi yang memudahkan mereka dalam operasional sehari-hari,” ujar Jureke.
Selain itu, Kikkoman juga membangun jaringan depo sebagai pusat edukasi dan distribusi produk halal. Depo ini berperan lebih dari sekadar tempat penyimpanan dan pengiriman barang, jaringan depo juga menjadi titik pendampingan bagi UMKM dalam memahami cara mengelola usaha secara lebih profesional. Dari depo inilah pelaku UMKM mendapatkan pelatihan mengenai penggunaan produk Kikkoman, teknik memasak yang efisien, hingga strategi pemasaran yang lebih efektif.
Keberhasilan UMKM yang tumbuh bersama Kikkoman menjadi bukti nyata bahwa strategi ini berdampak positif. Banyak pelaku usaha kecil yang awalnya ragu kini semakin percaya diri dalam menjalankan bisnis mereka. “Kami tidak ingin sekadar menjual produk, kami ingin UMKM yang bekerja sama dengan kami bisa sukses. Kalau mereka sukses, kami juga ikut sukses,” kata Jureke. Dengan pendekatan yang berorientasi pada pertumbuhan bersama, ekosistem halal yang dibangun Kikkoman semakin kokoh, menjadikan UMKM sebagai bagian penting dalam perjalanan bisnis PT Kikkoman Akufood Indonesia.
Dari Indonesia ke Dunia: Potensi Besar Produk Halal di Pasar Global
Pasar produk halal terus mengalami pertumbuhan signifikan di berbagai belahan dunia, dan produk halal asal Indonesia semakin mendapat perhatian. Permintaan yang meningkat dari negara-negara seperti Malaysia, Singapura, dan kawasan Timur Tengah menunjukkan bahwa produk halal bukan hanya kebutuhan domestik, tetapi juga memiliki daya saing di pasar global. PT Kikkoman Akufood Indonesia melihat peluang ini sebagai langkah strategis untuk membawa produk buatannya ke kancah internasional.
Ekspansi ke luar negeri dimulai dengan memperkenalkan produk halal Kikkoman ke Malaysia dan Singapura, dua negara dengan lembaga standar halal yang ketat. Keberhasilan produk di pasar ini menjadi pijakan untuk menjajaki potensi yang lebih luas, termasuk negara-negara Timur Tengah yang memiliki permintaan tinggi terhadap produk bersertifikat halal. Banyak pihak yang mulai mencari kami, dari negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, hingga Timur Tengah, termasuk Dubai. Mereka tertarik bekerja sama karena melihat potensi besar produk halal Kikkoman,” ungkap Jureke.
Namun, membawa produk halal Indonesia ke luar negeri bukan tanpa tantangan. Salah satu kendala terbesar adalah menjaga standar kualitas dan konsistensi rasa, terutama karena regulasi di setiap negara bisa berbeda. Konsumen di luar negeri lebih sensitif terhadap perubahan kecil dalam produk makanan, sehingga memastikan kualitas yang stabil menjadi prioritas utama. “Kalau mau masuk ke luar negeri, kita harus jaga kualitas. Mereka sangat sensitif, sedikit saja beda, pasti mengeluh,” jelas Jureke.
Jureke mencontohkan bahwa kecap manis yang dijual di Malaysia harus disesuaikan dengan preferensi rasa lokal, sementara di Singapura, standar kemasan dan informasi produk sangat diperhatikan. Selain itu, tantangan lainnya adalah memastikan bahan baku tetap halal dan berkualitas tinggi. “Kami tidak bisa sembarangan mengganti bahan baku, terutama tepung, karena proses produksi kami berbeda dengan yang lain. Kalau tepung tidak tahan suhu tinggi, hasil akhirnya bisa berubah,” tambahnya. Oleh karena itu, Kikkoman hanya bekerja dengan pemasok yang telah memenuhi standar ketat, termasuk yang sudah mendapatkan sertifikasi halal dari otoritas di negara masing-masing.
Oleh karena itu, perusahaan memastikan seluruh proses produksi mengikuti standar yang ketat, termasuk fermentasi alami selama enam hingga delapan bulan yang menjaga cita rasa khas Kikkoman. Selain itu, Kikkoman juga terus beradaptasi dengan kebutuhan pasar di setiap negara, misalnya dengan mengembangkan desain kemasan khusus untuk Malaysia yang lebih menonjolkan identitas halal. Dengan pendekatan yang terstruktur dan fokus pada inovasi, perusahaan berupaya memastikan bahwa produk halal buatan Indonesia dapat bersaing dengan produk dari negara lain. Keberhasilan ini bukan hanya menjadi kebanggaan bagi Kikkoman, tetapi juga membuka jalan bagi lebih banyak produk halal Indonesia untuk dikenal dan diterima di pasar global.
Artikel ini dipublikasikan dalam Majalah Halal Review Edisi 3/Maret-April/2025 yang dapat diakses melalui tautan berikut: https://ihatecpublisher.com/majalah/halal-review-edisi-03-mar-apr-2025/