Mencari Produk Halal di Era Digital: Peran Penting Media Sosial
HalalReview.co.id – Saat ini, media sosial telah bertransformasi dari sekadar platform komunikasi menjadi salah satu sumber informasi utama bagi masyarakat. Tak terkecuali dalam konteks keagamaan, di mana banyak konsumen kini mengandalkan platform digital ini untuk mencari dan mengecek status halal sebuah produk. Fenomena ini menjadi sorotan utama dalam Survei Top Halal Index 2025 yang rutin dilakukan oleh IHATEC Marketing Research, yang bertujuan melihat sikap dan persepsi konsumen Indonesia terhadap produk halal.
Survei tahunan ini dilaksanakan pada Mei 2025 dengan melibatkan 1.800 responden melalui metode face-to-face interview di enam kota besar Indonesia, yaitu Jakarta, Semarang, Surabaya, Medan, Makassar, dan Balikpapan. Kelompok responden didominasi oleh kelompok usia 20–39 tahun, yang mencakup generasi milenial dan Gen Z, dengan komposisi 45% pria dan 55% wanita. Mayoritas responden (88%) beragama Muslim, sementara 12% adalah nonmuslim, memberikan gambaran menyeluruh tentang konsumen yang sensitif terhadap isu kehalalan.
Frekuensi Konsumen Mengakses Informasi Halal
Meskipun media sosial diakui sebagai sumber informasi utama, temuan dari IHATEC Marketing Research menunjukkan adanya nuansa dalam seberapa sering konsumen benar-benar mencari informasi halal di platform tersebut. Data survei menunjukkan bahwa mayoritas konsumen hanya kadang-kadang, bahkan jarang mencari informasi halal secara spesifik di media sosial.
Namun, hal ini tidak berarti peran media sosial bisa diabaikan. Fakta bahwa ada juga konsumen yang secara aktif mencari informasi halal melalui media sosial menunjukkan bahwa platform ini tetap menjadi kanal penting. Bagi sebagian konsumen, terutama mereka yang sangat peduli atau memiliki kebutuhan khusus, media sosial adalah tempat pertama yang dituju untuk verifikasi dan review kehalalan, meskipun frekuensi pencariannya tidak selalu tinggi untuk semua orang. Temuan ini menggarisbawahi bahwa informasi halal di media sosial mungkin sering kali ditemukan secara pasif (misalnya, melalui konten yang lewat di feed), namun peran pencarian aktifnya tetap signifikan bagi segmen tertentu.

Gambar 1 Frekuensi Konsumen Mencari Informasi Halal di Media Sosial
Sumber : Survei IHATEC Marketing Research, 2025
TikTok, YouTube, dan Instagram Mendominasi
Ketika berbicara mengenai platform yang digunakan, data survei memberikan gambaran yang sangat jelas mengenai hierarki dominasi media sosial dalam konteks produk halal. Dari sisi platform, TikTok menempati posisi teratas sebagai media sosial yang paling sering digunakan konsumen untuk melihat review produk halal, dengan persentase sebesar 32%.
TikTok diikuti ketat oleh YouTube (28%) dan kemudian Instagram (22%). Hasil ini mengindikasikan bahwa ketiga platform tersebut telah menjadi channel utama bagi konsumen dalam menemukan informasi ataupun review terkait kehalalan produk.
Dominasi ketiga platform ini, yang secara fundamental didorong oleh konten visual dan video, menunjukkan bahwa konsumen kini lebih memilih informasi halal yang disajikan secara interaktif, immersive, dan mudah dipahami, seperti melalui format video pendek di TikTok, vlog review di YouTube, atau feed visual yang menarik di Instagram. Hal ini memberikan implikasi strategis yang penting bagi brand dan lembaga sertifikasi halal.

Gambar 2 Platform Media Sosial yang Paling Sering Digunakan untuk Melihat Review Produk Halal
Sumber : Survei IHATEC Marketing Research, 2025
Pengaruh Media Sosial Terhadap Preferensi Produk
Lebih dari sekadar sumber informasi, survei ini juga menelusuri sejauh mana media sosial memengaruhi keputusan konsumen dalam memilih produk halal. Hasilnya menunjukkan bahwa media sosial memainkan peran yang sangat substansial.
Sebanyak 42% responden menyatakan bahwa media sosial cukup berpengaruh dalam preferensi mereka memilih produk halal. Bahkan, persentase yang lebih besar, yakni 45% responden, menilai media sosial berpengaruh hingga sangat berpengaruh terhadap pilihan mereka. Secara kolektif, angka-angka ini menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi faktor penting yang secara signifikan dapat memengaruhi cara konsumen menentukan pilihan produk mereka.
Gambar 3 Pengaruh Media Sosial Terhadap Preferensi Memilih Produk Halal
Sumber : Survei IHATEC Marketing Research, 2025
Jenis Konten Kehalalan Produk yang Menarik Bagi Konsumen
Untuk memahami strategi komunikasi yang paling efektif, survei juga mengidentifikasi jenis konten kehalalan produk yang paling menarik bagi responden. Terdapat empat jenis konten utama yang menjadi daya tarik tertinggi, dengan persentase yang relatif berdekatan:
- Edukasi dari Pakar Halal atau Lembaga Sertifikasi:
Jenis konten ini menarik bagi 21,8% responden. Konten edukasi dari pakar atau lembaga sertifikasi memberikan otoritas dan kredibilitas yang kuat. Konsumen merasa yakin ketika informasi tersebut berasal dari pihak yang kompeten.
- Review atau Rekomendasi Influencer:
Konten ini menarik bagi 21,3% responden. Tak bisa dimungkiri, influencer atau key opinion leader (KOL) memegang peran besar. Konten berupa review atau rekomendasi dari influencer menempati posisi teratas kedua. Konsumen cenderung percaya pada rekomendasi yang disajikan secara jujur dan mudah diakses oleh sosok yang mereka ikuti sehari-hari.
- Berita Viral Terkait Halal-Haram:
Konten ini menarik bagi 19,7% responden. Meskipun bersifat sensitif, konten yang membahas berita viral atau isu kontroversial seputar halal-haram memiliki daya tarik yang signifikan.
- Testimoni Konsumen: Menarik bagi 18,1% responden.
Konten yang memuat pengalaman nyata dari konsumen lain, atau testimoni, juga menjadi jenis konten yang menarik. Sebagaimana dikemukakan oleh 18,1 responden. Konsumen merasa lebih aman dan terhubung ketika melihat pengalaman positif dari sesama pengguna, yang dianggap lebih jujur dan tidak termotivasi oleh iklan.

Gambar 4. Jenis Konten Kehalalan Produk yang Menarik Bagi Konsumen
Sumber : Survei IHATEC Marketing Research, 2025
Implikasi Strategis bagi Brand
Kesadaran akan pentingnya label halal, terutama pada produk yang langsung dikonsumsi seperti makanan dan restoran, adalah hal yang sudah terlihat jelas dalam survei. Namun, perhatian terhadap produk nonmakanan juga terus meningkat, menandakan evolusi kesadaran konsumen.
Dalam konteks ini, media sosial berperan besar tidak hanya sebagai saluran informasi, tetapi juga dalam membentuk citra dan branding produk. Oleh karena itu, brand memiliki keharusan untuk menjadi lebih aktif dan proaktif dalam mengomunikasikan status kehalalannya di platform digital.
Brand telah memanfaatkan tren ini dengan menampilkan informasi bahwa produk mereka sudah disertifikasi halal, khususnya dalam kategori makanan minuman dan restoran. Ke depan, tren ini diperkirakan akan semakin menguat seiring dengan tumbuhnya kesadaran konsumen yang makin terdigitalisasi. Ini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan strategis bagi setiap brand yang ingin memenangkan hati dan kepercayaan konsumen muslim, terutama dari generasi muda (milenial dan Gen Z) yang merupakan populasi responden utama dalam survei ini.
Secara keseluruhan, media sosial telah mengukuhkan posisinya sebagai ekosistem yang krusial dalam lanskap produk halal di Indonesia. Meskipun mayoritas konsumen mungkin hanya sesekali mencari informasi, ketika informasi itu muncul, pengaruhnya terhadap preferensi dan pilihan sangatlah besar. Dominasi platform visual seperti TikTok, YouTube, dan Instagram mengharuskan brand untuk menyusun strategi komunikasi halal yang menarik, autentik, dan video-centric untuk memastikan informasi kehalalan produk mereka sampai dan memengaruhi keputusan konsumen secara efektif.
Artikel ini dipublikasikan dalam Majalah Halal Review Edisi 7/November-Desember/2025 yang dapat diakses melalui tautan berikut:https://ihatecpublisher.com/majalah/halal-review-edisi-07-november-desember-2025/