Halal Bukan Sekedar Label, Tapi Sebuah Komitmen
Mohamad | Januari 2026
Label halal memiliki makna penting bagi Arie Untung di setiap aspek kehidupannya.
Semenjak hijrah, Arie Untung jadi sangat peduli pentingnya produk halal. Kini ia semakin selektif dalam membeli dan mengonsumsi barang, yaitu dengan memilih produk yang sudah bersertifikat halal dan menyematkan logo halal. Perubahan juga merambah ke gaya hidupnya, terutama ketika berwisata ke luar negeri, yang lebih memilih destinasi dan penawaran wisata yang muslim-friendly.
“Sebagai orang yang suka travelling ke luar negeri. Saya melihat beberapa destinasi favorit di dunia sudah memiliki area muslim-friendly, yang menyediakan tempat ibadah dan restoran halal, serta aktivitas yang ramah bagi umat muslim,” ungkapnya.
Berdasarkan pengalamannya, Arie menyebutkan beberapa negara telah mengangkat standar sebagai destinasi yang ramah bagi wisatawan muslim, diantaranya Jepang. Negara ini cukup diminati karena keseriusannya dalam memfasilitasi kebutuhan para pelancong muslim, dengan menyediakan fasilitas-fasilitas, seperti masjid yang mudah diakses dan restoran yang menyajikan makanan halal.
Yang lebih menarik lagi, Arie mengungkapkan beberapa kota-kota di Eropa kini telah direkomendasikan sebagai destinasi wisata masyarakat muslim dari berbagai negara. Semisal Kota London yang memiliki berbagai tempat wisata menarik dan ikonik. Bahkan di kota yang merupakan rumah bagi lebih dari satu juta muslim ini bertebaran masjid dan mudah menemukan makanan halal.
“Halal sudah menjadi tren global, banyak negara berlomba-lomba mengembangkan industri halal, termasuk pariwisata halal. Salah satu bentuk konkretnya, banyak restoran di Jepang yang telah memperoleh, atau mempertimbangkan sertifikasi halal sebagai salah satu jalan dalam merespon turis-turis yang datang,” terangnya.
Arie mengaku, dirinya dan keluarga lebih mengutamakan mencari restoran yang berlogo halal dan bersertifkat halal ketika berwisata keluar negeri. Ini penting dilakukan untuk menghindari mengomsumsi makanan dan minuman yang haram, mengingat di banyak negara non muslim, banyak sekali restoran yang belum terjamin kehalalannya sesuai syariat Islam.
“Halal bukan sekadar label, tapi sebuah komitmen untuk mentaati aturan Allah SWT. Kita diperintahkan untuk mengonsumsi makanan yang bukan cuman halal, tapi juga thayyiban agar tidak membahayakan tubuh kita. Kalau belum ketemu restoran halal lebih baik ditunda dulu sampai mendapatkannya atau bila sudah mendesak dapat mencari makanan vegetarian,” jelasnya.
Selain mencari restoran halal, Arie juga selalu mencari hotel ramah muslim yang menyediakan ruang ibadah sholat, menu makan halal, fasilitas dan aktivitas yang sesuai syariah Islam. Berkomunikasi dan berinteraksi dengan komunitas muslim setempat bisa menjadi salah satu cara untuk mendapatkan informasi hotel yang ramah muslim.
“Selain menambah khazanah silaturahmi, berinteraksi dengan masyarakat muslim setempat, kita bisa mendapatkan informasi hotel yang tidak hanya ramah muslim, tapi juga nyaman, bahkan restoran-restoran yang halal dan nikmat,” ungkapnya.
Produk Halal Lokal Harus Mendunia
Pemeluk agama Islam terus meningkat, saat ini populasi muslim dunia diperkirakan mencapai 2,02 miliar jiwa atau 25% dari total penduduk dunia, dan Indonesia menyumbang sekitar 13% dari seluruh umat muslim di dunia. Angka tersebut diprediksi akan terus meningkat hingga 2,2 miliar jiwa pada tahun 2030.
Arie menilai sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki peluang sekaligus potensi pasar yang sangat besar di bidang industri halal. Apalagi pemerintah juga sudah mengeluarkan banyak kebijakan yang mendukung para pelaku industri halal lewat sertifikasi halal yang lebih cepat dan satu pintu untuk mempercepat pertumbuhan.
“Sertifikasi halal menjadi nilai tambah dan daya tarik bagi konsumen, serta menjadi gerbang bagi Indonesia untuk masuk pasar global. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, produsen, dan konsumen dalam memajukan industri halal di Indonesia,” ucapnya.
Selaku public figure sekaligus pengusaha, Arie berkomitmen untuk mendukung industri halal, terutama bagi pengembangan produk halal asli Indonesia. Hal ini diwujudkan dengan memotori sebuah acara bertajuk ‘Hijrah Fest’, yang diharapkan dapat membuat hijrah menjadi gerakan yang semakin populer di generasi milenial dan bisa mempersatukan komunitas-komunitas hijrah di Tanah Air. Melalui festival ini para milenial dan komunitas hijrah bisa saling berkumpul, bertemu, dan bertukar pendapat.
Hijrah Fest yang pertama kali digelar pada 2018 sukses menarik ribuan pengunjung anak muda. Ini menunjukkan generasi milenial sudah sangat peduli dengan Islam, dan tumbuhnya kesadaran masyarakat muslim akan pentingnya halal lifestyle. “Ketika semakin banyak orang yang hijrah, maka secara otomatis akan semakin banyak orang yang sadar untuk mencari dan mengonsumsi produk-produk halal,” ujarnya.
Guna meningkatkan kesadaran dan menumbuhkan semangat wirausaha di sektor industri halal. Hijrah Fest bekerjasama dengan Dewan Ekonomi Syariah Bank Indonesia, menggelar kompetisi ‘Hijrahpreneur’ yang mencari entrepreneurship
bagi pelaku UMK (Usaha Mikro Kecil), untuk mendorong operasional bisnisnya dijalankan sesuai dengan nilai-nilai syariat Islam.
“Kami mencari pelaku usaha yang A to Z nya harus halal standar, dimana peserta harus mengikuti tahapan yang diperlukan dalam persyaratan sertifikasi halal, mulai dari proses mencari bahan baku, proses pembuatan sampai pembuangan (limbah -red),” sebut Arie.
Selanjutnya edukasi tentang halal dilakukan melalui ‘Halal Move on Fest’. Acara yang mempertemukan antara para muslim muslimah lintas generasi melalui ragam aktivitas sarat inspirasi dan nilai positif tentang halal lifestyle dan halal industry, baik di Indonesia maupun global.
Menurut Arie industri halal sudah sangat menggeliat di masyarakat saat ini, bukan lagi sekedar lifestyle namun menjadi kebutuhan. Edukasi halal telah memberi dampak positif, banyak generasi muda memiliki keingintahuan yang cukup tinggi atas produk – produk yang halal, dan tentunya ini menjadi keberpihakan mereka untuk mengonsumsi produk halal.
Ada lebih dari 150 produk yang ikut ambil bagian dalam Pameran Halal Move on Fest yang digelar pertama kali di tahun 2023 lalu. “Produk tersebut berasal dari beragam industri halal, mulai dari halal food, fashion, travel, kesehatan, properti syariah, rumah sakit syariah, edukasi, dan aneka produk halal lainnya,” sebutnya.
Arie menambahkan meningkatnya kesadaran halal masyarakat dan kewajiban sertifikasi halal menjadi peluang bagi pelaku usaha, tak terkecuali bagi dirinya. Dia pun kini tengah melakukan persiapan sertifikasi halal untuk usaha kedai kopinya ‘AKU Kopi’ (Arie Kuncoro Untung Kopi) yang baru dirintis bersama istrinya di pertengahan 2022 lalu.
Meski belum memiliki sertifikasi halal, Arie mengaku sangat fokus menjaga kehalalan produknya. Upaya yang dilakukannya dengan terus memantau asal bahan baku, pengolahan, produk yang dihasilkan, pembuangannya, hingga keuntungannya, agar aman dikonsumsi dan bisa bermanfaat bagi umat muslim.
“Kami dalam proses sertifikasi halal, mudah-mudahan dalam waktu dekat sertifikatnya akan terbit. Sebagian keuntungan dikembalikan ke masyarakat dan umat dalam bentuk makan siang gratis setiap hari Jumat, supaya memberikan keberkahan lebih,” tutup dia.
***
Artikel ini dimuat dalam majalah Halal Review 08/Agustus/2024