Komunitas Sebagai Tulang Punggung Pemasaran Produk Halal
Dr. Wahyu T. Setyobudi, MM., ATP., CPM. | 8 Januari 2026
Komponen Komunitas Brand Halal Yang Sukses
“Ada kartu member-nya pak?” Ini adalah pertanyaan yang jamak kita dengar ketika berbelanja di café, minimarket, atau bahkan sekedar laundry untuk sehari-hari. Sadar atau tidak, banyak di antara konsumen yang ternyata tidak memiliki kartu member, bahkan tidak memiliki niat untuk bergabung dengan program loyalitas, walaupun rutin melakukan pembelian. Secara umum, keuntungan masuknya pelanggan ke dalam suatu komunitas sangatlah besar bagi sebuah brand. Sayangnya, tidak semua pemasar mampu menarik hati konsumen. Nah dalam konteks produk halal, prinsip-prinsip praktek membangun komunitas tersebut berasosiasi dengan konsep jamaah yang telah lama menjadi perhatian utama.
Sejak 14 abad lalu, Nabi SAW telah menekankan pentingnya konsep jamaah dalam hubungan masyarakat muslim. Sebagai contoh, sholat berjamaah mendapatkan pahala dua puluh tujuh kali dibanding sholat sendirian. Selain itu, dalam berbagai kesempatan, beliau juga menekankan bahwa serigala hanya akan memakan domba yang tercecer dari kelompoknya. Begitu pentingnya hidup dalam jamaah bagi masyarakat muslim, sehingga tidak berlebihan jika kita kemudian menyimpulkan bahwa jamaah, secara strategis adalah tulang punggung bagi kegiatan ibadah, maupun muamalah. Atau dapat diartikan bahwa pemasaran berbasis komunitas adalah strategi terbaik dalam membangun brand halal.
Keuntungan memiliki komunitas loyal bagi perusahaan sangat beragam. Sebutlah misalnya produktivitas biaya pemasaran yang dapat melejit. Sebuah teori lama, the bucket theory of marketing menyatakan bahwa biaya untuk menarik pelanggan baru (attract), ternyata bisa mencapai lima kali lebih besar daripada biaya untuk mempertahankan pelanggan lama (retain). Dengan demikian, fokus pada program retention membawa profitabilitas ke level yang lebih baik. Belum lagi dengan komunitas, perusahaan dapat memiliki agen-agen advokat yang membela jika ada berita negatif terhadap brand, menyumbangkan solusi untuk permasalahan yang dihadapi oleh perusahaan, serta menyarankan rekan-rekannya untuk membeli brand kita.
Nah pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana kriteria suatu komunitas brand halal kita katakan sukses? Paling tidak ada tiga komponen utama yang perlu kita perhatikan dalam membangun komunitas brand halal. Ketiga hal tersebut adalah nilai-nilai halal, kegiatan komunitas, dan keunggulan produk. Ketiga komponen tersebut perlu dianyam secara selaras, sehingga ketika ketiganya saling mengait, kita akan mendapatkan komunitas yang produktif. Nilai-nilai halal merupakan saripati dari berbagai prinsip transaksi muamalah yang disyariatkan, seperti keadilan, keterbukaan, menolak riba dan spekulasi. Sementara itu kegiatan komunitas mengacu pada keaktifan hubungan antar anggota, baik yang bersifat organik, dikelola sendiri, ataupun yang diinisiasi dan didukung oleh brand. Keunggulan produk di sisi lain merupakan fitur-fitur baik yang ditawarkan dari produk kita. Dengan demikian, hanya ketika ketiga komponen tersebut bertemu, kita akan mendapatkan program komunitas yang sukses. Secara lebih detil dapat dilihat pada gambar berikut.
Dalam perjalanan mencapai target ideal atau bisa kita sebut sweet spot tersebut, para pemasar mungkin menemui tiga kondisi utama yaitu pertama, ketika telah mampu mengusung nilai-nilai halal dalam kegiatan komunitas, namun belum bisa mengaitkannya dengan keunggulan produk. Di sini kita menemukan fenomena kontribusi sosial, yaitu kegiatan yang dilaksanakan tidak efektif mengangkat brand dari sisi penjualan atau keunggulan bersaing. Walaupun secara umum kontribusi adalah hal yang baik, namun jika dilihat dari sisi pemasaran, tentu tidak diharapkan. Kita ingin program yang dibuat berdampak baik, secara sosial, terlebih bagi kemampuan produk melakukan penetrasi di segmen target.
Kedua kondisi yang terjadi ketika keunggulan produk sudah dapat dikomunikasikan bersamaan dengan nilai-nilai halal, tetapi belum dapat masuk dalam aktivitas komunitas. Dalam hal ini kita menemui kondisi self centered marketing, yaitu kurangnya pelibatan konsumen. Kondisi ini tentu berbahaya, karena dinamika yang ada di kalangan konsumen belum dapat ditangkap oleh perusahaan. Perusahaan perlu membuka diri untuk mendengarkan, sekaligus memulai percakapan dengan pelanggan. Kanal-kanal informasi seperti sosial media, call center, hotline atau sarana lain perlu dibuka agar terjadi percakapan dua arah untuk mendekatkan jarak antara konsumen dengan brand. Hanya melalui komunikasi dua arah dapat muncul trust dan pada akhirnya loyalitas akan terbangun dengan sendirinya.
Kondisi terakhir yang perlu kita waspadai adalah ketika kita telah mampu membangun hubungan baik dengan komunitas, dan mampu mendorong keunggulan produk, namun kurang menonjol dari sisi komunikasi nilai-nilai halal. Pada kondisi ini, kita masuk dalam kriteria indifferent, artinya tidak berbeda dengan produk lain pada umumnya. Dalam hal ini, kehalalan tidak mampu mewarnai kegiatan, dan hanya menjadi semacam order qualifier. Dalam jangka pendek, kerugiannya tidak terlalu terasa. Namun dalam jangka panjang, program yang tidak membawa nilai-nilai halal tersebut bisa beresiko menjadi bumerang pada pesan-pesan yang hendak disampaikan.
Demikianlah beberapa panduan yang kiranya dapat berguna dalam membangun komunitas produk halal yang mampu menjadi tulang punggung bagi pemasaran produk kita. Erat-erat mengikat tali, bambu dianyam menjadi rakit. Agar produk selalu di hati, jangan lupa komunitas yang solid.
***
Artikel ini dimuat dalam majalah Halal Review 02/Februari/2024