Ramadhan dan Huru-hara Lapis Legit
Dr. Wahyu T. Setyobudi | 4 Maret 2026
HalalReview.co.id – Toko kue itu tidak terlalu besar, mungkin sekitar lima meteran, ukuran rata-rata kios kecil di Jakarta Barat. Tidak terlalu mencolok, sehingga untuk saya yang praktis setiap hari bolak-balik lewat jalan itu, hampir tidak pernah tahu keberadaannya. Namun beberapa hari terakhir ini, pengunjungnya luar biasa banyak. Berkerumun, hingga hampir semua pengendara melambat sekedar untuk menengok ada apa di toko itu. Ternyata perseteruan digital antara Ci Mehong dan Codeblu membawa berkah untuk penjual lapis legit lainnya. Huru-hara dunia perlapislegitan ini semakin meriah karena timing-nya yang pas, yaitu di awal bulan Ramadhan ketika ramai konsumen berburu makanan untuk berbuka.
Seperti biasa, suatu isu yang viral akan diramaikan oleh netizen yang budiman. Kaum mendang-mending mulai membagikan info-info A1 dan hidden gems terkait produk-produk di sekitarnya yang dianggap lebih baik. Dalam kasus ini, muncullah nama-nama seperti Lapis Legit Anggrek, Maharaja, Fika Cake, dan merek lain yang baru terdengar.
Instant awareness, suatu brand yang tetiba berada pada pusaran perhatian khalayak. Berkah memang, namun jika tidak dikelola dengan baik, keuntungan ini hanya akan bersifat hype semata. Ketika gairah digitalnya berkurang, maka toko akan kembali ke setelan awal. Ambil contoh salah satu merek tersebut, karena penasaran, saya akhirnya ikut berdesak-desakan antre. Panas, berkeringat dalam kerumunan emak-emak, yang anda tahu sendiri, sangat “gigih”. Namun usaha itu harus berakhir kecewa, karena lapis legit sudah habis. Banyak konsumen yang memborong, diduga jastip (jasa titip).
Tidak semua bisnis siap menerima orderan yang tiba-tiba dalam jumlah banyak. Tergoda untuk mengikuti keinginan konsumen, melihatnya sebagai peluang yang tidak boleh disia-siakan, mengambil keuntungan sebesar mungkin. Jumlah produksi ditambah, karyawan dipaksa untuk bekerja lembur, dengan iming-iming insentif tambahan. Peningkatan demand justru berdampak kualitas produk turun, kualitas layanan drop, dan ujungnya adalah deviasi antara harapan yang dibangun oleh sosial media, dengan kenyataan di lapangan, yang ujungnya adalah negative word-of-mouth. Angin buritan berubah menjadi angin haluan. Per saat ini saja, saya lihat rating toko tersebut di Google adalah 3.6, cukup rendah dibanding toko kue pada umumnya.

Memang tidak salah memanfaatkan timing, namun bagi pengusaha yang berpengalaman, kelangsungan bisnis jangka panjang lebih penting daripada keuntungan jangka pendek. Membangun kekuatan bisnis yang fundamental, lebih utama daripada terbius dengan permintaan semu. Inilah yang sebenarnya diajarkan oleh Ramadhan, bulan mulia, kepada kita. Konsep sentral dari Ramadhan adalah menahan diri, sebagai bagian dari self discipline. Selepas azan subuh berkumandang, sehaus apa pun kita, dan semenarik apa pun es campur yang dihiasi cincau, alpukat, potongan buah nangka yang disiram susu, tetap tidak akan kita sentuh. Kita mengarahkan pandangan pada apa yang jauh, daripada apa yang dekat. Melatih otot motivasi kita, untuk menahan kenikmatan saat ini, demi mencapai tujuan jangka panjang.
Oleh karena itu, dalam tulisan ini, bolehlah saya sampaikan suatu perspektif pemikiran bagaimana Ramadhan memengaruhi kita sebagai seorang pebisnis halal. Pertama-tama, latihan self discipline yang diajarkan oleh Ramadhan akan membuat kita dapat mengambil keputusan-keputusan penting dengan lebih jernih. Clarity of Decision Making, maksudnya, keputusan yang tidak dikotori dengan keinginan-keinginan sesaat, seperti misalnya kesempatan keuntungan besar yang tidak rasional, tindakan tidak etis yang merugikan pihak lain, atau keinginan untuk dipuji-puji atas pencapaian perusahaan. Seluruh kelemahan karena nafsu manusia ini dapat ditekan jika memiliki disiplin diri. Gantinya, keputusan dilakukan secara cermat, berorientasi jangka panjang, dan menguntungkan seluruh anggota ekosistem yang menopang proses bisnis perusahaan. Walaupun terkadang tidak mendapat keuntungan sebesarnya, namun lebih kontinu dan menenangkan.
Secara langsung, keputusan bisnis yang seperti di atas akan berpengaruh pada banyak hal, pertama adalah synergistic growth, pertumbuhan yang harmonis. Anda pasti pernah mendengar istilah OKB, orang kaya baru. Istilah negatif yang dilabelkan pada perilaku orang yang tiba-tiba kaya. Biasanya merujuk pada gaya atau tutur kata “norak” yang ditunjukkan pada publik. Pertumbuhan yang terlalu cepat atau terlalu lambat sama-sama tidak menguntungkan bagi perusahaan. Yang paling baik adalah pertumbuhan yang masih dapat dikelola, sehingga tidak membawa efek samping yang menekan perusahaan. Pertumbuhan terlalu cepat karena ambisi, pertumbuhan yang terlalu lambat karena takut risiko, atau kondisi manajemen yang belum rapi. Keduanya perlu diseimbangkan.
Terkait dengan itu, maka penting kiranya kita berfokus pada foundational strength, kekuatan organisasi yang menjadi fondasi pertumbuhan perusahaan. Kekuatan ini yang menjamin pertumbuhan tetap sehat dan berkelanjutan. Beberapa hal di antara kekuatan mendasar ini adalah efektivitas organisasi, kompetensi insan-insan perusahaan, customer portfolio yang sehat, struktur biaya yang efisien, kekuatan modal, standard operation procedure (SOP), dan faktor lainnya. Membangun hal-hal ini, tidaklah instan. Perlu proses panjang, pengalaman, juga terkadang kegagalan yang menghasilkan pembelajaran. Suatu learning curve yang dieksplorasi secara bertahap, sabar, dan jangka panjang.
Selanjutnya, Ramadhan yang mengajarkan kita bahwa ibadah perlu seimbang antara hablum minallah dan hablum minannas, memberi pesan bahwa hubungan dengan stakeholder perlu dibina dengan baik. Hal ini dalam bisnis disebut collaborative partnership. Di masa Rasulullah SAW, banyak peristiwa kolaboratif terjadi di bulan Ramadhan. Misalnya perang Badar yang berhasil gilang gemilang, persiapan penggalian parit pada perang Khandaq, dan Fathu Makkah, ketika kaum muslimin masuk ke kota Makah sebagai pemenang. Seluruh peristiwa itu mengajari bahwa dalam keadaan puasa, ketika nafsu ditahan, maka hati akan tertaut dan karya-karya besar bisa diwujudkan melalui kolaborasi.
Terakhir, konsep disiplin diri dan pengambilan keputusan strategis yang jernih akan menghasilkan social impact, yaitu manuver-manuver bisnis yang berdampak positif pada lingkungan sosial. Seperti misalnya konsep memberi takjil untuk berbuka, membayar fidyah, dan zakat fitrah sebagai penyucian jiwa, semuanya dikaitkan dengan kepedulian sosial. Dengan demikian, bisnis tidaklah bisa dilepaskan dengan tujuan utamanya, yaitu mewujudkan rahmatan lil ‘alamin, menebar kesejahteraan seluas-luasnya pada alam ciptaan Allah.
Demikianlah, saya teringat lirik lagu Anak Bertanya pada Bapaknya, karya Bimbo yang amat terkenal di masa kecil saya. “Lihatlah langit keampunan yang indah, membuka luas dan angin pun semerbak. Nafsu angkara terbelenggu dan lemah. Bunga ibadah dalam ikhlas sedekah.” Ketika nafsu kita tahan, membentuk self discipline, pandangan dan judgement kita akan jernih. Di situlah kemudian keputusan bisnis terbaik akan bisa diambil, keputusan yang melanggengkan kebaikan bagi seluasnya pemangku kepentingan dan berkelanjutan. Semoga sukses menjalankan ibadah puasa, dan Allah mengaruniakan khusyuk. Salam semangat pembaharu.
Artikel ini dimuat dalam majalah Halal Review 3/Maret-April/2025 yang dapat diakses disini:
https://ihatecpublisher.com/majalah/halal-review-edisi-03-mar-apr-2025/