Peran Irwandi Jaswir Dalam Membangun Industri Halal Global
Andika Priyandana | 3 Maret 2026
Melalui kontribusinya di bidang riset dan inovasi, Irwandi Jaswir telah berperan penting dalam mendorong perkembangan industri halal global yang bernilai triliunan dolar.
HalalReview.co.id – Industri halal global terus tumbuh pesat, dengan nilai yang diperkirakan mencapai US$3 triliun pada 2025, dan memberikan kontribusi hingga US$5 miliar per tahun bagi produk domestik bruto (PDB) Indonesia (Setwapres, 2024). Pertumbuhan ini tidak hanya terjadi di negara-negara mayoritas muslim, tetapi juga di negara-negara nonmuslim seperti Korea Selatan, Jepang, dan Cina, yang semakin tertarik untuk memasuki pasar halal. Di Korea Selatan misalnya, industri halal mulai berkembang pesat sejak mereka memahami potensi besar di balik pasar halal, terutama dalam sektor daging dan produk unggas.
Namun, meskipun Indonesia menjadi negara muslim terbesar kedua dunia dan merupakan salah satu pasar halal terbesar secara global, negara ini masih menghadapi tantangan untuk menjadi pemain utama di sektor ekspor halal. Indonesia lebih banyak menjadi konsumen daripada produsen dalam konteks produk-produk halal. Negara-negara seperti Brasil, Australia, dan Thailand, yang bahkan memiliki populasi muslim lebih kecil, justru mendominasi ekspor daging dan produk halal dunia.
Di tengah tantangan ini, Irwandi Jaswir, seorang ilmuwan Indonesia terkemuka di bidang halal, telah berperan aktif dalam mendorong inovasi halal di banyak negara. Ia telah menulis lebih dari 250 karya ilmiah, menerbitkan sekitar 50 buku, dan memegang 11 paten terkait inovasi halal, termasuk pengembangan gelatin halal dan alat deteksi lemak babi.
Selain berkiprah sebagai dosen dan peneliti di Universitas Islam International Malaysia dan Universitas Negeri Padang, Irwandi juga menjadi konsultan bagi beberapa lembaga internasional, seperti Saudi Food and Drug Authority dan lembaga halal di Korea Selatan. Kontribusi dan pengalaman internasionalnya menjadikan Irwandi salah satu pionir dalam pengembangan industri halal global.
Memperkuat Ekosistem Halal: Tantangan dan Peluang Bagi Indonesia
Salah satu kunci keberhasilan industri halal adalah ekosistem yang kuat. Malaysia telah menunjukkan bahwa dengan ekosistem halal yang terintegrasi, negara dapat menjadi pusat industri halal global. Di Malaysia, hampir semua kantor pemerintahan dan kementerian terlibat dalam pengembangan industri halal, dari sertifikasi hingga dukungan penelitian dan pengembangan.
Inisiatif ini mencakup pendanaan untuk pusat-pusat riset halal, sertifikasi, dan bahkan pembentukan pusat pengembangan halal yang secara langsung mendukung pertumbuhan industri halal. Kemajuan industri halal Malaysia dan keberhasilannya merajai industri halal global, tak dapat dipungkiri karena peran dan dorongan dari pemerintah Malaysia yang sangat signifikan.
Dalam konteks Indonesia yang sedang gencar mengejar kuantitas penerapan sertifikasi halal, Irwandi berpandangan meski sertifikasi halal adalah penting, namun sebaiknya tidak menjadi fokus utama. “Jangan sampai kita hanya sibuk dengan sertifikasi halal, sementara kita masih menjadi pasar bagi produk halal dari luar negeri,” ujarnya. Ia menekankan bahwa tantangan terbesar adalah membangun ekosistem industri halal yang mampu bersaing di pasar global dan bukan sekadar menjadi konsumen dari produk halal negara lain.
Indonesia, meskipun memiliki pasar halal yang sangat besar, masih menghadapi berbagai kendala dalam memperkuat ekosistem halal. Banyak produk halal Indonesia masih didominasi oleh produk impor, sementara industri lokal belum berkembang optimal. “Kita ini membuka keran bagi industri halal, tapi sayangnya produk-produk dari luar negeri yang justru kita konsumsi,” kata Irwandi. Ia menekankan agar fokus bukan hanya pada sertifikasi, tetapi lebih kepada pembangunan ekosistem industri halal yang kompetitif di tingkat internasional.
Irwandi juga mengusulkan pembentukan satu badan pengembangan halal di Indonesia yang berada langsung di bawah presiden. Badan ini akan bertindak sebagai pusat koordinasi lintas kementerian untuk menyatukan visi dan fokus dalam mengembangkan industri halal nasional. Dengan demikian, Indonesia bisa mengoptimalkan potensi industrinya dan tidak hanya menjadi pasar bagi produk halal dari negara lain.
Penelitian dan Pengembangan Adalah Kunci Kemajuan Industri Halal
Penelitian dan pengembangan memainkan peran penting dalam memastikan masa depan industri halal, terutama dalam menciptakan produk-produk inovatif yang memenuhi standar halal global. Irwandi menekankan bahwa tanpa riset yang mendalam dan inovasi berkelanjutan, industri halal di Indonesia akan kesulitan bersaing dengan negara-negara lain yang lebih maju dalam pengembangan produk halal. “Industri yang kuat harus ditopang oleh penelitian dan pengembangan yang kuat. Tanpa inovasi, industri halal kita tidak akan bertahan lama,” kata Irwandi.
Salah satu contoh nyata kontribusi Irwandi dalam penelitian adalah pengembangan alat Electronic Nose yang digunakan untuk mendeteksi kandungan lemak babi dan alkohol dalam makanan. Alat ini berukuran kecil, seukuran pena, dan sangat membantu dalam memastikan kehalalan produk secara cepat dan akurat. Selain itu, Irwandi juga memiliki beberapa paten terkait pengembangan gelatin halal dari sumber alternatif seperti ikan, yang penting untuk berbagai industri, mulai dari pangan hingga farmasi.
Selain riset konvensional, teknologi juga memainkan peran penting dalam mendukung penelitian dan pengembangan di industri halal. Teknologi rantai blok (blockchain) dan Internet of Things (IoT) memungkinkan pengawasan rantai pasokan produk halal dari hulu ke hilir secara transparan dan efisien. Irwandi menyebutkan bahwa teknologi ini membantu memastikan kehalalan produk di seluruh proses produksinya. “Teknologi seperti blockchain dapat memperkuat penelusuran halal, memastikan integritas produk dari bahan mentah hingga berbentuk barang jadi dan sampai ke tangan konsumen,” jelasnya. Dengan adopsi teknologi ini, industri halal Indonesia dapat meningkatkan daya saing di pasar global dan memastikan standar halal yang lebih ketat.
Meski di Indonesia sudah ada kesadaran pentingnya riset dan pengembangan dalam industri halal, namun tantangan yang dihadapi masih besar. Laboratorium-laboratorium halal di Indonesia perlu diperkuat agar dapat menghasilkan inovasi produk halal yang kompetitif di pasar internasional. Irwandi sekali lagi menegaskan bahwa tanpa dukungan penelitian dan pengembangan yang kuat, Indonesia akan sulit bersaing dengan negara-negara yang sudah lebih dulu maju dalam teknologi halal.
Menghadapi tantangan baru seperti cultured meat (daging buatan) dan makanan berbasis serangga, riset yang mendalam sangat diperlukan. “Tantangan ini nyata, dan tanpa riset serta inovasi, kita akan tertinggal,” tegas Irwandi.
***
Artikel ini dimuat dalam majalah Halal Review 09/September/2024
Artikel ini juga dapat dinikmati dalam format majalah. Akses edisi lengkapnya di sini: sini: https://ihatecpublisher.com/majalah/halal-review-magazine-edisi-09-september-2024/