Catatan Penting untuk Halal Traveling
Anidah | 29 Januari 2026
Semua orang suka traveling. Menyeruput kopi panas di ketinggian 1000 mdpl sambil ditemani gulungan awan putih, atau berjalan di tepian pantai seraya menjejaki pasir putih, hingga snorkeling menikmati keindahan terumbu karang dan ikan warna-warni. Apapun ragam aktivitasnya, dari yang santai hingga yang memicu adrenalin, traveling atau berwisata adalah kebutuhan dalam hidup.
Berwisata atau traveling tak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Sebagai salah satu kebutuhan tersier, traveling memberikan bayak hal positif. Kita bisa sejenak rehat dari kejenuhan aktivitas rutin, dan mencari suasana baru yang mampu menyegarkan kembali fisik maupun pikiran.
Riuhnya media sosial turut pula meramaikan tren ini. Sebuah postingan foto atau video pendek dengan latar gunung, pantai, hingga air terjun, berhasil menarik atensi banyak orang untuk berwisata ke tempat serupa. Banyak pula didapati konten medsos yang membahas informasi tempat wisata, itinerari, akses transportasi, hingga persiapan budget. Semuanya mempermudah perencanaan sebelum pergi berwisata.
Pun demikian bagi wisatawan muslim, selain research dan perencanaan yang baik, ada hal yang tak kalah penting yang perlu diperhatikan, yaitu hal-hal terkait dengan kebutuhan fasilitas penunjang yang muslim friendly. Hal ini menjadi penting, karena tuntutan pelaksanaan ibadah harian seperti sholat tetap melekat sekalipun dalam perjalanan. Semuanya perlu dipastikan terlebih dahulu agar kegiatan wisata tak malah menghambat pelaksanaan ibadah.
Destinasi Tujuan Wisata
Hal pertama yang perlu diperhatikan tentu saja destinasi tujuan wisata, apakah di dalam negeri, ataukah luar negeri. Dua tujuan ini akan menentukan jarak dan lamanya waktu perjalanan, yang berpengaruh pada ketentuan syafar bagi muslimah. Destinasi di dalam negeri pun sangat beragam. Landscape pantai atau pegunungan, keduanya terbentang sepanjang Aceh hingga Merauke.
Saat ini bahkan terdapat 10 Destinasi Halal Prioritas Nasional yang ditetapkan pemerintah, diantaranya; Aceh, Riau dan Kepulauan Riau, Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur (Malang Raya), Lombok, dan Sulawesi Selatan (Makassar dan sekitarnya). Keberadaan destinasi halal akan memudahkan wisatawan muslim baik lokal maupun mancanegara dalam mendapatkan layanan tambahan amenitas, atraksi, dan aksesibilitas fasilitas yang menunjang pelaksanaan ibadah di tempat wisata.
Namun jikapun pilihan destinasi wisata jatuh kepada daerah yang masih sangat terbatas fasilitas pendukung ibadah untuk muslim, atau sulit mencari kuliner halal, tak perlu khawatir karena kita bisa memanfaatkan jasa tour guide halal yang bisa memandu sepanjang aktivitas berwisata. Tour guide halal akan mengatur itinerari selama liburan dengan tetap mengakomodir waktu ibadah, hingga merekomendasikan kuliner halal untuk bersantap.
Efisiensi Packing
Berwisata tak hanya tentang mengunjungi dan menikmati suasana baru, namun juga mengabadikannya dalam format foto maupun video. Tak jarang dalam kunjungan wisata yang singkat kita perlu berstrategi dalam hal penampilan. Jangan sampai galeri foto dan video nantinya hanya mengenakan outfit itu-itu saja. Maka efisiensi mengemas pakaian hingga seni mix and match penting mendapat perhatian.
Pertama pastikan jumlah dan jenis pakaian yang harus dibawa sesuai dengan lamanya durasi liburan. Pilih bahan yang tak mudah kusut dan berbobot ringan. Jika menghabiskan waktu seminggu penuh, laundry pakaian bisa jadi pertimbangan dari pada membawa banyak baju dalam koper. Pilih pakaian dengan warna dan motif berbeda agar lebih variatif. Cukupkan jaket atau sweater 1 stel saja, dan pastikan matching dipadu-padankan untuk menciptakan looks yang berbeda.
Baiknya gunakan 1 pakaian untuk 1 hari saja. Setelah seharian kondisi pakaian akan kotor terkena keringat. Lumrahnya kita melaksanakan ibadah sholat di tempat destinasi wisata dengan pakaian yang dikenakan, dan tak sempat berganti. Jangan gunakan lagi pakaian kotor esok harinya jika belum dicuci.
Selain pakaian, perlengkapan sholat pribadi seperti mukena atau sarung, dan sajadah juga perlu dipertimbangkan untuk dibawa. Alat sholat pribadi biasanya lebih nyaman digunakan di banding yang disediakan untuk umum. Jika pakaian telah sempurna menutup aurat dan longgar, penggunaan alat sholat memang bisa saja di-skip.
Untuk mereduksi volume pakaian, kita bisa gunakan vacuum bag agar baju-baju bisa muat di dalam koper. Kantong kedap udara ini ampuh menyingkirkan udara sehingga menyisakan banyak ruang dan mempermudah pengaturan di dalam koper.
Cek Akomodasi
Tempat menginap jadi hal penting berikutnya. Pastikan hotel atau jenis penginapan lainnya yang dipilih adalah hotel dengan kredibilitas yang baik. Jangan mudah percaya dengan informasi di internet. Baiknya lakukan blog walking untuk mencari review dari pengguna langsung. Jangan sampai tergiur harga murah, namun ternyata hotel yang dipilih kerap digunakan untuk aktivitas maksiat seperti prostitusi.
Beberapa penginapan melabeli diri dengan Hotel Syariah, yang bisa membantu kita memilih preferensi hotel yang muslim friendly. Akan lebih baik lagi jika restoran hotel telah mendapat sertifikasi halal. Jika kita terpaksa sarapan di restoran hotel yang masih menyajikan menu non halal seperti olahan daging babi dan minuman alkohol, baiknya kita pilih menu yang minim pengolahan, seperti nasi, telur rebus, susu, sereal, buah, dan salad. Atau jika dapat diusahakan membeli sarapan di luar hotel dari gerai waralaba yang sudah tersertifikasi halal.
Fasilitas di Tempat Wisata
Kenyamanan berwisata tak hanya tentang keindahan tempat yang dikunjungi, bagi wisatawan muslim tentu akan sangat membantu jika tersedia tempat sholat yang memadai, nyaman, dan bersih. Muslimah juga akan terbantu jika tempat wudhu tertutup dari pandangan luar, dan ada space khusus yang terpisah dari jamaah laki-laki di tempat sholat. Fasilitas demikian kini tengah marak digalakan pemerintah. Di bawah koordinasi Kemenparekraf, Indonesia tengah bersiap menyediakan wisata halal, yang salah satu parameternya adalah ketersediaan tempat ibadah sholat dan fasilitas pendukungnya di destinasi wisata. Insyaallah ke depannya akan semakin banyak fasilitas ibadah sholat di destinasi wisata.
Fasilitas serupa mungkin tak mudah kita dapatkan tatkala berkunjung ke luar negeri terutama negara minoritas muslim. Tak perlu bingung, kita bisa memanfaatkan tempat apapun untuk sholat, seperti lorong atau sudut ruangan asalkan bersih.
Fasilitas yang tak kalah penting yaitu ketersediaan kuliner halal di tempat wisata. Dominannya produk kuliner merupakan pangan siap saji yang diolah langsung sesuai pesanan. Jenis makanan ini banyak yang dikelola oleh UMKM lokal, seperti di restoran, kedai, dan warung makan. Meski ada juga produk pangan olahan yang sudah jadi dan dikemas seperti makanan kering, keripik, manisan kering, dan lainnya.
Saat memilih pangan olahan yang terkemas, status kehalalannya dapat mudah diketahui dari keberadaan logo halal di kemasannya. Khusus di Indonesia sendiri, pemerintah tengah giat membantu produk-produk UMKM untuk mendapatkan sertifikasi halal. Apalagi produk unggulan daerah yang sudah lama dikenal sebagai oleh-oleh khas setempat. Adanya logo halal memudahkan wisatawan dalam memilih produk yang halal.
Sayangnya untuk restoran, kedai, maupun warung makan, belum cukup banyak yang telah tersertifikasi halal. Literasi halal pedagang makanan masih terbatas pada no pork, no lard, dan no alcohol. Jika menemui menemui hal serupa, kita dapat memilih menu lokal yang umum seperti masakan padang, menu sunda, atau menu paket ayam misalnya. Jika memilih menu seafood, sebaiknya dipastikan tidak menggunakan bahan penyedap yang haram seperti angciu.
Terakhir jangan lupa untuk selalu meluruskan niat, jadikan aktivitas traveling sebagai momen untuk quality time dengan keluarga, dan tadabur alam mensyukuri nikmat sehat dan waktu luang untuk menikmati indahnya ciptaan Allah swt.
***
Artikel ini dimuat dalam majalah Halal Review 05/Mei/2024