Menanamkan Halal Lifestyle Pada Anak
Ratty S Leman | Januari 2026
Kepedulian terhadap halal penting ditanamkan kepada anak-anak sejak dini. Selain untuk menumbuhkan kehati-hatian dalam bersikap dan bertindak, juga untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Saat ini telah terjadi perubahan di tengah masyarakat yakni perubahan yang Islami. Ini adalah sebuah kemajuan di mana masyarakat sudah menjadikan kehalalan sebagai sesuatu yang sangat urgen. Halal juga telah menjadi sesuatu yang tren, lewat slogan “Halal is My Way“.
Hal ini sejalan dengan perintah Allah Swt di dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 168 :
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
“Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.”
Munculnya kesadaran akan pentingnya konsumsi makanan yang halal dan thayib, tak lepas dari keberhasilan dakwah para ulama, dai, dan ustadz/ustadzah. Kesadaran tersebut muncul antara lain karena memahami konsekuensi buruk dari konsumsi makanan yang tidak halal. Seperti disebutkan dalam hadis berikut;
“Barang siapa yang dagingnya tumbuh dari makanan haram, maka neraka lebih berhak untuknya.” (HR Turmudzi).
Terlebih mengonsumsi makanan dan minuman haram bermakna bermaksiat kepada Allah, jika dilakukan secara sadar, dan dapat menyebabkan terhalangnya doa serta tertolaknya amalan. Berdasarkan alasan-alasan tersebut halal menjadi faktor utama dalam pembelian dan konsumsi makanan dan minuman. Yaitu dengan menjadikan Halal sebagian bagian dari kehidupan sehari-hari atau halal lifestyle.
Halal lifestyle adalah gaya hidup yang mengedepankan prinsip halal dalam setiap aspek kehidupan, mulai dari makanan, produk yang digunakan, kebiasaan, aktivitas, hingga minat dan ketertarikan.
Halal lifestyle juga dapat diartikan sebagai cara menjalani hidup yang sesuai dengan kaidah halal-haram, sehat, aman, dan higienis. Kewajiban seorang muslim untuk mengonsumsi dan menggunakan segala sesuatu yang dikategorikan halal menurut ajaran Islam. Sekaligus merupakan perwujudan dari identitas seorang muslim.
Halal lifestyle memiliki beberapa manfaat, di antaranya menjaga kesehatan, keamanan, dan kebahagiaan dan menjadi navigator dalam memilih berbagai produk atau jasa, dari makanan minuman, kosmetik, perbankan, hingga perhotelan.
Halal lifestyle menjadi tren dan peluang baru di hampir seluruh belahan dunia. Di Indonesia, halal lifestyle semakin populer karena banyak industri yang menawarkan produk halal, seperti makanan minuman, home care, kosmetik, perbankan, fashion, obat, pariwisata, hospitality, keuangan, dan industri lainnya.
Orang tua yang sadar akan pentingnya kehalalan suatu produk biasanya akan menanamkan sikap yang sama kepada keluarganya. Mereka akan mendidik anak-anaknya agar halal menjadi bagian dan bahkan menyatu dalam kehidupan sehari-hari, atau dengan kata lain menanamkan halal lifestyle pada diri anak-anak mereka.
Dengan tumbuhnya kesadaran akan halal pada diri anak-anak, maka dengan sendirinya mereka akan bertanya dahulu tentang kehalalan produk yang akan mereka konsumsi dan pakai. Hal ini merupakan cerminan dari sikap takwa. Mereka berhati-hati dalam bersikap dan bertindak.
Kita tentu ingin mewujudkan generasi yang beriman dan bertakwa. Maka mengajarkan tentang halal haram suatu produk harus dimulai sejak kecil agar tertanam kuat di dalam pola pikir dan jiwanya. Anak-anak usia mumayyiz yang sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang salah dan mana yang benar yakni sekitar usia 7 tahun bisa kita ajarkan untuk mengenal halal dan haramnya suatu produk.
Namun pengenalan halal haram sedini mungkin. Misalnya di saat anak meminta untuk dibelikan jajanan permen yang ternyata tidak ada logo halalnya, serta kita ketahui ada kandungan zat yang haram, maka kita bisa mendidiknya untuk tidak boleh mengonsumsinya. Mungkin anak akan menangis. Tidak masalah, ini adalah bagian dari pendidikan dan pengajaran anak usia dini.
Berbeda dengan anak di usia mumayyiz yang sudah bisa diajak berpikir dan diajarkan shalat secara sadar. Pengenalan produk yang halal dan haram bisa kita lakukan dengan diskusi. Mengapa ini boleh dan itu tidak boleh.
Terkait pengenalan produk halal dan haram, orang tua dapat mengenalkan logo atau label halal, memperlihatkan gambar produk/barang yang haram, mengenalkan kandungan makanan dan minuman, memberikan contoh yang baik dalam memilih atau membeli produk, atau mengajak anak-anak ke pameran produk halal.
Selamat berjuang mengajarkan dan mendidik anak-anak kita dengan produk yang halal dan haram. Semoga anak-anak yang sholih, cerdas, beriman, dan bertakwa bisa terwujud jika kita peduli dengan halal dan haram produk, bahkan cara membeli dan cara mendapatkan rezeki untuk mengonsumsi berbagai produk. Walkahu a’lam bishawab.
***
Artikel ini dimuat dalam majalah Halal Review 10/Oktober/2024