Seminar Marketing TOP HALAL AWARD 2025
Anang Ghozali | Januari 2026
Tahun ini penyelenggaraan Top Halal Award berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Top Halal Award 2025 diawali dengan seminar half day yang bertema “Building Authentic Halal Brands to Capture the Muslim Market.” Seminar ini menghadirkan seorang pakar branding dan guru besar dari Binus University, yaitu Prof. Amalia Maulana sebagai pembicara utama dan Fachruddin Putra sebagai pembicara kedua. Kedua pembicara ini membedah bagaimana ketulusan dan loyalitas menjadi peran yang sangat penting dalam ekosistem Halal Brand.
Hadir dalam seminar tersebut adalah para profesional yang memiliki background marketing maupun service, akademisi, dan praktisi industri termasuk perusahaan-perusahaan pemenang Top Halal Award.
Pembicara utama, Prof. Amalia Mualana, mengupas tuntas tantangan dan peluang merek Halal di tengah revolusi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) melalui sesinya “Sincere Sells in the AI Era: Crafting Authentic Brands for Muslim Consumers.” Prof. Amalia menekankan bahwa meskipun AI mampu menganalisis data, melakukan personalisasi komunikasi, dan mengidentifikasi tren secara presisi, teknologi tidak dapat mereplikasi niat baik dan etika. “AI mempercepat proses bisnis, tetapi hanya ketulusan yang dapat membuat brand bertahan di hati konsumen,” tegas Prof. Amalia.
Lebih lanjutnya Prof. Amalia mengatakan bahwa Merek Halal harus melampaui sekadar sertifikasi. Mereka harus menunjukkan ‘sincerity’ (ketulusan) dalam setiap rantai nilai, mulai dari sumber bahan baku yang etis, proses produksi yang transparan, hingga komunikasi pemasaran yang jujur. Konsumen muslim mencari merek yang tidak hanya memenuhi syariat, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai moral dan sosial Islam dalam praktik sehari-hari. Otentisitas ini, yang berakar pada integritas, akan selalu mengalahkan sekadar kepintaran algoritma AI.
Pembicara kedua adalah Fachrudin Putra, seorang Marketing & Research Expert dengan pengalaman lebih dari dua dekade. Dalam materinya “The Invisible Strings of Loyalty: What Makes Consumers Stay (or Leave),” Fachrudin menyoroti bahwa di tengah tantangan seperti menurunnya daya beli dan persaingan yang ketat, loyalitas konsumen adalah aset paling berharga. Kunci untuk mempertahankan konsumen adalah ‘Know Your Customers’. Menurut beliau, program loyalitas yang efektif lahir dari pemahaman bahwa setiap segmen punya motivasi, harapan, dan perilaku yang berbeda.
Konsep Authentic Halal Brand

Sementara itu pakar marketing dan juga CEO Inspark, Wahyu T Setyobudi, dalam sesi short seminar di acara penghargaan Top Halal Award 2025 menekankan bahwa memiliki label halal membuka pintu menuju pasar yang lebih luas dan loyal. Namun setelah label halal diperoleh, tantangan berikutnya adalah menjaga kualitas. Brand yang sudah memenuhi standar halal dan menghadirkan produk berkualitas disebut sebagai top halal brand. Tetapi perjalanan tidak berhenti di situ, ada tingkatan yang lebih tinggi yakni menjadi authentic halal brand.
Authentic halal brand bukan hanya brand yang mematuhi regulasi halal, melainkan brand yang secara konsisten dan transparan membangun bisnis berdasarkan nilai-nilai kehalalan. Halal dijadikan DNA perusahaan: mewarnai visi, aspirasi pendiri, cara perusahaan beroperasi, berkomunikasi, hingga memandang pasar.
***
Artikel ini dimuat dalam majalah Halal Review 07/Nov-Des/2026