Bang Anca : Jadikan Halal Sebagai Lifestyle Terkini
Syauqi Ahmad | Januari 2026
Sikap nyata ditunjukkan Anca Syah terhadap misinya menginformasikan prinsip halal bagi industri makanan di Indonesia yang dilakukan melalui platform Instagramnya. Kerja kerasnya membuahkan hasil, Bang Anca, sapaan akrab pria ini masuk dalam 40 figur muslim inspirasi dari akun @halaltrip.
Perkembangan industri kuliner di Indonesia memang bertumbuh sangat tinggi dan cepat. Data dari Badan Pusat Statistik menyebutkan, sepanjang kuartal 1 tahun 2023 saja kenaikan industri ini mencapai 5,33% yang ditandai dengan semakin maraknya gerai-gerai makanan baru yang buka.
Keramaian tersebut tentu perlu dihargai mengingat fakta bahwa pasar Indonesia memang menjanjikan, seksi dan potensial. Tak hanya kuliner dalam negeri saja yang berjaya, beberapa produk makanan dari luar negeri pun juga turut mengalami kesuksesan besar. Animo pasarlah yang membuat usaha-usaha makanan dan minuman tersebut bisa eksis dan bertahan di Indonesia.
Namun, di tengah hiruk pikuknya keragaman industri kuliner tersebut, terkuak satu kekhawatiran bagi konsumen atau pasar yakni terkait aspek halal dari makanan atau minuman yang disajikan oleh restoran. Nah, soal halal inilah yang kemudian menjadi concern tegas bagi Anca yang terus ia kampanyekan melalui laman media sosialnya.
Apalagi Indonesia merupakan salah satu negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Dengan fakta demikian, persoalan halal di Indonesia sudah menjadi hal yang wajib yang tidak boleh diabaikan dan tidak ditaati. “Indonesia adalah negara yang sangat memerhatikan betul soal halal bagi setiap pelaku industri utamanya makanan dan minuman,” ujar Anca kepada Halal Review.
Mengapa halal begitu penting di Indonesia? Anca merinci, pertama karena mayoritas konsumen di Indonesia adalah muslim. Sehingga mau tidak mau halal harus diterapkan di setiap restoran. Kedua, halal ternyata tidak hanya diminati oleh pasar muslim saja. Pasar global pun juga memiliki antusiasme yang sama tingginya dengan pasar muslim terkait produk halal sehingga muncul rasa aman bagi konsumen.
Ketiga, halal sudah menjadi tren yang terbukti membawa banyak maslahat dan kebaikan, baik bagi konsumen maupun para pelaku industrinya sendiri.
Lebih lanjut Anca memaparkan, saat ini ada banyak ragam faktor tentang pertimbangan konsumen muslim dalam membeli produk makanan. Di antaranya terdapat logo halal yang dimiliki oleh restoran. “Dengan terlihat adanya logo halal, konsumen tentu akan menjatuhkan pilihan pada restoran tersebut,” katanya.
Lalu konsumen juga mempertimbangkan hal informasi kandungan makanan secara jelas, sehingga menimbulkan rasa aman dan nyaman ketika dikonsumsi. Termasuk apakah produk yang dibeli memenuhi kebutuhan mereka serta bagaimana dengan kemasannya apakah ramah lingkungan atau tidak.
“Faktor-faktor tersebut seharusnya sudah bisa dipenuhi oleh produsen makanan demi menjaga kepercayaan konsumen,” tegas Anca.
Lebih Dekat dengan Anca
Bagi Anda pecinta kuliner dan kerap berburu makanan-makanan dengan cita rasa autentik seperti makanan Jepang, tentu nama Bang Anca bisa dijadikan salah satu rujukan mendapatkan informasi kehalalan produknya melalui sejumlah postingannya di Instagram.
Cerita itu semua bermula ketika Anca bersama isteri, 11 tahun yang lalu suka berkunjung ke restoran Jepang yang memang menjadi favorit keduanya. “Saya dan isteri 11 tahun yang lalu suka makanan Jepang dan rutin dari satu restoran ke restoran lain,” katanya.
Sampai akhirnya suatu ketika istri Anca harus bedrest saat hamil dan muncul rasa kangen makanan Jepang hingga akhirnya mulai coba buat sendiri. Ia kumpulkan bahan-bahan untuk membuat jenis serupa, ternyata ada beberapa bahan yang tidak halal dalam proses pembuatannya tersebut seperti Mirin dan Sake. Begitu tahu, Anca akhirnya memutuskan stop mengkonsumsi makanan Jepang.
“Dari situ akhirnya muncul titik kritis terhadap makanan dengan bahan non halal dan susah sekali mendapatkan informasi halal kala itu,” kenangnya.
Sadar akan keterbatasan informasi halal yang belum ramai, akhirnya tujuh tahun lalu Anca baru mulai aktif di IG dan postingan awalnya baru sekitar kegiatan travel. Di waktu yang sama, dunia instagram juga tengah booming-boomingnya foodies atau konten makanan. “Sayangnya, orang hanya bilang makanan ini enak, restoran ini enak saja tapi belum ada penggiat kuliner yang fokus ke halal,” sebut Anca.
Anca melihat ada kekurangan informasi yang disampaikan para selebgram tentang halal dan membuat Anca belajar soal halal. Di antara yang Anca pelajari adalah teknologi pangan, bahan makanan/masakan dan fikih tentang halal. “Saya berpikir harus ada orang yang muncul membahas detail ini dengan bahasa yang santai dan diterima melalui sosial media,” bebernya.
Menurut Anca, masalah halal di Indonesia ini orang tahunya bahwa yang non halal ini hanya babi dan turunannya. Padahal sejatinya banyak juga bahan-bahan lain dan turunannya yang non halal pula seperti Mirin, Sake, Rum, Gelatin dan Angsiu misalnya. Masyarakat harus benar-benar mengetahui hal seperti itu dengan tidak ragu bertanya kepada pengelola resto.
“Saya baru melakukan survei bersama teman-teman untuk masyarakat yang tidak tersentuh media sosial hasilnya masih banyak di antara mereka itu bahkan tidak tahu soal pentingnya memerhatikan aspek halal dari sebuah makanan,” ungkit Anca.
Soal kegigihan Anca tentang kampanye halal memang patut diacungi jempol. Aksinya banyak menginspirasi para influencer halal yang akhirnya mendorong pihak restoran menyadari bahwa banyak demand dari konsumen sendiri untuk makanan dan bahan halal. Termasuk ketika namanya disebut-sebut oleh netizen tatkala ia menanyakan kehalalan produk makanan Popcorn dengan merek Garret Popcorn.
“Itu viral banget sampai masuk ke media-media dan saya diserang netizen sampai berpikir mundur aja deh,” kenangnya.
Berkat ikhtiarnya tersebut, Anca mendapatkan penghargaan sebagai 40 Muslim Inspirasi dunia dari Halal Trip. “Saya juga tidak kebayang dapat awarding ini apalagi ini kan skalanya dunia ya,” kata Anca.
Terakhir Anca berpesan agar menjadikan halal sebagai lifestyle dalam kehidupan sehari-hari. “Teman-teman sebagai muslim harus menjalankan syariat tentang halal dan jadikan sebagai lifestyle sehingga menjadi kebutuhan bukan lagi kewajiban” pungkasnya.
***
Artikel ini dimuat dalam majalah Halal Review 07/Juli/2024