Empat Kunci untuk Pengembangan Wisata Halal di Indonesia
Syauqi Ahmad | 18 Februari 2026
Berdasarkan rilis yang GMTI keluarkan pada tahun 2023, melalui indikator Empat Kunci Wisata Halal, tersebutkan bahwa tingkat daya saing Indonesia di sektor pariwisata halal menempati posisi pertama sebagai destinasi wisata halal terbaik dunia, mengalahkan 140 negara lainnya.
Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia untuk menjadi tujuan wisata halal utama di dunia sehingga mau tidak mau, wisata halal Indonesia harus terus berpacu dengan waktu guna menghadirkan segala macam fasilitas terbaik untuk menjalankan wisata halal ini.
Deputi Bidang Industri dan Investasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Ir. Rizky Handayani Mustafa, MBTM mengatakan bahwa sektor wisata masih menjadi salah satu asbab menarik tingginya tingkat kunjungan dan okupasi wisatawan baik lokal maupun mancanegara mengunjungi Indonesia.
Untuk itu, upaya mendorong pariwisata halal dilakukan sangat masif dan gencar sehingga dengan berkembangnya Pariwisata halal di Indonesia diharapkan akan menambah dan meningkatkan target jumlah kunjungan wisatawan secara global.
Rizky menegaskan bahwa dengan potensi yang Indonesia miliki dalam peta persaingan di Industri Pariwisata Halal dunia yang sangat besar, maka target kunjunganpun terhadap wisatawan muslim akan semakin besar pula. Hal ini menjadikan Indonesia menjadi salah satu pemain utama atau tujuan utama dari pergerakan wisatawan muslim.
Lalu, faktor apa saja yang mendukung pengembangan wisata halal di Indonesia? Bagaimana strateginya?

Termasuk bagaimana soal kendala dan peluangnya? Tim redaksi Halal Review berkesempatan berbincang luas dan mewawancarai Deputi Bidang Industri dan Investasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Ir. Rizky Handayani Mustafa, MBTM, di Gedung Merdeka, Jakarta, tengah pekan lalu.
Berikut hasil wawancaranya.
Apa definisi dan konsep wisata halal yang Indonesia Kembangkan?
Sebagai salah satu negara muslim terbesar di dunia, Indonesia menjadi salah satu negara tujuan perjalanan dari wisatawan muslim global, di mana konsep perjalanan wisata yang mempertimbangkan kebutuhan dari traveler muslim antaranya berbagai macam layanan tambahan dalam bentuk amenitas, daya tarik wisata dan aksebilitas yang tersedia oleh dunia usaha, masyarakat dan Pemerintah baik pusat maupun daerah.
Halal Tourism dan Muslim-Friendly Tourism adalah sebuah model atau paket layanan tambahan atau extended services amenitas yang ditunjukkan dan diberikan untuk memenuhi pengalaman dan keinginan wisatawan muslim. Layanan tambahan tersebut meliputi tiga layanan tambahan dasar (extensional service) yakni need to have, good to have, nice to have.
Need to have artinya sebuah destinasi wisata mempunyai fasilitas ibadah yang layak sampai kuliner halal (layanan makanan halal dan fasilitas yang memadai untuk mendirikan Sholat). Good to have adalah memberikan pengalaman berkesan dan berbeda kepada wisatawan (toilet yang ramah bagi muslim dan muslimah). Nice to have adalah wisata halal yang mampu bersaing dengan negara lain (adanya fasilitas rekreasi yang ramah dengan keluarga muslim). Pariwisata Halal tidak hanya wisata religi ataupun berwisata dengan motivasi menikmati budaya Islam semata, namun memiliki makna yang jauh lebih luas sebagai aktivitas pariwisata yang selaras dengan perilaku wisatawan muslim selama melakukan kegiatan wisata.
Apa tujuan pengembangan wisata halal?
Dengan semakin pesat jumlah wisatawan muslim dunia yang melakukan perjalanan wisata maka wisata halal menjadi salah satu opsi yang perlu pengembangan agar dapat menghasilkan kunjungan wisatawan karena Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar dari target market ini karena terdukung oleh keindahan alam, keragaman budaya dan mempunyai populasi muslim terbesar di dunia.
Pengembangan layanan halal tourism dan muslim-friendly tourism untuk mendorong Indonesia menjadi pemimpin dalam pengembangan wisata ramah muslim dunia dengan visi “Indonesia sebagai Destinasi Pariwisata Halal Kelas Dunia”
Industri apa sajakah yang bisa masuk dalam pengembangan wisata halal?
Ada banyak sektor yang bisa masuk dalam pengembangan wisata halal. Di antaranya adalah: Hotel, Restoran, Spa dan Biro Perjalanan Wisata.
Mengutip pernyataan Menteri Agama, Bapak Yaqut Cholil Qoumas “Istilah ‘Halal’ tidak bersifat eksklusif tapi inklusif. Halal bagi muslim, berarti oke juga bagi non muslim”. Dari sini bila terkait dengan industri pariwisata, sangat memungkinkan untuk hampir semua jenis usaha pariwisata dari 13 bidang usaha pariwisata untuk dikembangkan sebagai moslem friendly tourism.
Fokus pengembangan moslem friendly tourism yang Kemenparekraf kerjakan yaitu pada penyediaan layanan kebutuhan wisatawan muslim meliputi halal hotels, halal transport, halal food, halal tour packages dan halal finance.
Bagaimana potensi pengembangan wisata halal di Indonesia?
Berdasarkan Indonesia Muslim Travel Index yang menganalisis, mengevaluasi dan meningkatkan kesiapan Indonesia menerima wisatawan muslim mancanegara dengan fokus tidak hanya pada ketersediaan pilihan halal tetapi pada inklusivitas lingkungan secara keseluruhan bertujuan untuk meningkatkan indeks Daya Saing Destinasi dan Industri.
Indonesia berupaya memanfaatkan peluang besar pariwisata halal sebagai katalisator yang signifikan peningkatan dan sebaran perekonomian Indonesia.
Jadi dengan melihat potensi di seluruh daerah di Indonesia terutama di wilayah yang kuat secara historis terkait perkembangan budaya Islam maka pengembangan wisata halal menjadi sangat terbuka, daerah yang masuk menjadi penilaian pada IMTI seperti NTB, Aceh, Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Riau, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Banten dan Sumatera Selatan.

Dan berdasarkan rilis yang GMTI keluarkan pada tahun 2023, melalui indikator Empat Kunci Wisata Halal, Indonesia menempati posisi pertama sebagai destinasi wisata halal terbaik dunia, mengalahkan 140 negara lainnya. Pencapaian ini menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia untuk terus memperkuat posisinya sebagai tujuan wisata halal utama di dunia.
Faktor apa saja yang mendukung pengembangan wisata halal di Indonesia?
Berdasarkan data Global Muslim Travel Index, akibat pandemi COVID-19, jumlah wisatawan Muslim global pada 2022 mencapai 110 juta orang. Angka ini setara sekitar 68 persen dari total wisatawan Muslim pada 2019.
Hal ini menunjukkan peningkatan yang signifikan selepas pandemi.
Tren pertumbuhan terpekirakan terus berlanjut. Pada 2023, jumlah wisatawan Muslim global mencapai 140 juta orang. Angka ini setara 87 persen dibandingkan tahun 2019. Capaian tersebut semakin memperkuat proses pemulihan sektor pariwisata halal dunia.
Pada 2024, jumlah wisatawan Muslim global terproyeksi mencapai 160 juta orang. Angka ini diperkirakan kembali ke level sebelum pandemi. Kondisi tersebut menandai kebangkitan kembali pasar Muslim travel global.
Dan proyeksi ke depannya pada tahun 2028 terproyeksi akan mencapai angka yang belum pernah terjadi sebelumnya yaitu sekitar 230 juta wisatawan muslim dengan pengeluaran sekitar US$225 miliar.
Dengan potensi ini, Indonesia harus bersiap dan berbenah dalam menata sektor pariwisata halal agar mampu bersaing dengan negara lain. Faktor yang mendukung perkembangan wisata halal di Indonesia, berdasarkan penilaian Indonesia Muslim Travel Index (IMTI). Indikator ini menjadi fondasi utama dalam memperkuat daya saing destinasi.
Ada Empat Kunci Wisata Halal yang perlu ditingkatkan untuk mengembangkan wisata halal dan menarik
lebih banyak pengunjung muslim, hal ini dikenal dengan ACES :
– Access. Akses ke destinasi wisata termasuk faktor-faktor seperti permohonan visa, konektivitas dan ketersediaan transportasi dan infrastrukturnya.
– Communications. Kemampuan komunikasi dan upaya memasarkan destinasi tersebut kepada wisatawan muslim.
– Environment. Kondisi lingkungan di destinasi juga perlu mendapat perhatian serius. Selain faktor keamanan dan iklim yang kondusif, prinsip keberlanjutan menjadi poin penting dalam pengembangan wisata halal.
– Sevices. Layanan dalam ekosistem pariwisata turut menentukan kualitas destinasi. Layanan tersebut mencakup hotel, bandara, serta fasilitas pendukung kebutuhan ibadah. Destinasi juga perlu menghadirkan pengalaman unik yang memberi nilai tambah bagi wisatawan.
Apa saja faktor kendalanya?
Biasanya yang menjadi kendala dalam pengembangan pariwisata halal di Indonesia antara lain:
– Industri Pariwisata belum sepenuhnya mengerti mengenai konsep wisata halal yang coba pemerintah pusat terapkan maupun daerah;
– Penerapan konsep halal dianggap akan mematikan bisnis yang sudah dijalani;
– Industri yang masih enggan mengeluarkan biaya untuk menambah fasilitas penunjang pariwisata halal;
– Minimnya pengetahuan industri-industri pariwisata terhadap pasar aktual dan potensial yang berminat terhadap pariwisata halal.
Bagaimana strategi pemerintah dalam Pengembangannya?
Pertama, menyiapkan Destinasi Pariwisata Halal.
Setiap destinasi prioritas perlu menyediakan amenitas dan layanan ramah wisatawan Muslim. Kebutuhan dasar yang harus terpenuhi meliputi ketersediaan air untuk bersuci, makanan halal, dan fasilitas ibadah yang memadai. Selain itu, perlu persiapan paket wisata serta visitor guide khusus. Pengembangan juga dapat diperkuat melalui strategi branding sebagai destinasi pariwisata halal. Selain perlunya regulasi yang mendukung pengembangan pariwisata halal baik di pusat maupun daerah.
Kedua, melakukan Pemasaran Pariwisata Halal Dalam melakukan pemasaran pariwisata halal bisa dengan mengembangkan 6 aspek seperti; pengembangan pasar sasaran, pengembangan citra, pengembangan strategi pemasaran, pengembangan strategi promosi, pengembangan strategi media, serta pengembangan kemitraan pemasaran.
Yang lebih penting tentunya dalam melakukan pemasaran dengan mengikuti tren terkini yang sedang berkembang di dunia dalam hal pariwisata halal, seperti yang diperlihatkan dalam data GMTI bahwa pada tahun 2023 tren global yang membentuk perjalanan wisatawan muslim adalah:
-Pariwisata berkelanjutan dan ramah lingkungan;
-Wisata Kesehatan dan Kebugaran;
-Perjalanan yang memberikan experience, pengalaman yang otentik;
-Maraknya para pekerja melakukan Work from Anywhere, para wisatawan tersebut akan mencari destinasi yang memungkinkan mereka berlibur sambal bekerja.
Ketiga, menyiapkan Industri Pariwisata Halal. Dalam mengembangkan pariwisata halal penyiapan industri pariwisata yang berkomitmen pada konsep pariwisata halal menjadi sangatlah penting karena kumpulan usaha pariwisata yang saling terkait itu akan menghasilkan barang/jasa bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan muslim.
Keempat, penguatan sinergi kelembagaan yang berkomitmen pada konsep wisata halal serta penguatan dan pengembangan sumber daya manusia. Hal yang penting dalam mengembangkan pariwisata halal adalah adanya sinergi antara lembaga Pemerintah (pusat dan daerah) serta sektor swasta yang berkomitmen memajukan dan mengembangkan pariwisata halal, adanya aturan dan regulasi yang mendukung pengembangan wisata halal akan berpengaruh terhadap suksesnya konsep pariwisata halal yang berjalan.
Pihak mana saja yang harus terlibat?
Pihak pihak yang perlu terlibat dalam pengembangan wisata halal adalah yang berkomitmen dalam memajukan Pariwisata Halal seperti:
– Pemerintah Pusat
– Pemerintah Daerah
– Asosiasi Pariwisata
– Pelaku Usaha
– Komunitas
– Masyarakat
Apa yang menjadi target pemerintah terhadap jumlah kunjungan wisatawan?
Berdasarkan Rencana Strategis Pariwisata Halal Indonesia 2019–2024, target jumlah wisatawan muslim pada tahun 2024 sebanyak 6 juta wisatawan dengan target jumlah pengeluaran wisatawan mancanegara muslim sebesar US$7,6 M dan target pergerakan wisatawan muslim sebanyak 265 juta wisatawan.
Maka dengan berkembangnya pariwisata halal di Indonesia melalui penguatan strategi Empat Kunci Wisata Halal, diharapkan jumlah kunjungan wisatawan global terus meningkat. Potensi besar Indonesia dalam peta persaingan Industri Pariwisata Halal dunia membuka peluang peningkatan signifikan wisatawan Muslim. Implementasi Empat Kunci Wisata Halal ini tercanangkan mampu menjadikan Indonesia sebagai salah satu pemain utama sekaligus tujuan utama pergerakan wisatawan Muslim dunia.
***
Artikel ini termuat dalam majalah Halal Review 05/Mei/2024