Ketika Nilai Mengubah Industri Kosmetik Halal
Anidah | 20 Juli 2026
Di tengah persaingan industri kosmetik halal yang semakin ketat, keamanan, transparansi, dan kepatuhan terhadap standar menjadi fondasi yang tidak lagi dapat ditawar. Namun, bagi banyak konsumen muslim, itu saja tidak lagi cukup. Mereka juga mengharapkan brand yang mencerminkan nilai-nilai yang mereka yakini.
Industri kosmetik halal global bernilai tak kurang dari US$92 miliar pada tahun 2024. Nilai ini tumbuh 5,8% dari US$87 miliar pada tahun 2023, dan diproyeksikan mencapai US$124 miliar pada tahun 2029. Angka tersebut termuat dalam Laporan State of the Global Islamic Economy 2025/26 yang dirilis DinarStandard.
Besarnya nilai pasar tersebut menunjukkan bahwa konsumen muslim bukan hanya target pasar yang menjanjikan, tetapi juga kekuatan yang membentuk arah perkembangan industri kosmetik halal global. Preferensi, ekspektasi, dan nilai yang mereka bawa semakin memengaruhi strategi inovasi, pengembangan produk, hingga komunikasi berbagai merek kosmetik halal dunia.
Dalam beberapa tahun terakhir, dinamika geopolitik global turut memengaruhi perilaku konsumen, termasuk di industri kosmetik halal. Sebagian mereka mulai mempertimbangkan apakah suatu merek memiliki keterkaitan dengan perusahaan atau negara yang berasosiasi dengan negara agresor atau jadi pihak yang mendukung tindakan genosida. Pertimbangan tersebut menjadi salah satu faktor dalam proses evaluasi sebelum melakukan pembelian.
Value-Driven Beauty, Wajah Baru Industri Kosmetik Halal
Dibandingkan beberapa kategori produk lain, kosmetik merupakan produk dengan keterlibatan konsumen (consumer involvement) yang cukup tinggi. Laporan Global Beauty and Personal Care Trends (2023-2025) yang dirilis Mintel, memvalidasi hal tersebut. Menurut perusahaan riset pasar global ini, konsumen produk kecantikan termasuk kategori yang aktif melakukan riset sebelum membeli, yaitu dengan cara membaca ulasan, menelisik kandungan, memverifikasi klaim keberlanjutan, mengecek kesesuaian dengan regulasi (halal, vegan, cruelty-free), hingga keamanan produk.
Kini konsumen kosmetik, khususnya di pasar muslim global juga turut mempertimbangkan kesesuaian nilai brand dengan nilai yang mereka perjuangkan. Melalui ekosistem digital yang semakin berkembang, perbincangan brand kosmetik dan nilai yang didukungnya cukup ramai memenuhi ruang diskusi media sosial. Tak main-main, perbincangan ini telah turut memengaruhi sikap dan persepsi terhadap sebuah produk kecantikan, yang bermuara pada keputusan pembelian.
Keputusan membeli tidak lagi semata didasarkan pada kualitas dan harga, tetapi juga pada kesesuaian antara nilai yang diyakini konsumen dengan nilai yang diperjuangkan oleh sebuah brand. Dengan demikian, setiap transaksi menjadi bentuk dukungan terhadap praktik bisnis yang dianggap lebih bertanggung jawab.
Persepsi inilah yang membentuk psikologis konsumen ketika memutuskan pembelian. Hasilnya tak main-main keputusan pembelian bisa menjadi kekuatan luar biasa ketika muncul secara masif dalam skala yang luas. Atas nama kemanusiaan, gema seruan boikot produk yang terafiliasi negara agresor seperti Israel semakin masif. Efeknya produk yang dianggap berafiliasi dengan Israel menghadapi konsekuensi signifikan di pasar muslim.
Di Indonesia, kecenderungan tersebut turut membuka ruang bagi pertumbuhan merek lokal dan regional. Sejumlah konsumen beralih kepada produk yang dinilai lebih dekat dengan identitas budaya, memenuhi standar halal, serta menunjukkan kepedulian terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan tanggung jawab sosial. Pergeseran preferensi ini sekaligus menjadi momentum bagi industri kosmetik nasional untuk meningkatkan daya saingnya di pasar global.
Halal Beauty, Leading with Purpose
Salah satu nilai yang diperjuangkan konsumen produk kosmetik, adalah tuntutan agar brand ikut berperan dalam pemberdayaan kaum perempuan. Sebagai konsumen utama produk kosmetik, kaum perempuan mengharapkan mereka tak hanya sebagai pengguna, namun dapat bersinergi dengan brand untuk meningkatkan potensi dan kapasitasnya sebagai perempuan.
Dari inisiatif pemberdayaan ekonomi perempuan, hingga beasiswa pendidikan, beberapa brand kebanggaan Indonesia berhasil menunjukkan posisi dan keberpihakannya. Wardah yang menjadi flagship ParagonCorp, memperluas kiprah di tingkat global dengan menjalin kolaborasi bersama Al Mujadilah Women Center, bagian dari Qatar Foundation. Langkah ini merupakan kolaborasi untuk mendorong pengembangan kepemimpinan perempuan melalui nilai-nilai iman, faith-based leadership, pertukaran informasi, pengetahuan, pendidikan, pengembangan kapasitas, dan dampak sosial.
Meminjam tajuk acara, “Leading with Purpose: Women in Faith, Business, and Global Policy”, dari Global Women Leadership Dialogue yang digagas Wardah, semakin mempertegas posisinya sebagai brand yang diperhitungkan di industri kecantikan halal global.
Nama lain yang juga turut memperkuat posisinya sebagai brand kecantikan yang menaruh perhatian pada pemberdayaan perempuan adalah Martha Tilaar Group. Brand kosmetik ini memiliki track record panjang yang telah terbukti dalam pemberdayaan perempuan Indonesia melalui pelatihan yang berdampak pada peningkatan kapasitas ekonomi perempuan. Para gelaran peringatan Hari Ibu di tahun 2025, Martha Tilaar Group melalui Sariayu Martha Tilaar memberikan pembekalan di bidang tata rias kepada perempuan di daerah pesisir Jakarta Utara.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah merek kosmetik tidak hanya akan diukur dari kualitas formulanya, tetapi juga dari kemampuannya membangun kepercayaan, menghadirkan dampak sosial, dan berjalan seiring dengan nilai-nilai yang diyakini konsumennya. Dalam perubahan tersebut, konsumen muslim telah membuktikan diri sebagai salah satu penggerak penting yang membentuk wajah baru industri kosmetik halal global.