Kolesterol di Sistem Pemasaran Kita
Dr. Wahyu T. Setyobudi Peneliti Global Business Marketing Binus Business School | 26 Februari 2026
Setahun sekali, aroma daging akan menguar ke mana-mana. Hari raya Idul Qurban, salah satu ritual penting tahunan bagi umat Islam. Di hari itu, semua berpesta merasakan daging kurban yang walaupun bentuknya sama dengan daging biasa, namun lain dikecap lidah, karena dirasai dengan iman, dirayai dengan takwa. Di fajar Idul Adha, semenjak takbir memecah langit bersama dengan terbitnya matahari, kaya miskin larut dalam kegembiraan. Silaturahmi antar tetangga yang nampaknya mahal di hari biasa, hari ini cair. Bapak-bapak berkhidmat di pos masing-masing, sementara ibu-ibu berbekal pisau dapur seadanya, membantu mencincang daging, memasukkannya dalam plastik, untuk kemudian diantar kepada sahabat-sahabat yang membutuhkan.
Saya sendiri biasanya ikut juga meramaikan acara kurban. Hanya saja untuk konsumsi daging tentu dibatasi sesuai usia. Semenjak menginjak usia empat puluhan, nampaknya perlu lebih bijak memilih makanan yang masuk ke tubuh ini. Bukan rahasia umum, bahwa salah satu zat yang perlu diwaspadai adalah kolesterol. Si lemak yang berada di pembuluh darah ini sejatinya dibutuhkan tubuh dalam jumlah sedikit. Masalah akan timbul jika kadar kolesterol melewati ambang batas. Ia dapat memicu penyakit-penyakit fatalistik lainnya. Berbagai studi telah menunjukkan bahwa kadar kolesterol tinggi akan memicu darah tinggi, jantung, stroke, hingga diabetes, yang merupakan penyakit pembunuh nomor satu di Indonesia.
Dalam tulisan ini, saya tak hendak membahas panjang lebar tentang penyakit. Dalam perspektif manajemen, tidak aneh kiranya, apabila kita menganalogikan organisasi dengan tubuh manusia. Jika manusia yang sehat dicirikan oleh kebugaran, kelincahan dan bertumbuh dengan baik, maka kebugaran organisasi dilihat dari kemampuannya untuk mendulang revenue dan menumbuhkan aset secara berkesinambungan. Pemasaran sebagai ujung tombak, yang bersinggungan dengan pelanggan, tentu memiliki peran yang krusial. Di sinilah, seringkali kita mendapati banyak hambatan, saya menyebutnya kolesterol pemasaran.
Dari berbagai pengalaman, saya mengamati hambatan yang sering ada di pembuluh darah pemasaran kita dapat diringkas dalam akronim KOLESTEROL. Pertama, KO adalah singkatan dari “KOmunikasi antar bagian yang tidak singkron”. Ibarat kapal layar yang mengarungi samudera, tim pemasaran perlu memiliki komunikasi yang sefrekuensi. Ketika layar dikembangkan ke timur, roda kemudi mesti diputar ke barat. Sauh diangkat dan buritan dikosongkan ke kanan atau ke kiri. Kru kapal merupakan satu tubuh yang satu. Tim pemasaran yang tidak mampu berkomunikasi secara efektif cenderung mengalami banyak konflik. Tim seperti ini tidak bisa memfokuskan perhatian kepada pelanggan dan pesaing, malah justru banyak menyelesaikan permasalahan internal yang tidak perlu, sebagai akibat miskomunikasi yang sering terjadi. Untuk mendapatkan sistem pemasaran yang efektif, komunikasi merupakan fondasi utamanya.

Berikutnya “LE” singkatan dari “LEbih mementingkan birokrasi”. Sistem pemasaran modern memang dicirikan dengan matangnya Standar Operation Procedures (SOP). Namun menjalankan SOP yang panjang, dengan banyak pihak terkait, serta kewenangan yang terkadang redundan menjadikan keputusan pemasaran tidak dapat dilakukan dengan cepat dan fleksibel. Organisasi yang mengutamakan birokrasi sering terlambat mengambil tindakan dan pada akhirnya kehilangan kesempatan. Penerapan birokrasi perlu ditimbang dengan kecepatan dan fleksibilitas.
Selanjutnya, S merupakan singkatan dari “Sistem manual yang kurang efektif”. Di jaman digital seperti sekarang ini, sistem manual membuka peluang untuk kesalahan, proses tumpang tindih, dan data yang hilang atau tercecer. Digitalisasi adalah keharusan yang merupakan tuntutan jaman. Megatrend yang tidak dapat dilawan. Oleh karenanya, investasi untuk membangun sistem digital perlu menjadi perhatian utama. Berikutnya, TER merupakan singkatan dari “TERjebak rutinitas, lupa inovasi”. Dalam praktek sehari-hari, target mingguan, bulanan, semesteran dan tahunan seakan-akan menjadi momok yang menghantui para pemasar. Sehingga usaha maksimal ditunjukkan untuk mengejar target. Dalam kondisi ini, inovasi menjadi nomor dua. Padahal, inovasi sangat penting untuk membuat kerja kita smarter, bukan harder.
Akronim O merujuk pada “Online tapi tidak terintegrasi”. Banyak perusahaan memiliki fenomena gagap digital, yaitu ketika tiap unit kerja berinisiatif untuk membuat aplikasinya sendiri. Walhasil dalam perusahaan terdapat banyak aplikasi yang tidak terkait satu sama lain. Data tidak dapat dipadankan, dan biaya maintenance membengkak. Integrasi menjadi kunci. Terakhir, huruf L merupakan singkatan dari “Lemah mental tim pemasaran”. Motivasi adalah segalanya saat kita menghadapi kompetisi. Tak jarang suatu tim lemah dan underdog, mampu mengalahkan raksasa yang diunggulkan, karena motivasi dan semangat juang anggotanya. Oleh karenanya, tim pemasaran perlu memiliki jiwa macan, yang siap bersaing, tidak mudah rontok dan menyerah dihantam tantangan.
Demikianlah beberapa kolesterol, hambatan yang bisa menghambat aliran darah dalam sistem pemasaran kita. Seperti prinsip kesehatan, lebih baik mencegah daripada mengobati. Saya mengajak para manajer untuk memasang radar penginderaan bisnis kita, mewaspadai munculnya kolesterol ini. Salam semangat, bersinergi.
***
Artikel ini dimuat dalam majalah Halal Review 6 Juni 2024