Menggapai Ibadah Kurban Lebih Berkah
Mohamad | 25 Februari 2026
Berbekal pengalaman dalam industri makanan kaleng, Mitra Tani Farm melakukan terobosan baru, dengan mengemas daging hewan kurban dalam kemasan kaleng, sehingga lebih luas dan tahan lama dalam penyalurannnya.
Rumah potong hewan (RPH) dan tempat pemotongan hewan (TPH) kini banjir permintaan penyembelihan hewan kurban setiap Idul Adha. Sebelum RPH dan TPH menjadi pilihan baru masyarakat, biasanya setiap tahun penyembelihan hewan kurban diselenggarakan di masjid dan lapangan tempat shalat Ied, kemudian dagingnya akan dibagi-bagikan kepada fakir miskin, kerabat dan tetangga sekitar.
Pertimbangan masyarakat memilih untuk menyembelih hewan kurban di RPH dan TPH. Lantaran, higienis baik dari sisi fasilitas maupun peralatan yang digunakan untuk penanganan daging karena senantiasa dijaga kebersihannya dan memenuhi persyaratan teknis. Apalagi di RPH dan TPH diberlakukan pemeriksaan kesehatan ternak sebelum dan sesudah disembelih.
Perusahaan peternakan terpadu, Mitra Tani Farm (MT Farm) pun melihat peluang tersebut, dengan menyediakan penjualan hewan kurban dan pengolahannya, serta TPH yang memadai. “Pemotongan hewan di RPH dan TPH dapat menjamin kualitas dan kebersihan daging yang dihasilkan mulai dari proses pemotongan hingga pengolahan. Termasuk jaminan kehalalannya, karena penyembelihan hewan dilakukan oleh Juru Sembelih Halal (Juleha) sesuai tata cara syariat Islam,” kata Budi Susilo Setiawan, Founder CV Mitra Tani Farm (MT Farm).

MT Farm yang dirintis Budi beserta beberapa alumni IPB (Institut Pertanian Bogor) pada tahun 2002 dan dilegalkan tahun 2004, mulanya hanya fokus menjual hewan kurban. Namun, seiring dengan meningkatnya kebutuhan pasar, lini bisnisnya kian berkembang ke bidang peternakan hewan untuk kurban, akikah, dan produk daging olahan yang dikemas dalam kaleng dan kantung plastik tahan panas.

Budi melihat peternakan hewan untuk kurban yang menargetkan pasar individu sudah banyak digarap oleh peternak konvesional yang bermain lebih lama. Sebagai diferensiasi MT Farm lebih memilih berorientasi ke pasar korporasi. Pasalnya, selain berkurban korporasi juga membutuhkan corporate branding. Hal inilah yang coba diwujudkan MT Farm dengan penyematan label korporasi dikemasan daging kurban yang disalurkan ke masyarakat.
“Kami melayani penyembelihan dan penyaluran hewan kurban untuk korporasi mulai tahun 2014. Hewan yang disembelih nantinya disalurkan dalam bentuk daging maupun produk olahan. Daging olahan dalam kemasan MT Farm diproduksi dengan berbagai varian rasa, mulai dari rendang domba, gulai domba, hingga tongseng, kari, dan tengkleng,” sebutnya.
MT Farm ingin mengajak para korporasi untuk menjalankan program smart qurban. Tujuannya menggapai kurban yang lebih berkah, dengan menjangkau penerima kurban lebih jauh dan daging bertahan lebih lama karena diolah dan dikemas dengan teknologi sterilisasi, sehingga bisa bertahan selama 3 tahun meski tanpa bahan pengawet.
Hal ini tentunya sangat berbeda dengan cara kurban konvesional, dimana daging kurban hanya disalurkan kepada penerima yang terdekat dengan orang yang menjalankan ibadah kurban. Selain itu daging kurban yang diterima harus segera dimasak di hari yang sama, mengingat tidak semua penerima memiliki lemari pendingin untuk mengawetkan dagingnya. Ironisnya daging kurban yang disalurkan rentan terkontaminasi bakteri akibat kemasan dan proses distribusi yang tidak steril.
Tidak hanya untuk penyaluran kurban saja, produk daging olahan dalam kemasan yang diproduksi MT Farm juga dapat memanfaatkan para korporasi untuk kebutuhan komersil, CSR perusahaan dan program instansi pemerintah. “Jika permintaan daging olahan dalam kemasan rata-rata hanya 1.300 kemasan per bulan, maka selama Idul Adha permintaan mengalami lonjakan hingga 200 ribu kemasan. Sepanjang tahun 2023 kami menyalurkan 500 ribu kemasan, baik untuk kurban, CSR maupun program pemerintah,” beber Budi.
Selain penyaluran di dalam negeri, daging olahan dalam kemasan juga disalurkan ke luar negeri sesuai permintaan pelanggan, salah satunya Bangladesh. Saat ini sebanyak 70% masih diperuntukkan di dalam negeri dan sebanyak 30% ke luar negeri.
Jadikan Peternak Sejahtera
Hewan ternak yang disembelih dan didapat MT Farm dari peternakan mitranya, yang saat ini memiliki kurang lebih 300 mitra di beberapa daerah di Indonesia. Untuk domba dan kambing, biasa berasal dari peternak di Jawa Barat dan Jawa Timur, sedang sapi diperoleh dari peternak di Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Timur.
Budi mengemukakan, konsep kemitraan yang dijalankan oleh MT Farm adalah dengan model inti-plasma. Sebagai inti, MT Farm memiliki tugas utama sebagai market regulator, system support dan pembinaan. Sementara, plasma memiliki tugas utama melaksanakan produksi secara optimal.
Mitra peternak yang ternaknya berasal dari MT Farm jumlahnya sekitar 10% dari total mitra, sementara untuk mitra yang ternaknya milik sendiri, tapi SOP dan penjualnya dilakukan MT Farm ada sekitar 40%. “Selebihnya 50% hanya menggunakan SOP dari MT Farm. Namun, bila kami ada kebutuhan bisa ambil dari mereka. Kami memiliki visi menjadi peternakan yang mandiri dan sejahtera,” bebernya.
Halal Harus Dibuktikan
Bukan cuma penerapan teknologi untuk menjamin kualitas produksi. MT Farm juga sangat peduli terhadap kehalalan dan keamanan pangan dari daging dan produk olahan yang dihasilkannya, Terbukti dengan perizinan yang dimiliki, meliputi sertifikat halal, BPOM RI MD, HACCP, SKE Pangan serta perijinan lainnya.
Budi menegaskan halal wajib bagi perusahaan dan sudah menjadi bagian penting dari proses produksi di MT Farm, terkait dengan penyembelihan, proses pengolahan hingga produknya sendiri. “Sejak 2015 kami sudah memiliki sertifikat halal karena untuk masuk segmen korporasi, kehalalan produk tidak bisa diklaim sepihak, tapi harus bisa dibuktikan secara tertulis sesuai aturan,” ucapnya.
Dalam penyembelihan, MT Farm menyediakan juru sembelih yang telah tersertifikasi halal, dan tim pemotongan yang berada dalam pembinaan dan bimbingan MT Farm, yang diberi nama Juseset (juru sembelih seset). Sebab selain menyembelih dan menguliti mereka juga harus bisa memisahkan daging dari tulang secepat mungkin.
“Juseset ini berasal dari lingkungan sekitar yang dilatih untuk membantu pemotongan hewan harian. Jika sudah terlatih mereka akan diikutkan untuk mengikuti sertifikasi juru sembelih halal (Juleha),” ungkap Budi.
Demi menjaga konsistensi kehalalan produk, MT Farm juga memiliki penyelia halal yang memiliki kredibilitas kompetensi dalam melaksanakan tugasnya. Penyelia halal ini bertanggung jawab memastikan bahwa seluruh bahan dan proses yang dilakukan memenuhi kriteria jaminan produk halal.
“Kami memiliki satu orang penyelia halal, dan tim manajemen halal yang terdiri dari dua orang, untuk memastikan sistem manajemen yang disusun, diterapkan dan dipelihara untuk menjaga kesinambungan proses produksi halal sesuai dengan ketentuan,” sebut Budi.
***
Artikel ini dimuat dalam majalah Halal Review 06 Juni 2024