Bangun Kepercayaan dengan Sertifikasi Halal
Andika Priyandana | 24 Februari 2026
Grup Sido Agung menetapkan standar dalam industri pangan dengan menghadirkan produk ayam potong berkualitas tinggi yang halal dan higienis.
Grup Sido Agung berawal dari seorang peternak di desa Sidoagung, kecamatan Tempuran, daerah Magelang, di lereng Borobudur, pada tahun 1982. Nama desa tersebut kemudian menjadi nama grup usaha. Dari populasi awal 500 ekor di tahun 1982, kemudian tembus lebih dari satu juta ekor per 1999, telah menunjukkan usaha Grup Sido Agung untuk terus berkembang. Dari yang awalnya hanya peternakan ayam, kemudian semakin terintegrasi dengan merambah pabrik pakan ternak, pembibitan ayam, rumah potong ayam (RPA), dengan bentuk kepemilikan sendiri, hingga kerja sama, dan tersebar nasional dari Sumatera hingga Sulawesi.
Proses Produksi Ayam Potong yang Higienis dan Terkontrol
Grup Sido Agung memastikan bahwa setiap tahap produksi ayam potong dilakukan dengan higienis dan terkontrol. Proses dimulai dengan memastikan bahwa ayam yang dipotong adalah ayam yang sehat. Ayam-ayam yang telah dinyatakan sehat oleh dokter hewan kemudian dikirim ke lokasi pemotongan dan diistirahatkan minimal selama 30 menit untuk mengurangi stres. Setelah itu, ayam memasuki tahap penyembelihan yang dilakukan di Rumah potong ayam yang telah tersertifikasi NKV 1, HACCP serta Halal. Proses penyembelihan diawali proses stunning (pemingsanan), kemudian dilakukan penyembelihan secara manual dengan posisi ayam digantung dalam conveyor dan dilakukan oleh juru sembelih halal yang telah terlatih dan bersertifikat.

Ayam yang telah disembelih kemudian memasuki proses penirisan darah selama 3 menit, dilanjutkan dengan dimasukkan ke dalam air panas, lalu masuk mesin cabut bulu, pengeluaran jeroan (eviscerating), dan terakhir proses pencucian. Asrokh Nawawi, Direktur Bisnis dan Pemasaran Grup Sido Agung, menjelaskan, “Ayam yang telah disembelih lalu masuk ke pencucian dengan desinfektan khusus yang aman, yang tidak membahayakan untuk mencegah supaya bakteri dan virus itu tidak tumbuh.” Setelah tahap pencucian, ayam kemudian direndam dalam bak air dingin dan melalui proses chilling menggunakan screw chiller untuk memastikan pendinginan yang merata.
Proses selanjutnya adalah grading (pengelompokan) berat ayam sebelum dilakukan pengepakan. “Setelah grading, masuk ke pengepakan di ruang bersih. Jadi, antara ruangan bersih dan ruangan kotor ini juga dipisahkan,” tambah Asrokh. Ayam yang telah dibersihkan dan dipak kemudian dibekukan dalam mesin pendingin (blast freezer) dengan suhu hingga minus 48 derajat Celsius selama 8 jam untuk memastikan produk benar-benar beku. Setelah itu, ayam dipindahkan ke ruang penyimpanan berpendingin dengan suhu minus 20 derajat Celsius. Selama proses penyembelihan hingga masuk cold storage, proses ini diawasi ketat oleh QC dan tim halal produk juga secara periodik kita ambil sampel untuk diperiksa di laboratorium untuk memastikan produk tsb aman dari kontaminasi bakteri juga mutu sesuai standar. Distribusi produk juga dilakukan menggunakan mobil dengan ruang berpendingin untuk menjaga kualitas tetap terjaga hingga sampai ke konsumen.
Pentingnya Sertifikasi Halal dalam Meningkatkan Kepercayaan Pasar
Pada tahun 2017, Grup Sido Agung memperoleh sertifikat halal dan Nomor Kontrol Veteriner (NKV), yang merupakan tonggak penting dalam perjalanan perusahaan. Asrokh menjelaskan, “Waktu itu kami nyewa RPA-RPA yang tidak dipakai, kemudian kami operasionalkan. Semua operasional juga pegawai kami semuanya. Itu tahun 2017 kami sudah punya sertifikat halal dan NKV.” Sertifikat halal ini memberikan dampak positif bagi perusahaan, tidak hanya dari sisi kepercayaan konsumen, tetapi juga dalam peningkatan penjualan.
Dengan adanya sertifikat halal, Grup Sido Agung dapat memasuki pasar modern, industri, dan horeka (hotel, restoran, dan kafe) yang mempersyaratkan produk halal. Proses audit oleh calon pembeli juga menjadi bagian penting dalam menjaga standar ini. “Auditor internal kami juga melakukan audit, serta calon buyer kami juga melakukan audit,” kata Asrokh. Audit ini untuk memastikan bahwa semua tahapan produksi sesuai dengan standar halal, memberikan jaminan kepada konsumen bahwa produk yang mereka beli benar-benar halal.

Tantangan dan Manfaat Sertifikasi Halal dalam Bisnis
Sebelum mendapatkan sertifikat halal, Grup Sido Agung mengalami keterbatasan dalam menjangkau pasar yang lebih luas. Namun, pasca mendapatkan sertifikat halal, perusahaan dapat memasuki segmen industri olahan, hotel, restoran, dan kafe berskala nasional maupun internasional. “Begitu kami sudah ada RPA, kami sudah ada sertifikat halal, ini meningkat. Kami bisa masuk ke segmen hotel, restoran, kafe-kafe yang berskala nasional atau internasional,” ujar Asrokh. Sertifikasi halal tidak hanya meningkatkan penjualan, tetapi juga memperkuat pengakuan terhadap jenama.
Namun, mendapatkan sertifikasi halal bukan tanpa tantangan. Ketika mencoba masuk pasar ekspor seperti Singapura, Grup Sido Agung menghadapi tantangan terkait potensi Salmonella dan persaingan harga dengan Brasil dan Malaysia. “Singapura ini sebetulnya yang berat bukan halalnya, tapi potensi atau kekhawatiran mereka atas Salmonella, walaupun sebetulnya produk kita aman dari Salmonella,” ungkap Asrokh. Meskipun demikian, fokus utama perusahaan tetap pada pasar domestik, mengingat potensi konsumsi ayam di Indonesia masih sangat besar.
Strategi Pemasaran dan Edukasi Konsumen
Sertifikat halal digunakan sebagai salah satu strategi utama dalam promosi dan pemasaran produk. Grup Sido Agung menyampaikan kepada calon pelanggan bahwa produk mereka telah bersertifikat halal, memberikan jaminan kualitas dan kepercayaan. “Kami sampaikan bahwa produk kami sudah bersertifikat halal, kami punya tim halal, kami punya tim juru sembelih halal yang memang sudah bersertifikat,” kata Asrokh. Ini memberikan nilai tambah tersendiri dan meningkatkan loyalitas konsumen terhadap produk lokal.
Grup Sido Agung juga fokus pada edukasi konsumen mengenai pentingnya memilih produk halal. “Ini adalah proses edukasi kepada masyarakat kita supaya lebih mencintai produk Indonesia dan produk yang betul-betul halalnya bisa dipertanggungjawabkan,” tambah Asrokh. Edukasi ini penting untuk memperkuat jenama halal lokal dan meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk dalam negeri dibandingkan produk impor.
Dengan strategi pemasaran yang tepat dan komitmen terhadap standar halal, Grup Sido Agung terus berupaya memperluas pasar domestik. Fokus pada pasar lokal Indonesia tidak hanya memberikan keuntungan ekonomi, tetapi juga membantu membangun kepercayaan konsumen terhadap produk halal yang berkualitas. Hal ini menjadi fondasi kuat bagi Grup Sido Agung dalam menghadapi persaingan global di industri pangan yang semakin ketat.
***
Artikel ini dimuat dalam majalah Halal Review 6 Juni 2024